Wanita Ini Disebut Vampir di Kehidupan Nyata, Kenapa Ya?

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 06 September 2018 22:02 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 06 481 1947034 wanita-ini-disebut-vampir-di-kehidupan-nyata-kenapa-ya-sDYpy1I1fe.jpg Julie (VT)

ANDA pasti sudah tidak asing lagi dengan sosok vampir. Vampir memang dikenal sebagai iblis yang kerap membunuh manusia dengan menghisap darahnya. Kepopuleran vampir dalam kehidupan masyarakat memang sangat mencolok, bahkan sebagian orang mempercayai akan adanya sosok vampir.

Tak aneh jika beberapa film kerap menampilkan sosok vampir sebagai predator alami manusia. Namun, apakah sosok vampir memang ada dalam kehidupan nyata? Ya, sosok vampir memang ada kehidupan nyata manusia.

Tapi Anda tidak perlu cemas, vampir di sini bukan berarti mereka menghisap darah atau membunuh manusia. Sosok vampir itu adalah orang-orang yang memiliki kelainan kulit sehingga sangat rentan dengan cahaya matahari.

 Baca juga: Batasi Konsumsi Gula Harian, Ini Anjuran WHO!

Julie (VT)

Kesensitifan kulit mereka terhadap cahaya matahari membuatnya memiliki kebiasaan seperti vampir. Mereka tidak dapat terkena cahaya matahari sama sekali karena akan terasa seperti terbakar. Hal tersebut akan terus terasa meski mereka menggunakan tabir surya untuk melindungi radiasi sinar ultraviolet (UV).

Mereka dipaksa untuk hidup secara nokturnal , atau menutupi seluruh tubuh mereka dengan pakaian agar tidak terkena cahaya matahari. Penulis Julie Rohrdanz, yang berasal dari Marshalltown, Iowa, adalah salah satu orang yang mengalami sindrom vampir.

Ketika ia menjelajah keluar dari rumahnya yang gelap dan teduh, ia harus mengenakan topi bertepi, masker wajah, syal, lengan panjang, sarung tangan dan kacamata hitam, untuk melindungi kulitnya.

 Baca juga: Manfaat Kacang Polong Hitam, Bikin Rambut Kuat hingga Lancarkan Pencernaan

Sebagaimana diberitakan VT, Kamis (6/9/2018), Julie menderita polimorfik, ini merupakan kondisi genetik langka yang menyebabkan kulitnya pecah dan menjadi gatal ketika terkena cahaya matahari. Ibu dan nenek Julie juga dikabarkan menderita polimorfik, meskipun putrinya yang masih muda berhasil terhindar dari penyakit ini.

 Julie (VT)

Julie telah menyadari kondisinya selama sekitar sepuluh tahun, tetapi baru saja didiagnosis secara resmi empat tahun lalu. Pada saat itu, dia bekerja sebagai sales manajer, yang membuatnya sering berkendara setiap hari. Dia memperhatikan bahwa sinar matahari yang bersinar melalui jendela dan kaca depan mobilnya sering memicu reaksi, yang membuat kulitnya gatal dan menjengkelkan.

"Saya benar-benar hanya ingin lebih banyak orang tahu tentang penyakit ini. Orang-orang bercanda dan menyebut saya sebagai vampir. Saya bersumpah saya bukanlah vampir. Ada begitu banyak stigma sosial di sekitar fotosensitivitas, tetapi percayalah, penyakit ini tidak menular,” tegas Julie.

 Baca juga: Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama dengan Bintan, Finalis Miss Tourism Worldwide Ini Ingin Boyong Keluarga!

Ia juga menceritakan apa yang ia rasakan ketika kulitnya terpapar sinar matahari. Ia mengaku merasakan perih yang luar biasa seperti terbakar api. Alhasil ia langsung mengunjungi dokter untuk mendapatkan tindakan medis yang tepat.

“Meski cuaca hanya sedikit cerah, tapi kulit saya terbakar seperti saya berdiri terlalu dekat dengan api. Saat itulah saya menyadari sesuatu itu benar-benar salah. Seperti ibu saya menderita alergi matahari saya cukup yakin Jadi, saya langsung mengunjungi dokter kulit lokal saya. Setelah mendengarkan gejala saya, dia mendiagnosis saya dengan letusan cahaya polimorfik,” lanjutnya.

Ia menambahkan bahwa sinar UVA menembus ke dalam dermis, lapisan kulit paling tebal, sementara sinar UVB biasanya akan membakar lapisan kulit Anda yang paling luar.

 Baca juga: Kota Ini Izinkan Warganya Berhubungan Seks di Tempat Umum, Mau Pindah ke Sana?

“Saya terpengaruh sinar matahari dengan sangat parah sehingga benar-benar tidak dapat bereaksi terhadap cahaya interior. Saya memakai kacamata hitam, selendang, atau lengan panjang, topi dan jaring nelayan di atas wajah saya. Untungnya tidak ada masyarakat yang mengatakan sesuatu yang tidak baik tentang kondisi saya. Ini memungkinkan saya untuk keluar, dan itu adalah hal yang sangat berharga. Saya bertekad untuk tidak melewatkan hidup saya karena penyakit ini,” tuntasnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini