nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menguak Mitos dan Fakta Program Bayi Tabung yang Harus Diketahui Pasutri

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 06 September 2018 20:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 06 481 1947073 menguak-mitos-dan-fakta-program-bayi-tabung-yang-harus-diketahui-pasutri-Gu7tSe72CA.jpg Ilustrasi (Foto: Boldsky)

TIDAK bisa dipungkiri, banyak pasangan yang ingin memiliki anak setelah menikah. Namun tidak semua pasangan beruntung untuk langsung mendapatkan anak. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Maka dari itu, tidak heran sejumlah pasangan memilih menjalani program kehamilan.

Berdasarkan penuturan dr Ivan Riza Sini, SpOG, 1 dari 10 pasangan di dunia memiliki kesulitan untuk mendapatkan keturunan. Menurutnya hal ini bisa diatasi dengan penanganan yang ditangani oleh dokter ahli. Terlebih saat ini pengobatan untuk reproduksi merupakan teknologi yang sudah diterima di dunia. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah menjalani program bayi tabung.

Saat ini program tersebut sudah menjadi pilihan bagi banyak pasangan. Terbukti sudah ribuan anak dilahirkan melalui bayi tabung. Hanya saja memang tidak sedikit masyarakat yang merasa tidak familiar dengan program tersebut. Terlebih ada mitos-mitos yang berkembang di tengah masyarakat.

"Banyak yang bilang bayi tabung itu opsi terakhir. Kenyataannya banyak pasangan yang lebih memilih pengobatan alternatif selama bertahun-tahun sebelum melakukan bayi tabung. Namun di saat tidak kunjung berhasil baru memilih bayi tabung," ungkap dr Ivan saat ditemui Okezone dalam konferensi media "Fertility Science Week", Kamis (6/9/2018).

bayi

Padahal, menurut dr Ivan, bila masalah infertilitas segera ditangani melalui program bayi tabung maka peluang kehamilannya bisa lebih besar. Sebab kualitas sel telur turut dipengaruhi faktor usia. Semakin lama, maka kualitas sel telur semakin tidak baik yang mengurangi peluang hamil.

Mitos selanjutnya adalah proses bayi tabung memakan waktu lama. Hal ini dibantah oleh dokter yang juga CEO of Morula Indonesia. "Prosesnya hanya berlangsung sekitar 2 minggu atau 1 bulan siklus menstruasi. Pasangan tidak harus cuti atau berhenti kerja, bisa tetap aktivitas seperti biasa. Suntik-suntikan hormon juga bisa dilakukan tanpa perlu datang," jelasnya.

Ada pula mitos yang mengatakan bila angka keberhasilan program bayi tabung rendah. Untuk hal ini dr Ivan menjelaskan bila kemungkinan pasangan suami istri mendapatkan anak dengan program bayi tabung meningkat hingga 50% per bulan. Hanya saja hal ini turut dipengaruhi kualitas sel telur calon ibu. Tentu semakin tua usia ibu bisa menurunkan peluang.

Lantas bagaimana dengan mitos yang mengatakan bila program bayi tabung itu mahal? Menurut dr Ivan, sebenarnya kisaran biaya untuk bayi tabung adalah Rp70-80 juta. "Bisa lebih murah kalau pasangan semakin muda, tapi kalau sudah semakin tua bisa lebih mahal. Sebab harus suntik hormon dan segala macam. Suntik itulah yang membuat biayanya semakin besar," paparnya.

Lebih lanjut dr Ivan menegaskan bila kualitas program bayi tabung di Indonesia sudah sama dengan di luar negeri. Dia mengimbau agar masyarakat tidak perlu lagi melakukan program sampai jauh-jauh ke luar negeri. "Itu malah bisa memperbesar biaya karena akomodasi. Standarisasi dari proses di klinik bayi tabung Indonesia sudah diakreditasi secara internasional," pungkasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini