nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Miris! Asian Games 2018 Usai, Atlet Peraih Medali Kembali Jualan Es Teh

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 10 September 2018 14:59 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 10 196 1948556 miris-asian-games-2018-usai-atlet-peraih-medali-kembali-jualan-es-teh-uYVUIX85to.jpeg

PERHELATAN Asian Games 2018 memang sudah berlalu. Namun, euphoria dan kisah-kisah mengharukan dibalik pesta olahraga terbesar se-Asia itu masih terus berlanjut. Salah satunya adalah bonus Asian Games 2018 yang diberikan pemerintah kepada para atlet dan pelatih yang meraih medali.

Tak tanggung-tanggung, peraih emas dari cabang angkat besi Eko Yuli Irawan mengaku mendapat bonus sebesar Rp1,5 miliar yang diberikan langsung oleh Presiden Joko Widodo.

Begitupun dengan cabang olahraga lainnya, seperti atlet peraih perunggu dari cabang "skateboard" sekaligus atlet termuda peraih medali Imas Bunga Cita yang mendapatkan bonus Rp250 juta. Pemberian bonus ini merupakan bentuk apresiasi pemerintah atas usaha dan perjuangan para atlet dalam mengharumkan nama bangsa.

Di saat atlet Indonesia sedang bersuka cita, sebuah kisah menyedihkan datang dari seorang atlet India yang berhasil meraih medali perunggu. Harish Kumar yang mewakili India pada cabang olahraga sepak takraw ini ternyata memiliki latar belakang kehidupan yang cukup memprihatinkan.

Meski berhasil menyumbangkan medali untuk negaranya, Harish memutuskan untuk kembali melanjutkan pekerjaan sehari-harinya sebagai penjual teh di Majnu Ka Tilla, New Delhi.

Disarikan dari IndianExpress, Senin (10/9/20180), Harish terlahir di keluarga kurang mampu. Ayahnya bekerja sebagai sopir becak bermotor, sementara mereka memiliki banyak anggota keluarga yang harus dibiayai.

Harish mengaku menjual teh merupakan salah satu solusi untuk menambah penghasilan keluarga. Harish berjualan dari pagi hingga siang hari, dan menjelang sore ia berangkat menuju tempat latihan.

(Baca Juga: Makna dan Keutamaan dari Bulan Muharram dalam Kalender Hijriah)


"Saya memiliki banyak anggota keluarga, namun penghasilkan kami sangat sedikit. Itulah sebabnya saya membantu ayah di kedai teh untuk menghidupi keluarga saya. Saya mendedikasikan empat jam setiap hari antara jam 2 siang hingga 6 sore untuk latihan. Untuk masa depan saya. Saya ingin mendapat pekerjaan yang lebih baik. Semuanya untuk keluarga saya," kata Harish saat diwawancara ANI.

"Saya mulai menggeluti dunia olahraga sejak 2011. Pelatih saya Hemraj yang membawa saya ke olahraga ini (sepak takraw). Sebelumnya, kami biasa bermain dengan ban sebelum pelatih saya melihat dan memperkenalkan saya kepada Sport Authority of India (SAI). Setelah itu saya mulai menerima bantuan dana dan perlengkapan olahraga setiap bulan. Saya berlatih setiap hari dan akan terus melakukan untuk membawa kemenangan bagi negara saya," tambahnya.

(Baca Juga: 2 Orang Ini Minum Air Kencing Sendiri untuk Turunkan Berat Badan dan Obati Jerawat, Kebenaran atau Kebodohan?)


Ibu Haris, Indira Devi mengatakan, "Saya membesarkan anak-anak saya dengan penuh perjuangan. Ayahnya hanya seorang sopir dan kami memiliki toko teh kecil. Anak saya juga bekerja di toko teh untuk membantu ayahnya. Saya sangat berterima kasih kepada pemerintah yang telah menyediakan makanan dan akomodasi untuk anak saya. Saya sangat berterima kasih kepada pelatihnya, Hemraj yang telah mendukung anak saya untuk mencapai prestasi ini,".

Berbicara tentang masa-masa sulit yang dialami keluarga mereka, saudara laki-laki Harish sempat menceritakan sebuah kisah mengharukan.

(Baca Juga: 11 Selebriti dan Kembarannya yang Unik, dari Orang Terkenal hingga Penjahat)

"Ada saat ketika kami tidak punya untuk membayar uang sewa rumah. Pelatih Hemraj kemudian membawa Harish untuk berlatih dan memasukkan ke stadion. Setelah itu, keluarga kami mendapat bantuan keuangan dan peralatan olahraga dari SAI setiap bulan. Saya juga mendesak pemerintah untuk memberi saudara saya pekerjaan yang lebih layak, agar bisa membantu keluarga kami," ungkap Dhawan.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini