nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Moms, Begini Trik Menghadapi si Kecil yang Suka Melawan

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Senin 10 September 2018 16:17 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 10 196 1948612 moms-begini-trik-menghadapi-si-kecil-yang-suka-melawan-gKfD6Djvxh.jpg Anak Menangis (Foto: Verywell Family)

DI balik wajahnya yang lucu dan menggemaskan, si kecil bisa saja melakukan perlawanan kepada Anda, bahkan sampai mengeluarkan kata-kata kasar.

Kalau sudah begini, ikut larut dalam emosi tentu tidak ada gunanya. Bagaimana menghadapinya? Sebagai orangtua, Anda mungkin pernah berada dalam situasi semacam ini dan hanya bisa terpana mendengar perkataan anak sambil berpikir dari mana dia memungut kata-kata itu. Dalam pandangan psikolog, bentuk kekasaran atau ketidaksopanan anak dewasa ini bahkan muncul dalam usia lebih dini. Setidaknya itulah yang dirasakan psikolog klinis Michael Osit EdD. “Selama empat dekade saya praktik, bibit kekasaran anak muncul pada usia yang semakin dini,” ujarnya, dikutip laman Parents .

Penulis buku Generation Text: Raising Well- Adjusted Kids in a World of Instant Everything ini menyalahkan media dan budaya digital yang ada sekarang. Perlakuan kasar anak boleh jadi cara anak mengatasi stres yang dia rasakan, tetapi bisa juga hanya sebagai bagian dari tahap perkembangannya. Parents advisor Eileen Kennedy-Moore PhD, penulis Smart Parenting for Smart Kids: Nurturing Your Child’s True Potential , membenarkan hal itu. Anak ingin menunjukkan kekuasaannya sejak kecil. “Lihat saja, misalnya bayi melepeh makanan yang tidak disukai atau anak 2 tahun sudah “ahli” bilang tidak. Artinya, mereka menguji seberapa besar bisa mendapatkan keinginannya,” kata Moore.

Baca Juga :

Hal ini bisa jadi membuat frustrasi orang tua, bahkan tidak jarang anak berkata tidak suka dengan Anda atau lebih baik Anda pergi saja. “Sulit untuk tidak memikirkan perkataannya ini, tapi bukan lantas Anda adalah orang tua yang buruk. Mereka hanya tidak suka Anda meminta mereka menaruh mainannya, keluar dari kolam renang, atau menyuruhnya meletakkan gadget yang dia pegang, misalnya,” ungkap Moore. Maka itu, berkata kasar adalah bentuk ekspresi frustrasi mereka dan taktik untuk mendapatkan keinginannya. Developmental psychologist Bronwyn B Charlton PhD mengatakan, orang tua sebaiknya tidak terjebak dengan perkataan kasar tersebut dan malah ikut emosi. Sebaliknya, tatap mata anak dan katakan, “Kamu tahu kan harus ngomong seperti apa dengan Mama/Papa kalau ingin dituruti?” kata Charlton.

Dia melanjutkan, tidak perlu banyak penjelasan atau argumen kepada anak. Setelah berkata demikian, Anda bisa meninggalkan anak. Kalau perlakuannya berlanjut, abaikan saja. Anda juga bisa “berbicara” lewat mata. Dengan begitu, anak sudah cukup tahu bahwa Anda tidak suka dengan perlakuannya. Anak tidak selalu mengerti mengapa perkataan yang mereka lontarkan bisa begitu membekas di hati Anda. Jelaskan bahwa Anda paham mengapa mereka sampai berkata demikian. Cobalah bersimpati dengan perasaannya. “Mama tahu kamu kesal. Tetapi, peraturan di rumah ini kamu boleh marah, tapi tidak boleh kasar.” Anda juga bisa menanyakan alasan mengapa dia sampai berbuat kasar.

Sampaikan dengan nada lembut. Kalau dia merasa didengarkan, dia akan bisa lebih tenang dan mengatakan pikirannya. Lalu katakan, “Kalau kamu ingin didengar, kamu tidak boleh bicara seperti itu.” Hal ini penting karena terkadang omongan kasar keluar ketika anak tidak merasa didengarkan. Tetapi, sebelum meminta anak memperhatikan sikapnya atau memperbaiki perkataannya, coba tengok dulu diri Anda. Apakah anak justru meniru sikap Anda selama ini, mengingat anak adalah peniru ulung.

Jadi, jangan juga salahkan anak kalau dia sampai berkata kasar, bahkan membangkang kepada Anda, karena Anda adalah role model atau teladan bagi buah hati Anda.

(ren)

Berita Terkait

Agregasi Koran Sindo

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini