nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengobatan Paling Efektif untuk Penderita Disfungsi Ereksi

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 10 September 2018 18:39 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 10 481 1948552 pengobatan-paling-efektif-untuk-penderita-disfungsi-ereksi-hThcJrOXY6.jpg Ilustrasi (Foto: Snopes)

DISFUNGSI ereksi (DE) merupakan gangguan seksual yang banyak dikeluhkan. Keluhan ini disebabkan berbagai faktor. Lantas , bagaimana pengobatannya ?

DE adalah ketidak - mampuan untuk ereksi dan mempertahankannya dalam sebuah hubungan seksual. Saat ini DE merupakan gangguan seksual yang paling banyak dikeluhkan setelah ejakulasi dini oleh pria berusia 40-80 tahun di seluruh dunia.

Berdasarkan penelitian The Global Study of Sexual Attitudes and Behaviors (GSSAB) di 29 negara, termasuk Indonesia, jumlah penderita DE terbesar ada di Asia Tenggara (28,1%), diikuti Asia Timur (27,1%) dan Eropa Utara (13,3%). Dr Nugroho Setiawan SpAnd, Dokter Spesialis Andrologi RSUP Fatmawati, mengatakan, DE dapat disebabkan beberapa faktor.

BACA JUGA:

Entah Ingin Bersyukur atau Ketawa, Pistol Perampok Ini Terjatuh hingga Celana Kedodoran!

“Termasuk karena gejala penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes, depresi, dan saluran kemih bawah,” katanya. Juga penyakit ginjal kronis, multiple sclerosis, penyakit peyronie, dan cedera yang berhubungan dengan perawatan terhadap kanker prostat. Penyakit peyronie sendiri adalah gangguan di mana jaringan parut yang disebut plak terbentuk di penis.

Plak terbentuk di jaringan membran tebal dan elastis yang disebut tunika albuginea. Daerah yang paling umum untuk plak adalah bagian atas atau bawah penis. Ketika plak menumpuk, penis akan melengkung atau membengkok yang menyebabkan ereksi terasa sakit.

Penyakit peyronie dimulai dengan peradangan atau pembengkakan yang pada akhirnya dapat menjadi jaringan parut yang mengeras. Selain itu, faktor fisik dan psikologis dapat menyebab - kan DE. Kondisi fisik, seperti kerusakan saraf, arteri, otot polos, dan jaringan ikat di penis, dapat menyebabkan DE. Stres dan masalah hubung an personal adalah beberapa penyebab psikologis yang dapat memicu dan memperburuk DE. “DE juga dapat menjadi efek samping beberapa pengobatan, seperti antihipertensi, antihistamin, antidepresan, penenang, penekan nafsu makan, dan obat-obatan saluran kemih,” kata dr Nugroho.

 

Menurut survei pada 2004 tentang bagaimana masyarakat perkotaan negara-negara di Asia mencari bantuan medis, dari 948 pria dan 992 wanita yang aktif secara seksual dan melaporkan mengalami disfungsi seksual, 45% di antaranya tidak mencari bantuan atau saran dan hanya 21% yang mencari perawatan medis.

Penelitian serupa pada 2011 menegaskan bahwa faktor sosial budaya, agama, dan ekonomi mencegah pasien berkonsultasi dengan dokter. “Komunikasi antara dokter dan pasien memegang kunci penting dalam pengobatan DE,” kata dr Handoko Santoso, Medical Director PT Pfizer Indonesia. Perubahan gaya hidup yang lebih sehat dapat membantu pengobatan DE. Dr Nugroho mengatakan, seorang pria dengan DE disarankan untuk berhenti merokok, mengurangi atau berhenti minum alkohol, berhenti mengonsumsi obatobatan terlarang, dan meningkatkan aktivitas fisik.

Ada beberapa metode yang bisa digunakan untuk mengobati DE. Obat oral adalah yang paling banyak digunakan. “Selama bertahun-tahun, obat-obatan oral telah berhasil mengobati DE bagi kebanyakan pria. Obat ini bekerja dengan relaksasi otot pada pembuluh darah dan meningkatkan aliran darah di penis ketika ada rangsangan seksual,” beber dr Nugroho.

Namun, dia mengingatkan agar pasien tidak mengonsumsi obat DE bersamaan dengan obatobatan yang mengandung nitrat (biasanya terdapat pada obat-obatan jantung). Meskipun obat DE membantu meningkatkan respons terhadap rangsangan seksual, harap diingat bahwa obat-obatan ini tidak memicu ereksi secara langsung.

 BACA JUGA:

Kondisi Pasien Terlihat Membaik Sebelum Meninggal, Kenapa?

Hal-hal penting yang tidak boleh diremehkan dalam pengobatan DE adalah efek dari mengobati sendiri dan bahaya obat-obatan palsu. Orang sering tidak menyadari risiko dan efek di kemudian hari dari tindakan pengobatan sendiri. Sebagian besar obat memiliki efek samping dan kontraindikasi jika dikonsumsi sembarangan atau bersama obat lain. “Jadi, untuk memastikan pengobatan yang tepat, seorang pasien harus selalu berkonsultasi dengan dokter,” kata dr Nugroho.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini