nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengulas Stigma Selaput Dara dan Keperawanan dari Sisi Psikolog

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 13 September 2018 09:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 13 196 1949784 mengulas-stigma-selaput-dara-dan-keperawanan-dari-sisi-psikolog-7IaALNMKqS.jpg Ilustrasi. (Foto: TimesofIndia)

KEPERAWANAN menjadi hal yang sangat dijaga oleh setiap perempuan. Anggapan masyarakat pada kata ‘perawan’ membuat stigma tertentu yang akhirnya membuat masalah baru dari sisi kejiwaan perempuan.

Psikolog Klinis, Inez Kristanti, menjelaskan bahwa budaya Indonesia masih menitikberatkan pada keperawanan. Akibatnya, hal ini bisa menjadi problem ketika si perempuan ingin memulai hidup baru.

"Problemnya apa? Ketika si perempuan ini sudah terbukti tidak perawan, yang kita tidak tahu karena apa, bisa karena sama-sama diinginkan atau bisa juga dipaksa, orang bisa kontak seksual sebelum menikah itu macam-macam," kata Inez.

Baca Juga: 10 Pertanyaan dan Jawaban di Q&A Raden Rauf yang Paling Menohok Tapi Bikin Ngakak

"Yang sering saya temukan adalah jadinya dia bertahan di hubungan yang tidak sehat dengan pacarnya, mau dipukulin, diselingkuhin, dibohongin berkali-kali tapi tetap bertahan. Karena apa? Dia ambil keperawanan saya,” papar dia.

Dia melanjutkan, stigma masyarakat yang terbentuk memberi kesan keperawanan adalah sesuatu yang sangat berharga, sehingga lahir kesimpulan jika tidak perawan maka seorang perempuan sudah tidak berharga lagi.

“Nah, itu pesan yang kurang konstruktif pada anak perempuan, karena mereka jadi merasa keberhargaannya hanya dari keperawanan saja. Padahal, sebenarnya mereka sebagai perempuan bisa berkarya. Kalau mereka sudah tidak perawan lagi, karena pernah berhubungan seksual pun (perempuan) masih jadi orang yang utuh, dan bisa mulai membuat hidup baru,” jelasnya.

Menurut pengalaman Inez, seringkali mereka yang tidak perawan merasa tidak bisa menikah lagi, orangtua marah, dan ketakutan untuk tidak diterima lagi. Padahal, jika ditelaah dari berbagai fungsi dan sisi, seperti dari sisi medis, selaput dara yang robek tidak ada pengaruhnya dan fungsi seksualnya tetap.

Baca Juga: Kucing Peluk HP karena Kangen sama Majikan yang Sudah Meninggal, Videonya Bikin Haru!

"Makanya kalau buat saya pesan-pesan 'kamu tidak berharga kalau sudah tidak perawan'mereka yang berpikir seperti itu tidak tahu bahwa ada cara berpikir lain, yang mereka tahu ‘jika sudah tidak perawan habislah saya’,” kata Inez.

Inez melanjutkan, perempuan yang telah melakukan hubungan seksual yang dia tidak inginkan dan menyesali dampaknya, pada akhirnya akan membebani psikologisnya berkepanjangan. Padahal, bagi Inez perempuan yang sudah kehilangan keperawanannya mesti memiliki cara berpikir lain.

Menurut dia, tidak semua laki-laki mempermasalahkan keperawanan, terlebih yang menyayangi dan menerima apa adanya. "Laki-laki yang sayang sama kamu seharusnya tidak mempermasalahkan hal tersebut, dia bisa menerima kamu apa adanya, itu yang tidak ada di pikiran mereka," kata dia.

"Lagi pula selaput dara orang elastisitasnya berbeda, ada yang sudah berhubungan seksual lima kali belum berdarah, jadi ya kalau kita mau cek dia perawan dari selaput dara ya tidak akurat,” ujarnya.

Selain itu, Inez juga meminta masyarakat memahami, karena setiap orang memiliki masa lalu atau keputusan yang mereka anggap benar pada saat itu. Ditambah, nilai-nilai yang dianut tiap orang pun berbeda.

Dari situ, Inez merasa bisa membuka mata masyarakat, orang-orang yang tidak perawan dalam tanda kutip bukan berarti menjadi lebih buruk. Karenanya selaput dara bukan indikator tepat untuk mengukur keperawanan perempuan, terlepas pernah berhubungan seks atau tidak, keberhargaan sebagai manusia pun tidak terpengaruh.

“Dialog yang pertama kali kita mulai 'mengapa sih selaput dara penting banget? Memang kenapa sih? Itu cuma selaput doang, dan bisa terpengaruh dari banyak hal’. Belum tentu dari hubungan seksual, bisa saja dari olahraga berat, menstrual cup dipikir selaput daranya bisa terpengaruh tidak? Terpengaruh! Dari awal juga selaput dara bukan indikator tepat untuk keperawanan,” tukas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini