100 Anak di Riau Cacat Akibat Sindrom Rubella Akut, Waspadai Dampak Tak Vaksin MR

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 13 September 2018 14:02 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 13 481 1949910 100-anak-di-riau-cacat-akibat-sindrom-rubella-akut-waspadai-dampak-tak-vaksin-mr-eW31vszhB1.jpg Ilustrasi (Foto: Vancitybuzz)

SINDROM rubella akut salah satu penyakit fatal yang terjadi akibat anak tidak diimunisasi dengan vaksin MR (measles rubella). Contoh kasusnya sekira 100 anak di Riau mengalami dampak itu dan mereka hidup dalam kondisi cacat.

Baru-baru ini, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Nazir menyebutkan, sekira lebih dari 100 anak di beberapa kabupaten/kota di Riau mengalami sindrom rubella akut. Jelas ini sangat memprihatinkan, apalagi di tengah momen pelaksanaan program vaksin MR fase 2 yang diadakan oleh pemerintah pusat.

Mimi mengatakan, pelaksanaan vaksin MR untuk bayi 9 bulan hingga anak 15 tahun terkendala di sana. Banyak orangtua yang memilih menunda pemberian vaksin karena alasan tertentu.

"Masih ada pemerintah daerah seperti di Dumai, Indragiri Hilir dan Pekanbaru, masih menunda pelaksanaan kegiatan imunisasi MR," ujar dia, baru-baru ini.

vaksinasi rubella

(Foto: Dok.Okezone)

Mimi menyebutkan, hingga awal September pencapaian imunisasi MR baru 18,47% dari target 1.955 juta anak. Padahal pemerintah daerah menargetkan pencapaian cakupan pemberian vaksin MR bisa 95%, dari seluruh anak yang menjadi sasaran imunisasi. Namun, karena adanya pro dan kontra kehalalan vaksin MR, masyarakat ragu-ragu untuk imunisasi.

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI dr Anung Sugihantono, MKes, membenarkan adanya kejadian tersebut. Dia mengatakan, sempat menerima laporan kasus penyakit sindrom rubella akut itu dari beberapa rumah sakit di Provinsi Riau.

"Iya ada, tapi laporan rutin tidak ada, hanya berupa laporan pelayanan dari beberapa rumah sakit. Ini juga bukan kejadian baru," ujar Anung saat dihubungi Okezone, Kamis (13/9/2018).

Anak-anak yang terlanjur kena sindrom rubella akut, tambah Anung, akan diobservasi dan dikoreksi secara parsial. Cara ini dilakukan supaya beberapa fungsi tubuhnya bisa dioptimalkan.

Sebab, anak-anak bisa hidup dengan kecacatan yang menurunkan kualitas hidupnya, serta masa depannya terganggu. Hal ini sangat disayangkan oleh pemerintah dan diharap kejadian serupa tidak terjadi di provinsi lainnya.

Lebih lanjut, terang Anung sindrom rubella kongenital (CRS) adalah kondisi yang terjadi pada bayi saat berkembang di dalam rahim ibunya, namun terinfeksi virus rubella. Penyakit ini dapat mempengaruhi hampir semua organ tubuh bayi yang sedang berkembang.

"Wanita hamil yang terkena rubella berisiko keguguran atau lahir mati. Bayi mereka yang sedang berkembang juga berisiko mengalami cacat lahir, yang berat dengan konsekuensi yang menghancurkan dan seumur hidup," jelasnya.

Cacat lahir paling umum dari sindrom rubella akut ini meliputi tuli, katarak, cacat jantung, cacat intelektual, kerusakan hati dan limpa, berat badan lahir rendah, hingga mengalami ruam kulit saat lahir.

Anung mengimbau masyarakat agar mengikuti program vaksin MR fase dua, khususnya bagi masyarakat di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. Pemberian vaksin MR itu dilaksanakan hingga akhir September 2018.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini