nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Bahaya Malaria Mix, Penyakit Mematikan yang Terjadi di Papua

Edy Siswanto, Jurnalis · Kamis 13 September 2018 20:43 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 13 481 1950151 mengenal-bahaya-malaria-mix-penyakit-mematikan-yang-terjadi-di-papua-D9gsoehnv1.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PERNAHKAH Anda mendengar Malaria Mix? Dari namanya, malaria adalah penyakit yang menyebar melalui gigitan nyamuk yang sudah terinfeksi parasit.

Infeksi malaria bisa terjadi hanya dengan satu gigitan nyamuk. Diawali panas tinggi, kejang-kejang bahkan jika tidak ditangani dengan benar, penyakit ini bisa menyebabkan kematian. Sementara Mix adalah kombinasi antar dua jenis virus malaria dalam tubuh seorang pasien, baik malaria Tropika maupun Tertiana sama-sama dijangkitkan oleh nyamuk Anopheles Betina. Hal yang membedakan adalah parasit plasmodium falciparum pada malaria Tropika, sementara malaria tertiana disebabkan oleh plasmodium vivax.

Malaria mix ditengarai sudah tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Papua. Malaria akan mulai muncul dan dirasakan penderitanya setelah 10-15 hari digigit nyamuk tersebut.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Aids, TB dan Malaria Dinkes Kesehatan Provinsi Papua, dr. Berry Wopari menyebut ada tiga faktor utama maraknya penderita Malaria di Papua, yakni nyamuk dewasa, jentik nyamuk dan plasmodium atau bibit penyakitnya. Dari ketiga faktor tersebut, lingkungan sangat memengaruhi tumbuh kembangnya bibit malaria.

 (Baca Juga:Kisah Natasha, Gadis 20 Tahun yang Meninggal Akibat Abaikan Penyakit Diabetes)

"Lingkungan berpengaruh besar pada derajat kesehatan seseorang, dan adanya malaria salah satu faktornya itu, lingkungan yang potensial menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk. Sementara malaria mix, ini bisa terjadi juga karena lingkungannya kemungkinan besar ada dua jenis nyamuk di satu lokasi," kata dr. Berry Wopari, Kamis (13/9/2018).

 

Kedua jenis malaria ini baik Tropika maupun Tertiana sama bahayanya. Malaria Tropika sifatnya akut, hanya tidak memiliki sifat kambuhan. Sementara Tertiana sifatnya tidak akut, namun akan kambuhan. Sedangkan Malaria mix adalah malaria yang kedua ciri malaria tersebut campur di satu tubuh penderita.

Malaria mix adalah malaria yang kedua ciri malaria tersebut campur disatu tubuh penderita. Beberapa kasus diperbatasan negara Indonesia-Papua Nugini bahkan penderita yang merupakan anggota Satgas Pengamanan Perbatasan harus meregang nyawa.

Malaria Tropika sangat berbahaya karena bisa menyebabkan penyumbatan pada pembuluh darah Kapiler. Jika menyerang ke otak maka suplai darah ke otak akan terganggu, dan akibatnya bisa disebut Malaria Otak. Sementara jika menyerang sel pembuluh darah, maka bisa menyerang ke ginjal, dan bisa berakibat fatal mengakibatkan gagal ginjal dan bisa meninggal dunia.

 (Baca Juga:Kasus Penyakit GERD Terus Meningkat di Indonesia, Duduki 10 Besar!)

Sedangkan Malaria Tertiana berbahaya karena bisa mengakibatkan Animea kronis. Ini terjadi jika diderita penderita pada waktu yang lama. Kondisi ini tentu sangat tidak baik jika diderita oleh ibu hamil karena mengganggu tumbuh kembang janin.

 

Untuk pengobatan, kedua malaria ini membutuhkan penanganan berbeda. Dokter Berry menjelaskan perbedaan terdapat pada dosis Obat Anti Malaria (OAM) yang diberikan. Obat malaria ini kombinasi dari Dihidroartemisinin dan Piperakuin (DHP).

"Yang membedakan adalah pada obat Piperakuin. Tropika diberi hanya sekali saja disesuaikan dengan berat badan pasien. Sementara Tertiana diberikan selama 14 hari. Dosis sesuai berat badan pasien," kata Berry.

Malaria baik Tropika, Tertiana atau mix sekalipun jika penanganan bisa cepat dan tepat, maka malaria akan bisa disembuhkan. Pihak Satgas TNI Perbatasan RI - PNG Yonif 501 Kostrad malah melakukan uji darah setiap minggunya di 16 pos yang tersebar dari Skow hingga Bewan Baru. Langkah ini untuk antisipasi anggota agar tidak terserang malaria yang akut. Meski diakui Dansatgas Letkol Inf. Chandra hampir seluruh prajuritnya telah terserang malaria.

"Tapi kita pencegahan kuat. Selain vitamin yang dikonsumsi, kita juga lakukan pengecekan darah kepada prajurit. Kalau nampak, maka langsung kita kasih OAM. Ini pencegahan, sehingga anggota tidak sampai demam," ungkapnya.

Sesuai data Kementerian Kesehatan RI pada situasi malaria menurut Kabupaten/Kota di Indonesia tahun 2017, terdapat 10,7 juta penduduk yang tinggal di daerah endemis malaria. Daerah tersebut adalah Papua, Papua Barat dan Nusa Tenggara Timur.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini