nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Promosi Digital, Strategi Baru untuk Menarik Wisatawan ke Danau Toba

Pradita Ananda, Jurnalis · Minggu 16 September 2018 11:24 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 16 406 1951109 promosi-digital-strategi-baru-untuk-menarik-wisatawan-ke-danau-toba-91EQe4tWVZ.jpg Promosi digital untuk tarik wisatawan ke Danau Toba (Foto:Wikipedia)

 

SUKA tidak suka, kita memang sekarang hidup di era digital. Di mana pergerakan arus informasi begitu cepat didapat dan diakses, ditambah dengan kencangnya arus platform media sosial. Baik untuk kalangan dewasa ataupun anak muda, atau sekarang yang akrab disebut kaum milenial.

Sistem di era digital sendiri, hadir bak dua sisi mata uang. Jika tidak digunakan dengan baik dan bijak, sejatinya akan bisa mendatangkan kerugian. Namun jika digunakan dengan tepat dan bijak, salah satunya sebagai “alat promosi” yang efisien dari segi biaya dan waktu maka. Salah satunya sangat bisa dipakai sebagai media platform untuk mempromosikan lokasi wisata.

Menggunakan pendekatan dari sisi digital inilah yang sedang coba diterapkan dalam mempromosikan Danau Toba sebagai destinasi wisata yang menarik. Sebab, nyatanya walau Danau Toba mungkin adalah salah satu tempat wisata klasik dan ikonik di Indonesia, peminat para wisatawan beberapa waktu belakangan ini sedang lesu hingga menjadikan rasanya Spamor akan Danau Toba sebagai destinasi wisata prioritas di Sumatera Utara menurun.

Seperti disebutkan oleh Tata S. Ridwanullah sebagai direktur Badan Otoritas Pariwisata Danau Toba, promosi melalui pendekatan digital ini sedang coba diaplikasikan sebagai salah satu strategi meningkatkan daya tarik wisatawan untuk datang ke Danau Toba, dengan mencoba mencakup pasar anak muda lebih luas lagi.

“Iya di era digital ini, di kita sendiri bersama didukung Kemenpar sih ada yang namanya divisi komunikasi publik. Tugasnya untu membuat sesuatu aplikasi untuk mempromosikan Danau Toba ini. bIni sudah kita mulai namun belum kita launching. Selain itu ada juga ‘Toba Smile’ yakni aplikasi yang bisa digunakan untuk bisa mendapatkan data seputar wisata di sekitar Toba,” jelas Tata saat dijumpai Okezone, Sabtu (15/9/2018) dalam acara “Seminar Misi Penjualan Destinasi Pariwisata Proritas Danau Toba,” di Ciputra World Hotel, Surabaya.

Dijelaskan lebih lanjut, dengan menerapkan promosi via digital sebagai salah satu strategi. Diharapkan ke depannya, pasar anak muda akan bisa dicakup lebih lagi daripada sebelumnya. Terlebih, secara atraksi sudah dikembangkan atraksi wisata yang sangat “kekinian” khas anak muda milenial seperti sekarang.

 

“Banyak sekali tempat-tempat di Danau Toba yang bisa dieksplor oleh kaum muda. Diantaranya, bukit indah di Margarunjung, Niagara Hotel yang walaupun sudah cukup lama berdiri namun sekarang mulai kembali membangun atraksi-atraksi untuk kaum muda. Dari pemerintah kabupatennya, Toba Samosir sudah bergerak. Di danau, dan kita punya juga pantai pasir putih, jadi kita enggak kalah dengan pantai yang lain. Kita sudah tata dan benahi untuk dikelola water spot. Mungkin kita juga bisa akan bikin caravan park, kalau ini bagus dan diminati kenapa tidak menjadi ikon kita di lahan 400 hektar kita tadi dankita harapkan ini akan ditiru oleh pemerintah kabupaten lain yang mempunyai lahan,” imbuh Tata.

Namun, di sisi lain Tata juga tidak menutup mata bahwa ada satu tugas yang masih dirasa menjadi pekerjaan rumah paling berat untuk memajukan sektor wisata di kawasan Danau Toba. “PR” berat tersebut adalah pembangunan masyarakat setempat. Walau dari segi hospitality (keramahan) penduduknya, masyarakat Toba disebutkan Tata sudah mulai membaik. Namun agar lebih optimal pembangunan masyarakat harus ditingkatkan.

“Satu hal yang jadi PR kita di sana itu kebersihan dan hospitality masyarakatnya. Pak menteri _-Arifin Yahya) bilang bangunlah masyarakatnya terlebih dahulu kalau membangun secara fisik itu bukan suatu yang sulit. Masyarakat Toba sudah mulai membaik hospitality nya. Paling berat memang membangun manusia, maka itu kita dibantu oleh Kemenpar ada deputi industri dan kelembagaan di situ lah nanti bagaimana membentuk kelompok-kelompok penjual wisata, dan mengedukasi masyarakat setempat,” tutup Tata.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini