nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspada Dampak Merkuri pada Ibu Hamil karena Sulit Diatasi

Tiara Putri, Jurnalis · Minggu 16 September 2018 12:44 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 16 481 1951126 waspada-dampak-merkuri-pada-ibu-hamil-karena-sulit-diatasi-11v9Jfcruq.jpg Dampak buruk merkuri pada ibu hamil (Foto:Ist)

 

KELAHIRAN seorang bayi bermata satu di Mandailing Natal, Sumatera Utara cukup menjadi perhatian masyarakat. Kasus ini memang tergolong langka dan hingga saat ini hanya terjadi tujuh kali di dunia. Lantas apa yang menyebabkan kondisi tersebut bisa terjadi?

Menurut spesialis anak DR Dr Setyo Handryastuti, SpA(K), bayi bermata satu dikenal dalam dunia medis dengan istilah Cyclops. Kondisi ini merupakan bentuk ekstrim dari holoprosensefali yaitu gangguan perkembangan otak pada masa 3 bulan atau trimester pertama kehamilan. Dampak yang bisa terjadi adalah gangguan pembentukan struktur wajah antara lain mata, hidung, dan telinga serta gangguan perkembangan otak dimana pembentukan otak kanan dan kiri menjadi terganggu, otak hanya terisi ventrikel, dan sedikit jaringan otak yang terbentuk.

Gangguan ini bisa disebabkan oleh banyak faktor seperti gangguan nutrisi ibu, faktor genetik, lead (timah), infeksi Toksoplasma, rubella, CMV, herpes, dan virus-virus lain, serta merkuri. Sebelumnya diberitakan ada kemungkinan bayi berinisial S itu terpapar merkuri mengingat ayahnya bekerja sebagai penambang. Namun hal ini dibantah oleh dr Handryastuti.

"Paparan merkuri pada ayah tidak akan menyebabkan kejadian tersebut. Tapi kalau ibu makan atau minum sesuatu yg terpapar merkuri dalam waktu cukup lama bisa (menyebabkan gangguan perkembangan otak). Misalnya ikan dan air minum yg tercemar merkuri," ungkap dokter yang merupakan Staff Divisi Neurologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM itu saat dihubungi Okezone melalui pesan singkat Sabtu (15/9/2018).

 

Dijelaskan oleh dr Handryastuti, paparan merkuri pada janin yang dikandung ibu bisa menyebabkan gangguan perkembangan otak dalam berbagai bentuk. Jika bayi bertahan hidup maka bisa mengalami gangguan perkembangan, disabilitas intelektual, epilepsi, ganggun perilaku, dan gangguan tulang. Untuk kasus bayi S, dirinya hanya mampu bertahan selama 3 hari.

Lebih lanjut dr Handryastuti menyatakan bila dampak paparan merkuri sulit diatasi. "Jika terkena pada janin yang dikandung ibu dan menyebabkan gangguan perkembangan otak tidak ada yg bisa dilakukan. Anak perlu dipantau pertumbuhan dann perkembangan secara lebih ketat. Sedangkan kalau terkena pada masa bayi dan anak dan terdeteksi kadar merkuri yang tinggi dalam darah dapat dilakukan detoksifikasi. Tapi kerusakan yang sudah terlanjur terjadi sulit diperbaiki," pungkasnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini