KLB Malaria di Lombok Barat, Sudah 128 Korban Berjatuhan

Antara, Jurnalis · Senin 17 September 2018 15:15 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 17 481 1951596 klb-malaria-di-lombok-barat-sudah-128-korban-berjatuhan-8q7TpYP4aO.jpg Ilustrasi Malaria (Foto: Greenapple)

PASCA gempa, musibah terus mendera warga Lombok Barat. Kali ini berupa serangan nyamuk malaria yang sudah menelan korban 128 orang. Status Kejadian Luar Biasa (KLB) pun disematkan dan penanganan serius dilakukan.

Kepala Subdirektorat Malaria Kementerian Kesehatan, Nancy Dian Anggraeni mengatakan pihaknya telah menaburkan larvasida di danau dan sumber-sumber air di Lombok untuk mencegah penyebaran penyakit malaria.

"Larvasida untuk mematikan larva agar mereka tidak tumbuh dewasa menjadi nyamuk dan dapat membawa parasit malaria," kata Nancy dalam jumpa pers seusai rapat koordinasi di Kementerian Koordinasi Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Jakarta, Senin (17/9/2018).

Dia mengatakan parasit malaria disebarkan oleh nyamuk anopheles. Nyamuk anopheles berkembang biak di wilayah rawa dan danau, serta larvanya tumbuh di dalam air.

Menurut Nancy, air tetap aman dikonsumsi manusia meskipun sudah ditaburi larvasida. Namun, dia menyarankan masyarakat Lombok untuk tetap mengonsumsi air bersih untuk mencegah penyakit.

Pemerintah Kabupaten Lombok Barat telah menetapkan kejadian luar biasa(KLB) malaria, khusus untuk Kecamatan Gunung Sari. Nancy mengatakan, setelah ada laporan kejadian malaria, Dinas Kesehatan lombok telah melakukan penyelidikan. "Ditemukan genangan air dan sungai-sungai di permukiman penduduk yang terdapat nyamuk anopheles," jelasnya.

Dari survei yang dilakukan Dinas Kesehatan Lombok, terdapat 110 orang yang positif malaria, selain 18 orang yang datang sendiri ke Puskesmas untuk berobat.

Selain malaria, penyakit lain yang perlu diwaspadai masyarakat di wilayah Lombok yang baru saja terkena bencana adalah diare akut, pneumonia, suspek campak, influenza dan suspek flu singapura.

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sigit Priohutomo menegaskan pemerintah telah mengambil langkah menanggapi kasus malaria di Lombok.

"Sejak gempa terjadi pertama kali di Lombok, pemerintah pusat dan daerah sudah menanggapi dan mengantisipasi kemungkinan penularan malaria," kata Sigit.

Apalagi, kata Sigit, Lombok memang merupakan salah satu wilayah endemis malaria. Bantuan logistik yang dikirimkan ke Lombok termasuk untuk mengantisipasi penularan malaria seperti kelambu dan larvasida.

(Baca Juga: Melenggang di New York Fashion Week, Putri Madonna Pamer Kaki Penuh Bulu)

Begitu ditemukan dua kasus malaria di Desa Bukit Tinggi yang masuk wilayah Puskesmas Penimbung, Kecamatan Gunung Sari, Kabupaten Lombok Barat, Dinas Kesehatan setempat segera melakukan survei.

"Hasilnya, selain 18 pasien yang datang sendiri ke puskesmas untuk berobat, terdapat 110 lainnya yang dinyatakan positif malaria," jelasnya.

Kejadian malaria tersebut telah mendorong Pemerintah Kabupaten Lombok Barat untuk menetapkan status kejadian luar biasa, khusus untuk Kecamatan Gunung Sari. "Ditetapkan sebagai kejadian luar biasa karena ada peningkatan kejadian dan kasus bayi yang positif malaria," katanya.

Namun, Sigit menegaskan peningkatan kejadian malaria di Kecamatan Gunung Sari sangat mungkin karena ditemukan melalui survei. Sangat mungkin di wilayah tersebut terjadi malaria karena merupakan salah satu wilayah endemis.

(Baca Juga: Setelah Medsos Ramai dengan #CrazyRichSurabayan, Kini Muncul #CrazyRichBekasians, Dijamin Ngakak!)


(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini