nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Soal Vaksin MR, Ma'ruf Amin: Kalau Tidak Ada yang Halal, Tetap Boleh

Dewi Kania, Jurnalis · Selasa 18 September 2018 20:30 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 09 18 481 1952277 soal-vaksin-mr-ma-ruf-amin-kalau-tidak-ada-yang-halal-tetap-boleh-wzaPhfdOYn.jpg Ilustrasi (Foto: Netmums)

FATWA terkait vaksin MR baru dibuat Majelis Ulama Indonesia (MUI) tahun ini. Sebelumnya, pada tahun 2016, MUI mengeluarkan fatwa terkait hukum imunisasi. Pada fatwa nomor 4 tahun 2016 tertuang isi hukum imunisasi, yang jadi acuan untuk masyarakat.

"Masalah imunisasi MUI sudah mengeluarkan fatwa nomor 4 tahun 2016. Apabila ada bahaya mengancam dan menimbulkan penyakit atau kecacatan yang berkelanjutan, imunisasi hukumnya tidak cuma boleh, tapi wajib," ujar Ketua MUI Ma'ruf Amin saat diskusi Forum Merdeka Barat 9 di Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018).

Ma'ruf menegaskan, imunisasi hukumnya wajib, supaya menghindari bahaya. Termasuk penyakit campak dan rubella, yang bisa menimbulkan kedaruratan seperti wabah. Menurut informasi kesehatan, rubella sangat berbahaya. Kalau generasi muda mengalaminya, bangsa ini jadi lemah, cacat, serta tidak memiliki kompetensi bisa bertahan hidup. Karenanya, hukum imunisasi bukan hanya boleh, tapi wajib

 (Baca Juga:Satu Anak Meninggal Setiap 5 Detik Akibat Sanitasi dan Pelayanan Kesehatan yang Buruk)

"Tapi sayang, Menkes Nila tidak langsung minta proses fatwa vaksin MR dari dua tahun lalu. Tapi baru prosesnya dilakukan pada 2018. Barulah lahir fatwa nomor 33 tahun 2018 tentang penggunaan vaksin MR," bebernya.

 

Karena fatwa terlambat keluar, masyarakat jadi terlambat memahami pentingnya vaksin MR. Meski hukumnya sudah dikeluarkan, tapi masyarakat masih banyak yang enggan vaksin.

"Selama dua tahun ini memang tidak ada fatwa yang menyangkut kehalalan. Sehingga fatwa yang timbul ini bikin masyarakat bingung," tambahnya.

 (Baca Juga:Gara-Gara Terapi Ikan Jari Kaki Wanita Ini Diamputasi, Kok Bisa?)

Vaksin MR, sebut dia, boleh dipergunakan karena keadaannya darurat. Meski haram, tapi MUI membolehkan supaya mencegah timbulnya penyakit.

"Agama ini enak, sempit jadi longgar. Kalau tidak ada yang halal tetap boleh," bebernya.

Soal capaian target masih rendah, MUI pun bakal terjun untuk sosialisasi agar mau mendapat vaksin MR. Upaya pemerintah harus maksimal supaya anak-anak Indonesia dapat vaksin.

"Kami prihatin terhadap capaian vaksin MR ini yang dilaporkan baru mencapai 49%. Maka harus ada upaya maksimal. MUI sudah keluarkan dua fatwa dan siap terjun sosialisasi vaksin campak dan rubella," tegasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini