nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menelisik Tatanan Hidup Suku Batak Lewat Kain Tradisional di Museum Tekstil Jakarta

Annisa Aprilia, Jurnalis · Rabu 19 September 2018 18:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 09 19 194 1952819 menelisik-tatanan-hidup-suku-batak-lewat-kain-tradisional-di-museum-tekstil-jakarta-PMqdeXELNv.jpg Pameran Kain Ulos (foto: April/Okezone)

KAIN ulos biasanya bisa dilihat oleh masyarakat dari suku lain salah satunya ketika suku Batak sedang melangsungkan prosesi upacara adat pernikahan. Namun, ternyata hampir setiap tahapan hidup pada Suku Batak, kain ulos memiliki peranan bahkan hingga menutup mata.

Kali ini, masyarakat yang berada di sekitaran Jakarta Barat bisa melihat dan mempelajari lebih dalam jenis kain ulos dalam setiap tahapan kehidupan masyarakat suku Batak. Dibalut dengan model milenial, pameran Ulos, Hangolun, dan Tondi menjelma tidak sekadar pameran kain tenun tradisional saja, tapi lebih terlihat Instagramable atau apik ketika difoto.

(Baca Juga: Pakai Hijab di Kontes Kecantikan Internasional, Wanita Berdarah Indonesia Ini Curi Perhatian)

Kelahiran

Memasuki pintu utama pada Museum Tekstil yang berada di bilangan Jakarta Barat, para pengunjung disambut oleh bagian kelahiran. Ya, ulos sudah dipakaikan pada bayi, bahkan diberikan pada ibunya jauh sebelum bayi dilahirkan ke bumi.

Lampu warna merah tanpa ada seberkas sinar terang lainnya, menyinari pandangan mata dan membuat ulos nampak memberikan kesan makna mendalam. Pada lantai tertulis, "Annakonhido Hamoraon prinsip bagi Suku Batak, anak adalah kekayaan yang tidak bisa dinilai dengan apapun."

 

Bagian pameran

Pada pameran ulos yang dihelat mulai 20 September 2018 hingga 7 Oktober 2018 mulai pukul 09.00-16.00, ini merupakan koleksi dari Devi Luhur Pandjaitan, istri dari Luhut Pandjaitan, Menteri Koordinator Kemaritiman. Sekira 70 kain ulos dipamerkan dibagi dalam beberapa bagian, di antaranya kelahiran, kehidupan, pernikahan, hingga kematian.

Tiap-tiap ruangan dirancang sesuai dengan tahapan kehidupan manusia. Pada bagian kehidupan misalnya, pengunjung akan melihat perwujudan dari dinamika dalam kehidupan seseorang. Lembar-lembar kain terpampang berwarna-warni menyegarkan mata bersanding dengan potret wajah penenun yang bahagia.

Pameran wujud upaya lestarikan ulos motif tua

Pameran kain ulos bertajuk Ulos, Hangoluan, dan Tondi digelar di Museum Tekstil, Jakarta Barat tersebut, menurut Devi merupakan salah satu bentuk upaya pelestarian. Terlebih saat ini para penenun lebih banyak membuat ulos dengan motif yang terbilang mudah, sehingga motif-motif tua terancam eksistensinya.

"Penenun ulos perlu pendampingan untuk melestarikan motif-motif tua. Sebab, saat ini pembuatan ulos hanya berkejaran pada target jadi kualitas sudah tidak diperhatikan lagi," ungkap Devi dalam sambutannya.

 

Ulos lambang kasih sayang

Tidak banyak masyarakat dari suku lain yang tahu kalau ulos merupakan kain tenun tradisional khas Batak, yang merupakan lambang kasih sayang. Saking dianggap sakralnya, ulos sampai menyatu dalam jiwa dan kehidupan masyarakat Batak.

"Pameran ini diibaratkan serupa buku, pengunjung akan dibawa pada bagian perbagian dari lahir hingga meninggal. Rata-rata umur kain ulos yang dipamerkan berusia di atas 50 tahun," imbuh Devi.

(Baca Juga: Pakai Hijab di Kontes Kecantikan Internasional, Wanita Berdarah Indonesia Ini Curi Perhatian)

Boraspati atau cicak tersembunyi

Tidak sekadar apik dan bermakna dalam, pameran Ulos, Hangoluan, dan Tondi ini pun menyimpan teka-teki. Sebab, di dalam pameran tanpa pengunjung sadari ada cukup banyak boraspati atau cicak.

Boraspati dalam bahasa Batak ini adalah cicak biasa yang menempel pada dinding. Dalam pameran pengunjung bisa melihat boraspati yang menghias muncul berkali-kali.

Bagi masyarakat Batak boraspati memiliki peranan atau arti mendalam, karena boraspati adalah pusat dari filosofi adaptasi dan naluri bertahan hidup yang kuat.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini