nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menghindari Anak dari Serangan Bully, Orangtua di Korea Selatan Menyewa Jasa Bodyguard!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 20 September 2018 10:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 20 196 1953033 menghindari-anak-dari-serangan-bully-orangtua-di-korea-selatan-menyewa-jasa-bodyguard-uubPJVg9Zc.jpg Sewa Jasa Bodyguard (Foto: Huffingtonpost)

TINDAKAN bully sama sekali tidak boleh ditoleransi. Mungin Anda mengira ini bercandaan, tapi bagi para korban, tindakan tersebut bisa memengaruhi mental

Hal ini yang kemudian membuat jasa penyewaan "bodyguard" di Korea Selatan ramai diincar. Pasalnya, tingginya angka bully di negara tersebut membuat orangtua khawatir akan keselamtan nyawa anaknya. Alhasil, peran "bodyguard" di sana sangat penting.

Okezone mengutip informasi ini dari Oddity Central, Kamis (20/9/2018), di mana dijelaskan di sana bahwa "bodyguard" lebih dikenal dengan sebutan "Uncle". Layanan semacam ini cukup mahal biayanya, tapi bagi sebagian orangtua dianggap wajar, demi keselamatan anaknya.

Perlu Anda ketahui, awal bulan ini, media Korea melaporkan bahwa bisnis ini meningkatkan perlindungan anak-anak dari pengganggu. Para "Uncle" ini juga bertugas mengumpulkan bukti bullying dan mengajukan pengaduan resmi ke sekolah atau bahkan menghubungi orang tua di tempat kerja mereka.

Tetapi, di sisi lain, banyak orang Korea Selatan melihat layanan semacam ini dijadikan alat tipu untuk mendapatkan uang semata.

Menurut laporan terbaru surat kabar Korea Selatan, Chosun Ilbo, "Uncle" menjadi populer di seluruh negara Asia. Misalnya, sebuah perusahaan di Yeongdeungpo-gu, Seoul menawarkan layanan ini pada orang tua yang khawatir akan bully.

Lalu, bagaimana cara kerja "Uncle"?

Sedikit informasi, mereka yang berperan sebagai "Uncle" biasanya berusia 30 hingga 40-an di mana wajah mereka dan perawakannya mesti mampu mengintimidasi. Hal ini tentunya berkaitan dengan tugas utama mereka, menjaga anak-anak dari tindakan bully.

Pada umumnya, durasi kerja "Uncle" ini adalah 2 minggu terhitung dari pelunasan uang muka. Nah, "Uncle" akan selalu menjaga si anak baik dari kejauhan mau pun dari jarak yang sangat dekat. "Uncle" juga yang bakal mengantar si anak sampai ke sekolah dan menunggu hingga si anak pulang.

Mau tahu berapa biaya per hari "Uncle"? Di banyak penyedia jasa, biaya yang mesti Anda keluarkan untuk keselamatan anak ini sekitar Rp 6,6 juta per hari!

Kemudian, perusahaan lain di distrik Guro-gu di Seoul menawarkan solusi berbeda untuk menjaga si anak dari bully di sekolah. Perusahaan ini menawarkan "Paket Bukti", di mana para karyawannya akan berusaha sekeras mungkin untuk mengumpulkan bukti kegiatan pengganggu untuk disajikan di hadapan dewan sekolah dalam pengaduan resmi.

Idenya adalah bahwa bukti ini akan membantu para orang tua menuntut solusi yang cepat dan halus untuk masalah ini, tanpa harus menunggu penyelidikan internal yang panjang. Paket ini dilaporkan berbiaya $ 356 atau sekitar Rp 5,3 juta sekali pembuktian.

Mungkin layanan anti-intimidasi yang paling mengesankan dan paling mahal ditawarkan oleh perusahaan di kota Anseong. Paket mereka melibatkan menghubungi orang tua pengganggu di tempat kerja mereka, menunjukkan foto-foto korban anak mereka, dan meminta mereka memastikan bahwa bullying itu tidak lagi terjadi pada si anak. Jika orang tua memilih untuk tidak bekerja sama, "paman" yang disewa akan berdiri di depan tempat kerja mereka atau di lobi perusahaan mereka berteriak "Orang tua pengganggu bekerja di sini".

Perusahaan yang berbasis di Anseong mengakui bahwa orang tua korban dapat menghadapi orang tua pengganggu itu sendiri, tetapi menambahkan bahwa pertemuan tersebut sering mengakibatkan orang tua saling berkelahi. Untuk menghindari kekerasan yang tidak perlu ini, klien dapat membayar 1.780 USD atau sekitar Rp 26,4 juta untuk 4 kunjungan oleh karyawan perusahaan anti-bully.

Banyak orangtua berpendapat bahwa layanan anti-bully seperti itu lebih baik daripada menunggu anak bersekolah. Karena guru, orang tua, pengacara, dan pihak lainnya harus berkoordinasi untuk menghadiri pertemuan sekolah khusus dalam kasus dugaan penindasan, resolusi seringkali memakan waktu terlalu lama.

Pada saat yang sama, beberapa ahli mengklaim bahwa orang tua mengambil tindakan ke tangan mereka sendiri juga tidak ideal.

“Sanksi pribadi hanyalah bentuk lain dari kekerasan. Kekerasan sekolah harus diselesaikan dengan memperbaiki sistem,” kata Kim Yoon Tae, seorang profesor di Korea University.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini