nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cara Bicara Kepada Anak Pengaruhi Niatnya untuk Menolong Orang lain

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 20 September 2018 20:00 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 09 20 196 1953210 cara-bicara-kepada-anak-pengaruhi-niatnya-untuk-menolong-orang-lain-jYm39IaV11.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

SEJAK kecil, seorang anak sudah diajarkan nilai-nilai kehidupan yang baik oleh orangtuanya. Salah satu nilai yang sering diajarkan adalah saling tolong menolong. Entah itu membantu orang yang sedang kesulitan atau turut serta mengerjakan pekerjaan rumah. Namun, untuk mengajarkan nilai ini sebenarnya tidak mudah.

Dalam penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Child Development, perkataan orangtua dapat memengaruhi sikap anak untuk memberi bantuan kepada orang lain. Anak yang diminta untuk menjadi penolong cenderung menghindari tugas atau pekerjaan yang sulit. Sebab mereka dapat merasa tidak mampu dan telah gagal menyelesaikannya.

 (Baca Juga:Menghindari Anak dari Serangan Bully, Orangtua di Korea Selatan Menyewa Jasa Bodyguard!)

Sedangkan anak yang diminta untuk menolong akan jauh lebih tangguh. Hal itu dikarenakan kata-kata meminta bantuan lebih mendorong mereka untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang diberikan. Bahkan jika mereka menemui kesulitan, mereka tetap berusaha menyelesaikannya.

 

"Penelitian baru menunjukkan fitur bahasa yang halus dapat membentuk perilaku anak dengan cara yang sebelumnya tidak dipahami. Secara khusus, menggunakan kata kerja untuk berbicara dengan anak-anak tentang perilaku seperti ‘Anda dapat membantu’ membuatnya lebih terdorong untuk menyelesaikan daripada menggunakan kata benda untuk berbicara tentang identitas seperti 'Anda bisa menjadi penolong',” ungkap penulis senior penelitian Profesor Marjorie Rhodes seperti yang dikutip Okezone dari Independent, Kamis (20/9/2018).

 (Baca Juga: Bahagia Jadi Ibu, Seperti Ini 5 Potret Kedekatan Acha Septriasa dengan Bayinya)

Hasil penelitian yang dilakukan ahli dari dari New York University ini memang bertentangan dengan penelitian sebelumnya yang diterbitkan pada tahun 2014. Dalam penelitian itu dikatakan meminta anak-anak untuk menjadi penolong dapat memotivasi mereka untuk membantu lebih banyak. Namun perbedaan ini juga didasari oleh fokus penelitian.

Pada penelitian terbaru fokusnya adalah kegagalan dan kejadian berikutnya setelah anak mengalami itu. Penelitian menunjukkan anak-anak yang diminta untuk menolong (to help) jauh lebih tangguh setelah kegagalan dibandingkan dengan anak-anak yang diminta menjadi penolong (helpers). Setelah mengalami kegagalan, anak-anak yang diminta untuk menolong akan membantu bahkan dalam situasi yang menantang. Sedang anak-anak yang diminta menjadi penolong hanya akan membantu bila situasinya mudah dan menguntungkan bagi dirinya sendiri.

“Penelitian ini menunjukkan cara berbicara dengan anak-anak tentang tindakan yang bisa mereka lakukan dapat mendorong lebih banyak kegigihan setelah kegagalan daripada berbicara kepada anak-anak tentang identitas yang bisa mereka miliki,” pungkas pemimpin penelitian Emily Foster-Hanson.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini