nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pemanfaatan Buku KIA oleh Ibu dan Tenaga Kesehatan Belum Optimal

Tiara Putri, Jurnalis · Kamis 20 September 2018 16:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 20 481 1953157 pemanfaatan-buku-kia-oleh-ibu-dan-tenaga-kesehatan-belum-optimal-dlPtX0xYOJ.jpg Ibu hamil (Foto: Eatrightontario)

PEMANFAATAN buku kesehatan ibu dan anak (KIA) sudah diterapkan oleh pemerintah melalui Kementerian Kesehatan sejak tahun 2004. Buku ini berfungsi untuk meningkatkan kesehatan ibu dan anak karena berisi informasi kesehatan dan pemantauan pertumbuhan serta perkembangan anak yang meliputi jadwal imunisasi dan gizi seimbang. Informasi tersebut penting untuk diketahui ibu, suami, dan keluarganya.

Saat ini persebaran buku KIA sudah mencapai 94% daerah di Indonesia. Sayangnya meskipun data survei kesehatan nasional (Sirkesnas) 2016 menunjukkan sebanyak 81,5% ibu hamil telah memiliki buku KIA, hanya 60,5% di antaranya yang bisa menunjukkan. Belum lagi hanya 18% buku KIA yang terisi lengkap. Hal ini tentu menjadi perhatian khusus.

(Baca Juga: 10 Transgender Ini Cantiknya Gak Kalah dengan Perempuan Asli, Lihat Saja Sendiri!)

"Cakupan sudah cukup tinggi tetapi belum memuaskan karena kami mengharapkan semua ibu hamil dan ibu balita memiliki KIA. Selain itu, tidak boleh hanya sekadar mengisi catatan data. Ibu juga harus melihat isinya dan dan keluarga paham juga," ungkap Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dr. Kirana Pritasari, MQIH saat ditemui Okezone dalam sebuah acara, belum lama ini di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

 

Dijelaskan oleh dr Kirana untuk memaksimalkan fungsi buku KIA diperlukan penguatan terutama kelengkapan pengisiannya oleh petugas kesehatan, kader, dan orangtua. Pengisian menjadi tantangan yang besar karena membutuhkan kepatuhan dari tenaga medis saat ibu kontrol kesehatan kehamilan atau tumbuh kembang anaknya.

Selain itu juga dibutuhkan kesadaran para ibu (orang tua) untuk menyimpan dan selalu membawa buku KIA saat melakukan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.

“Perlu keterlibatan lintas program terkait pengoptimalan manfaat buku KIA. Petugas kesehatan harus memiliki komitmen dalam penggunaan dan pengisian buku KIA sebagai bentuk pelayanan kesehatan ibu dan anak. Dengan begitu masyarakat juga bisa aktif mencari informasi," ujar dr Kirana.

Walaupun hanya mengisi buku KIA dengan pesan-pesan standar, itu tetap perlu dilakukan oleh petugas kesehatan karena dampaknya besar. Oleh karena itu dibutuhkan perubahan cara berpikir untuk memberi informasi kepada masyarakat. Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan, dr Eni Gustina, MPH

"Tenaga kesehatan jangan hanya sekadar memberikan buku KIA namun menjelaskan isi buku dan informasi terkait. Pemberian informasi harus distimulasi oleh tenaga kesehatan dan kader," ucapnya saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

(Baca Juga: Baju-Baju 'Cacat' di London Fashion Week, Salah Satunya Sebabkan Puting Mengintip!)

Hasil analisis data Riskesdas 2013 dan Sirkesnas 2016 menunjukkan terdapat keterkaitan antara kepemilikan buku KIA dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan ibu dan anak. Ibu yang memiliki buku KIA lebih sering melakukan pemeriksaan kehamilan, lebih banyak bersalin dengan pertolongan tenaga kesehatan, dan lebih banyak bersalin di fasilitas kesehatan dibandingkan ibu yang tidak memiliki.

Bayi dari ibu yang memiliki buku KIA juga lebih banyak mendapat imunisasi dasar lengkap. Selain itu, buku ini juga berperan dalam penurunan angka kematian bayi dan balita. Pada akhirnya dapat disimpulkan buku KIA berdampak positif pada perubahan perilaku ibu.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini