nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Fibrilasi Atrium dan Bahayanya

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 20 September 2018 18:15 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 20 481 1953244 mengenal-fibrilasi-atrium-dan-bahayanya-4nxTreMlbf.jpg Gangguan irama jantung (Foto:Ist)

PENYAKIT stroke tidak dipungkiri memang akrab di kalangan masyarakat Indonesia. Tidak jarang kita mendengar, penyakit stroke ini menjadi salah satu penyebab kematian di Indonesia.

Berdasarkan data survey dari Kementerian Kesehatan 2014, disebutkan bahwa sebanyak 21,1 kematian di Indonesia disebabkan oleh stroke dan merupakan penyakit penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Di mana sejak tahun 1990-an angka penderita penyakit ini terus mengalami peningkatan. Di tahun 1990-an, jumlah penderita stroke adalah dua per 1000 penduduk, llau pada RISKESDAS 2007 disebutkan meningkat menjadi 8,3 per 1000 penduduk dan pada RISKESDAS 2013 menjadi 12,1 per 1000 penduduk.

Stroke sendiri bisa disebabkan oleh banyak faktor, sebut saja mulai dari karena mengidap hipertensi selama bertahun-tahun, kolestrol tinggi, adanya riwayat penyakit keluarga, diabetes yang sudah akrab di benak masyarakat sampai yang belum terlalu familiar yakni fibrilasi atrium. Lalu apakah yang dimaksud dengan fibrilasi atrium?

 10 Transgender Ini Cantiknya Gak Kalah dengan Perempuan Asli, Lihat Saja Sendiri!

Sesuai penjelasan dari Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S (K) dan Dr.Daniel Tanubudi, Sp.JP (K) pada paparan hasil studi XANAP, yang dimaksud dengan fibrilasi atrium adalah kelainan irama jantung yang berupa detang jantung tidak regular yang sering dijumpai di populasi dunia termasuk di Indonesia. Penderita fibrilasi atrium memiliki resiko lima kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan orang tanpa fibrilasi atrium.

Lebih lanjut disebutkan, fibrilasi atrium ini menyebabkan terjadinya bekuan darang di jantung yang bila lepas ke sirkulasi sistematik dapat menyebabkan stroke, yang pada akhirnya tak jarang membuat pasien mengalami kelumpuhan. Sebab, kelumpuhan sendiri diketahui merupakan bentuk kecacatan yang sering ditemui pada kasus stroke dengan fibrilasi atrium. Di Indonesia sendiri, sebanyak 37 persen pasien fibrilasi atrium dengan usia kurang dari 75 tahun dengan stroke iskemik menjadi gejala pertama yang didapati.

Dijelaskan oleh Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S (K), pada dasarnya stroke dengan fibrilasi atrium dinilai lebih berbahaya. Mengapa demikian?

"Karena biasanya sumbatan di pembuluh darah otaknya di pembuluh darah yang lebih besar, pembuluh darah dari leher masuk ke otak lalu makin ke ujung kan makin kecil pembulu darahnya. Karena fibrilasi atrium ini sumbatan dari jantung umumnya sumbatannya ukurannya lebih besar sehingga menyumbat pembuluh dasar yang lebih besar, pembuluh darah kecil di sekitarnya enggak dapat aliran juga. Jadi sel otak yang mati lebih banyak dibandingkan jika sumbatannya terjadi di pembuluh darah yang kecil,” jelas Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S (K) saat ditemui Okezone, Kamis (20/9/2018) dalam konferensi pers “Kabar baik bagi pasien Fibrilasi Atrium (FA) di Asia: Hasil Studi XANAP Tunjukkan Penggunaan Rivaroxaban Turunkan Risiko Stroke dan Pendarahan”, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.

 Sempat Eksis 100 Tahun yang Lalu, 8 Perempuan Ini Kecantikannya Tidak Bisa Ditandingi!

Mengingat lokasi penyumbatan terjadi di pembuluh darah otak yang besar inilah, yang kurang lebih menjadi penyebab bisa terjadinya kematian dan kecacatan yang permanen.

Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S (K) menambahkan, dalam hal penanganan stroke termasuk salah satunya stroke yang disebabkan oleh fibrilasi atrium ini yang namanya waktu atau biasa disebut golden periodic itu sangat berperan besar. Semakin cepat tertangani maka semakin baik.

“Untuk penanganan diutamakan life saving, kan kerusakan otak yang luas salah satunya dengan mengurangi tekanan di otak dengan pemberian obat-obatan, rhythm control dan rate control. Dari ini bisa lanjut kita kirim ke ahli bedah saraf untuk dibuka tempurung otaknya,” tandasnya.

(ndr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini