nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Upaya Pengobatan HIV di Indonesia Masih Terhambat Mitos dan Informasi yang Salah

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 20 September 2018 18:23 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 20 481 1953308 upaya-pengobatan-hiv-di-indonesia-masih-terhambat-mitos-dan-informasi-yang-salah-fhnftLdTvY.jpg Ilustrasi (Foto: Time)

SAAT ini, diperkirakan terdapat 640 ribu orang yang hidup dengan HIV di Indonesia. Namun baru sekitar 47% yang mengetahui statusnya, dan hanya sekitar 15% yang berada dalam pengobatan antiretroviral (ARV).

Padahal, jumlah fasilitas kesehatan termasuk Rumah Sakit dan Puskesmas sudah dinilai memumpuni memberikan layanan tes, pengobatan, dan perawatan terkait HIV. Setidaknya sudah ada 5.124 fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) yang tersebar di 34 provinsi, di mana sekitar 641 di antaranya sudah dapat menginisiasi terapi ARV untuk pengobatan HIV.

Menurut penuturan Dr Wiendra Waworuntu, Direktur P2PL Kementerian Kesehatan, HIV bukan lagi penyakit mematikan yang tidak ada obatnya. Jika orang-orang mengetahui status HIVnya sejak dini, maka mereka dapat mengikuti pengobatan ARV yang diberikan secara gratis oleh pemerintah.

“Dengan pengobatan ARV yang konsisten, ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dapat hidup sehat dan berusia panjang, bekerja secara produktif, mengenyam hal atas pendidikan dan beraktivitas,” tutur Dr. Wiendra Waworuntu, dalam Konferensi Pers Jakarta Marathon 2018, di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (20/9/2018).

Lebih lanjut ia mengatakan,tangan terbesar upaya promosi tes dan pengobatan HIV di masyarakat adalah banyaknya mitos dan informasi yang salah mengenai cara-cara pencegahan, penularan, dan pengobatan HIV. Oleh karena itu, sejumlah kampanye yang telah diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan RI seperti #SayaBerani #SayaSehat diharapkan mampu untuk mendobrak mitos yang salah terkait HIV di tengah masyarakat Indonesia.

tes hiv

Kedua kampanye itu dicanangkan untuk mendukung komitmen Indonesia untuk mengakhiri epidemi AIDS pada tahun 2030 dengan mencapai target 90-90-90 yaitu, 90 IDHA mengetahui status HIV-nya, 90% ODHA yang tahu status HIV-nya mengakses pengobatan ARV, serta 90% ODHA yang menjalani pengobatan ARV untuk menekan perkembangan virus di dalam tubuhnya. Hasilnya tentu akan mengurang risiko penularan HIV di masyarakat secara signifikan.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur UNAIDS Indonesia, Krittayawan Boonto meluncurkan sebuah event marathon yang memiliki misi untuk melawan stigma dan diskriminasi terkait HIV dan AIDS. Kegiatan ini dilakukan bersama Rumah Cemara dan Fokus Muda yang rencananya akan berlangsung pada tanggal 28 Oktober mendatang.

Setidaknya ada empat orang pejuang HIV yang akan berlari dalam ajang Jakarta Marathon 2018. Mereka adalah Eva Dewi R dan Tri Eklas Tesa Sampurno perwakilan dari Rumah Cemara, serta Sepi Maulana Adriansyah dan Ade Fikran perwakilan Fokus Muda.

“Partisipasi pelari dalam Jakarta Marathon 2018 diharapkan dapat membuka wawasan masyarakat umum bahwa Orang dengan HIV yang telah mengikuti pengobatan ARV secara konsisten dapat tetap menjalani hidup sehat. Bahkan, mereka dapat berpartisipasi dalam ajang olahraga terkemuka seperti Jakarta Marathon. Mereka juga akan melakukan Run For Charity terkait isu HIV,” tutur Krittayawan Boonto.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini