Tak Cuma Lanjut Usia, Stroke Juga Bisa Menyerang Anak Muda

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 20 September 2018 21:03 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 20 481 1953327 tak-cuma-lanjut-usia-stroke-juga-bisa-menyerang-anak-muda-cEQ3rKekwZ.jpg Ilustrasi stroke (Foto: Docpro)

TAHUKAH Anda bahwa penyakit stroke menjadi salah satu momok paling menakutkan untuk orang Indonesia pada umumnya? Pasalnya, penyakit stroke disebutkan menyabet gelar sebagai salah satu penyebab kematian di Indonesia.

Berdasarkan data survey dari Kementerian Kesehatan 2014, disebutkan bawah sebanyak 21,1 kematian di Indonesia disebabkan oleh stroke dan merupakan penyakit penyebab kematian nomor satu di Indonesia.

Penyakit stroke sendiri, diketahui memiliki multifaktor penyebab. Mulai dari adanya hipertensi yang merusak pembuluh darah membuat pembuluh darah menyempit, lalu level kolestrol tinggi, mengidap diabetes, hingga adanya garis riwayat keluarga.

BACA JUGA:

 10 Transgender Ini Cantiknya Gak Kalah dengan Perempuan Asli, Lihat Saja Sendiri!

Mendengar kata penyakit stroke, sebagian besar yang melekat di benak masyarakat awam adalah penyakit yang diderita oleh orang-orang lanjut usia alias orang-orang yang sudah tua.

Eits! Mulai dari sekarang, anggapan ini nyatanya tidaklah lagi berlaku. Seperti penuturan dari Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S (K), penyakit stroke juga bisa menyerang anak-anak milenial di rentang usia produktif loh!

 

“Sekarang trennya terjadi di usia muda juga makin banyak, penderita di usia 20’an. Bahkan saya pernah punya ada pasien yang berusia baru 18 tahun, tapi kalau itu biasanya memang ada kelainan bawaan pembuluh darah di otak. Kalau yang usia 30-40 itu sebagian besar diakibatkan ya karena gaya hidup yang dijalani,” ungkap Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S (K) saat ditemui Okezone, Kamis (20/9/2018) di bilangan Cikini, Jakarta Pusat.

Lebih spesifik Dr. Mohammad Kurniawan, Sp.S (K) menjelaskan, lifestyle yang dimaksud di atas ialah bukan hanya menjalani gaya hidup tidak sehat dan tidak seimbang seperti tak menjaga pola makan, kurang berolahraga, ataupun merokok. Tetapi juga ditambah, kurang sadarnya akan pemeriksaan kesehatan terhadap diri sendiri.

“Punya hipertensi enggak pernah berobat, lalu suka makan yang manis-manis ada diabetes tapi gula darahnya enggak pernah dicek,” tambahnya.

Sebagai tindakan preventif atau pencegahan, dokter yang merupakan dokter spesialis syarf dan Ketua Komite Medis di Rumah Sakit Keramat 128 Jakarta tersebut menganjurkan beberapa hal yang bisa dilakukan sebagai tindakan demi mencegah kerusakan yang lebih parah, sebab dasarnya mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Pertama setelah menemukan faktor resiko, maka harus segera diobati misalnya dengan pemberian obat pengental darah, rate control, dan rhythm control.

BACA JUGA:

 Melenggang di New York Fashion Week, Putri Madonna Pamer Kaki Penuh Bulu

Lalu untuk lifestyle, disarankan untuk menerapkan prinsip GerMas (gerakan masyarakat) seperti yang digaungkan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan, yakni menjaga pola makan, berolahraga dengan teratur, dan segera memeriksakan diri ke dokter ketika merasa mulai yang ada tidak nyaman di tubuh.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini