nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Amankah Mengonsumsi Makanan Bertopping Emas? Begini Penjelasan Ahli

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Kamis 20 September 2018 20:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 09 20 481 1953332 amankah-mengonsumsi-makanan-bertopping-emas-begini-penjelasan-ahli-Qi2Uc1fDHT.jpg Makanan bertopping emas (Foto: Dailymail)

“GARA-GARA Instagram,” ungkapan ini sangat cocok untuk menggambarkan tren makanan yang kini tengah digandrungi para pencinta kuliner, terutama generasi millennials. Masih ingat dengan olahan sushi, donat, atau es krim bertabur emas yang sempat viral di dunia maya?

Sedari dulu, manusia memang sudah memiliki ketertarikan melihat benda-benda berkilauan dan mudah dibentuk. Namun pernahkah terlintas dibenak Anda, “apakah mengonsumsi makanan bertabur emas ini aman untuk kesehatan?” atau mungkin Anda pernah bertanya-tanya, “mengapa banyak orang yang mengolah makanan menggunakan logam mulia tersebut?”

Terlepas dari itu semua, selama berabad-abad, lembaran emas murni yang ditumbuk tipis telah digunakan sebagai hiasan pada olahan kue-kue khas Eropa, atau digiling sebagai campuran saat membuat the hijau di Jepang. Sejauh ini, belum ada satupun orang yang dilaporkan meninggal karena keracunan emas. Kecuali wanita dalam film James Bond dan tokoh Khal Drogo dalam film serial Game of Thrones.

Namun berdasarkan penuturan beberapa ahli, kebiasaan makan seperti ini sebetulnya aman untuk dilakukan.

“Saat Anda menyantap makanan bertabur emas, bukan berarti memakan cincin emas Anda snediri. Emas yang digunakan pada masakan harus memiliki kandungan sebesar 23-24 karat. Ini bukan emas yang sama dengan emas yang digunakan untuk membuat perhiasan karena mungkin mengandung racun dan berbahaya jika dikonsumsi,” kata Alexandra Oppenheimer seorang ahli nutrisi asal New York, sebagaimana dikutip dari Food & Wine, Kamis (20/9/2018).

makanan bertopping emas

Lebih lanjut Alexandra mengatakan, emas yang digunakan pada makanan sebetulnya dikenal dengan istilah E-175. Istilah ini diberikan langsung oleh European Food Safety Administration (EFSA) saat mengidentifikasi bahan makanan berbasis logam sebagai aditif atau sekadar pewarna makanan saja.

Efek dan kemanan E-175 pertama kali dievaluasi pada tahun 1975. Pada 2015 lalu, EFSA melakukan uji kelayakan dan peninjuan ulang setelah tren makanan bertopping emas menjadi perbincangan hangat di kalangan pencinta kuliner.

makanan bertopping emas

Menurut hasil penelitian mereka, daun emas (gold leaf) harus memiliki kandungan emas murni sebesar 90%, dan 10% lainnya terdiri dari kandungan logam yang aman untuk dikonsumsi seperti perak murni. Secara ilmiah, sebagian besar emas yang digunakan pada makanan tidak akan mengganggu sistem pencernaan.

“Kemungkinan besar emas tersebut tidak akan diserap oleh sistem pencernaan atau aliran darah kita. Senyawa ini akan langsung dikeluarkan tubuh sebagai limbah. Tapi, ini mungkin tergantung pada ukuran, jumlah, dan frekuensi yang dikonsumsi,” jelas Alexandra.

Berdasarkan fakta tersebut, dapat disimpulkan bahwa makanan berbahan dasar emas sebetulnya aman untuk dikonsumsi oleh manusia. Namun kembali lagi dari pola makan yang Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini