Kisah Keluarga Lia Hadapi Gempa Lombok, Putri Kecilnya pun Trauma Berat

Dewi Kania, Jurnalis · Jum'at 21 September 2018 17:26 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 21 196 1953780 kisah-keluarga-kecil-lia-hadapi-gempa-lombok-putri-kecilnya-pun-trauma-berat-62lDvgddk1.jpg Lia dan putrinya kini tinggal di tenda pengungsian (Foto: Dewi/Okezone)

PASCA-gempa sebagian warga di Lombok masih tinggal di tenda pengungsian. Mereka mengalami kondisi serba darurat, apalagi getaran gempa kecil masih dirasakan hingga kini.

Keluarga kecil yang terdiri dari Lia (28) dan Suadi (31), serta putri kecilnya Della (3,5) harus tinggal di tenda pengungsian karena rumahnya hancur. Banyak perbedaan aktivitas yang mereka hadapi saat ini.

Usai gempa pertama pada 29 Juli 2018 lalu, Della mengalami trauma berat. Kedua orangtuanya menghadapi kondisi psikologi putrinya yang terganggu.

"Pas gempa pertama dia trauma, tubuhnya sering gemetar, merasa takut, sampai sempat sulit diajak bicara," ungkap Lia saat berbincang dengan Okezone di Desa Beririjarak, Wanasaba, Lombok Timur, Jumat (21/9/2018).

 (Baca Juga:Jangan Pakai Alasan "Makan Buat Dua Orang" saat Hamil, Ini Bahayanya)

Lia mengisahkan, pada waktu gempa hebat 6,9 skala Richter, anak lain sebaya Della bahkan ada yang menangis dan ikut panik karena teriakan orang. Apalagi banyak orang berhamburan keluar rumah saat terjadi gempa.

 

Namun pasangan muda itu tidak mau Della terus trauma. Meski sebelumnya bocah manis itu sudah ikut kelas PAUD, pasca-gempa sesi belajarnya jadi terganggu.

Sekolahnya rusak dan anak-anak lain harus belajar di halaman saat itu. Namun kini pemerintah telah menyediakan tenda Sekolah Ceria yang sangat menghibur anak-anak.

 (Baca Juga:Viral Video Gadis Kecil Punya Teman Tak Terlihat, Jangan Nonton kalau Gak Mau Parno)

Khusus balita seperti Della, dapat kelas trauma healing yang dapat memulihkan kondisi psikologinya. Dia senang di sekolahnya selalu diajak bernyanyi, bermain dan belajar dengan sangat menyenangkan.

"Di tenda sekolah banyak kegiatan yang menghibur. Ada juga trauma healing untuk memulihkan mental anak-anak," bebernya.

Ibu satu anak itu mengaku, sebelum Della ikut kelas trauma healing sikapnya jadi lumayan rewel. Bahkan dia selalu tidak mau pisah sejenak dari ayah dan ibunya.

 

Lia menambahkan, kegiatan sehari-hari yang dilakukan untuk pemulihan pasca-gempa ini, tidak cuma anak-anak yang diperhatikan. Kaum perempuan tangguh yang tinggal di pengungsian yang panas dan tidak nyaman, juga diberi kegiatan khusus.

 (Baca Juga:Pakai Gaun Pengantin Menggelembung di Milan Fashion Week, Gigi Hadid Tampil Mempesona)

"Di sini sering diadakan pengajian setiap minggu untuk ibu-ibunya. Setelah gempa memang aktivitas kami jadi terhambat, tapi sekarang sudah mulai kelihatan sibuk," ungkap Lia.

Kondisi darurat yang dihadapi Lombok pasca-gempa ini, imbuh Lia, diperkirakan usai pada Februari 2019. Lia dan keluarga kecilnya juga berharap aktivitasnya bisa pulih kembali, lalu bisa membangun rumah yang baru dan lebih nyaman ditempati.

"Waktu 1 Muharram 1440 Hijriah camat datang kesini. Diperkirakan masa pemulihan ini berakhir Februari, mungkin sampai rumahnya jadi. Semoga saja cepat," pungkas dia.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini