nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Kalah Lezat dengan Makanan Western, Kenapa Kuliner Indonesia Sulit Tembus Pasar Dunia?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Sabtu 22 September 2018 11:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 22 298 1954077 tak-kalah-lezat-dengan-makanan-western-kenapa-kuliner-indonesia-sulit-tembus-pasar-dunia-4c6LI1dW1V.jpg Kuliner Indonesia masih sulit masuk dalam peta kuliner dunia (Foto: Baliwedding)

INDONESIA memiliki potensi kuliner yang sangat besar untuk dikembangkan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) sebetulnya telah melakukan berbagai upaya guna mempromosikan kuliner Nusantara di kancah internasional.

Namun hingga saat ini, negara kita belum juga masuk dalam peta kuliner dunia. Padahal, produk kuliner Indonesia tidak kalah lezatnya dengan makanan western atau olahan sushi milik Negeri Sakura Jepang. Bahkan, rendang dan nasi goreng sempat menjadi makanan terlezat di dunia versi CNN International.

Lalu, apa yang membuat kuliner kita begitu 'sulit' menembus pasar dunia? Berdasarkan penjelasan Chef Stefu Santoso, selaku Executive Chef Amez Gourmet Restaurant, Indonesia masih kesulitan dalam menentukan varian makanan yang hendak dipromosikan secara konsisten.

"Kita masih bingung mau promosikan makanan apa. Biasanya setiap ganti menteri ganti pula 'misinya'. Akhirnya selalu berputar di situ-situ saja. Tahun ini saya lihat Kementerian Pariwisata sedang mempromosikan 5 kuliner tradisional Indonesia," kata Stefu, saat ditemui Okezone, di kawasan Jakarta Selatan, Jumat 21 September 2018.

rendang

(Foto: Manilaspoon)

Kelima kuliner tersebut antara lain, soto, rendang, sate, nasi goreng, dan gado-gado. Menurut Stefu, 5 kuliner ini sebetulnya sudah dapat merepresentasikan kekayaan kuliner Indonesia.

"Sudah cocok. Karena kunci utama dalam mempromosikan kuliner adalah bahan-bahannya harus mudah di dapatkan. Di LA itu bahan-bahan makanan Indonesia mudah sekali ditemukan, kecuali kencur. Apalagi di Belanda yang memiliki kedekatan tradisional dengan bangsa kita," ungkapnya.

Selain bahan-bahannya, konsisten rasa masakan pun harus diperhatikan. Apalagi sudah banyak orang-orang asing yang mulai menyukai kuliner Indonesia, meski dari segi rasa memang cukup kuat. Ini menyangkut penggunaan rempah-rempah pada bumbu masakan.

"Jangan sampai menghilangkan cita rasa aslinya. Harus konsisten. Bule-bule itu sudah mulai suka sambal. Level spicynya sudah meningkat dibandingkan beberapa tahun silam. Mereka juga menyukai makanan otentik Indonesia, karena sudah sering traveling keliling dunia," tegas Vindex.

"Menurut saya, sambal bisa menjadi pilihan standarisasi untuk mempromosikan kuliner Indonesia di kancah internasional. Mereka itu sekarang punya kebiasaan mencocol kerupuk ke dalam sambal," sambungnya.

Stefu menambahkan, sekarang tergantung pemerintah, apakah mereka bisa fokus dan 'berani' untuk mempromosikan 5 kuliner yang telah dicanangkan.

"Egosentris masyarakat kita masih terlalu tinggi. Kalau makanan daerah ini dipromosikan, nanti daerah lain marah. Itu karena kita memiliki suku dan budaya yang sangat beragam. Bisa dibilang kekayaan kuliner yang kita miliki menjadi kelemehan kita sendiri," tukasnya.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini