nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Meninggalnya Haringga Sirila karena Dikeroyok Didasari Fanatisme Berlebih? Ini Kata Psikolog

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 24 September 2018 19:05 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 24 196 1954992 meninggalnya-suporter-persija-haringga-sirila-karena-dikeroyok-didasari-fanatisme-berlebih-begini-penjelasan-psikolog-UVr1IB884N.jpg Ilustrasi suporter (Foto: Dok.Okezone)

KABAR duka menyelimuti dunia sepakbola Tanah Air. Seorang suporter Persija, Haringga Sirila meninggal dunia di tangan gerombolan oknum suporter Persib di Bandung, Minggu sore 23 September 2018.

Sontak, banyak pihak yang menyesalkan hal ini bisa terjadi. Pertandingan olahraga yang semestinya dikelilingi sportivitas, malah tercoreng dengan berita menyedihkan itu. Air mata bagi bangsa ini.

Jika Anda sudah menyaksikan video yang memerlihatkan kekejian oknum terhadap korban, mungkin yang ada di benak Anda; Kenapa mereka bisa melakukan hal tersebut? Sebatas fanatisme berlebihan kah? atau ada maksud tersendiri?

Okezone mencoba menanyakannya pada Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi. Dalam penjelasannya, Psikolog Mei menjelaskan bahwa kejadian ini tentu ada kaitannya dengan masalah fanatisme yang berlebih.

Dia coba menjelaskan masalah ini dari akarnya. Menurut Psikolog Mei, sudah cukup banyak penelitian terkait dengan fanatisme. Salah satunya penelitian yang dilakukan Lucky (2013).

Di mana dalam penelitian tersebut, Lucky menjelaskan bahwa perilaku fanatisme khususnya suporter sepakbola ditimbulkan oleh atau beberapa faktor. Faktor tersebut antara lain konteks sosial, usia, tingkat pendidikan, karakteristik budaya, konteks ekonomi, media massa, dan lingkungan.

"Biasanya, suporter yang fanatik memiliki pandangan yang sempit terhadap tim sepakbola yang dia dicintai dan sangat antusias atau bersemangat untuk mendukung timnya dan biasanya ditunjukkan dengan perilaku yang irrasional saat kalah atau timnya dicemooh," papar Psikolog Mei saat dihubungi Okezone, Senin, (24/9/ 2018).

Psikolog Mei melanjutkan, sebetulnya suporter sepakbola itu ada dua sisi; Sisi pertama adalah mereka yang negatif. Pada kelompok ini, mereka biasanya yang bikin onar, rusuh, dan biasanya mereka akan merasakan kepuasan saat situasi semakin tak terkendali. Mereka juga punya tujuan agar penonton menjadi tidak nyaman.

Sementara itu, kelompok suporter sepakbola lainnya adalah mereka yang positif. Di mana, biasanya mereka menjadikan sepak bola sebagai tontonan, hiburan, dan memberi dukungan pada tim favoritnya.

haringga

(Foto: Haringga Sirila/Facebook)

Nah, terkait dengan aksi brutal para oknum dan kaitannya dengan fanatisme, Psikolog Mei menuturkan bahwa hal ini memang ada kaitannya, bahkan dipandang sebagai penyebab menguatnya perilaku agresif. Mereka yang tergolong dalam fanatik sepakbola cenderung kurang terkontrol dan rasional.

"Biasanya, fanatisme ini diakibatkan oleh budaya atau kebiasaan dari sistem budaya lokal dari motif pemenuhan diri kebutuhan kejiwaan individu atau sosial yang tidak terlalu terpenuhi," ungkapnya.

Lalu, apakah ada faktor yang memengaruhi fanatisme ini?

Dipaparkan Psikolog Mei, ada 3 faktor utama yang bisa memengaruhi perilaku fanatisme. Dia mengutip dari teori Yuana (2001) di mana dijelaskan di sana bahwa 3 faktor tersebut antara lain;

1. Kebodohan yang membabi buta tanpa pengetahuan yang cukup atau hanya mengikuti suatu pilihan dan hanya mengandalkan keyakinan saja.

2. Cinta kelompok atau golongan yang menguatkan golongannya di atas segalanya.

3. Figur atau sosok yang kharismatik ini agar dikagumi atau waham kebesaran.

Okezone juga coba menyoroti bagaimana kasus ini menyeret fenomena baru di mana masyarakat sekarang akan sangat mudahnya mengeluarkan ponsel mereka, merekam kejadian, dan membagikannya di media sosial. Tidakkah mereka lupa tugas mereka sebetulnya yaitu menolong?

Banyak dari Anda mungkin juga geram dengan para "penonton" yang tidak banyak berbuat untuk menolong si korban. Tapi kita juga harus menyadari bahwa dalam situasi demikian, tentu ada banyak hal yang harus dipikirkan. Terkait dengan masalah perekaman aksi keji, Psikolog Mei menegaskan bahwa ini tentu ada kaitannya dengan "virus" media sosial yang mengubah kebiasaan manusia.

"Media sosial memberikan peran terhadap perilaku orang-orang yang melihat musibah namun malah foto-foto atau merekam. Seolah-olah tindakan ini paling tepat daripada menolong si korban," terangnya.

Dia menambahkan bahwa tindakan mereka juga bisa dimaknai sebagai upaya eksistensi dan kepuasan diri sendiri saat dapat mengabadikan sesuatu (walau itu musibah).

"Hal ini terjadi karena makin menipisnya rasa empati, kepedulian terhadap lingkungan, bahkan rasa kemanusiaan yang harusnya masih menjadi hal yang paling penting dalam hidup bermasyarakat," tambahnya.

Semoga kasus seperti ini tidak lagi terjadi di Indonesia. Amin!

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini