nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Abai Diagnostik Awal, Penggunaan Antibiotik Sering Salah Kaprah

Annisa Aprilia, Jurnalis · Senin 24 September 2018 20:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 24 481 1955023 abai-diagnostik-awal-penggunaan-antibiotik-sering-salah-kaprah-N2Srd2SHBb.jpg Ilustrasi (Foto: Phentermine)

ANTIBIOTIK menjadi salah satu obat yang sudah akrab bagi masyarakat Indonesia. Saking akrabnya dengan antibiotik, masyarakat termasuk tenaga medis selalu mengandalkan, dan menganggap antibiotik obat dari segala penyakit. Akhirnya, terjadi salah kaprah dalam penggunaan antibiotik.

Antibiotik memang digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Namun, dalam praktiknya, seringkali para tenaga medis dan masyarakat abai dalam mendiagnostik. Mereka menyamaratakan gejala padahal bisa jadi penyakitnya berbeda, hal ini pula dikatakan oleh dr. Harry Parathon, SpOG (K), Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

“Setiap penyakit harus didiagnosis, kalau tidak, bisa jadi hanya gejalanya yang diobati. Misalnya saja pusing, itu bisa jadi merupakan gejala dari penyakit tertentu,” ucapnya dalam Diskusi Kesehatan Mengenai Bakteri dan Risikonya Terhadap Kesehatan, di Hotel JS. Luwansa, Jakarta Selatan, Senin (24/9/2018).

Tidak cukup sampai di situ saja, dokter Harry pun mengungkap kalau selama ini tenaga medis yang kerap abai dalam mendiagnostik sering memberikan antibiotik pada pasien, padahal tidak melakukan tes laboratorium terlebih dahulu. Ada cukup banyak gejala penyakit yang sering diobati dengan antibiotik, dua di antaranya batuk dan pilek.

“Saat kita batuk atau pilek pasti mendapatkan antibiotik. Padahal, ini bukan penyakit, tapi cara tubuh untuk melindungi paru-paru dari menumpuknya lendir. Batuk atau flunya dihilangkan justru akan menyebabkan gagalnya tubuh dalam mengeluarkan lendir, yang akhirnya bisa terjadi penumpukan di paru-paru,” jelasnya.

minum obat

Selain flu dan batuk gejala sakit yang sering dialami oleh masyarakat dan diobati menggunakan antibiotik masih ada penyakit lainnya, yaitu muntah dan diare. Dokter Harry dalam pemaparannya menjelaskan, muntah dan diare sebenarnya pun cara tubuh untuk membuang zat-zat beracun dari perut.

“Biasanya diare hampir 70 persen dikasih antibiotik. Sebaiknya biarkan saja, tapi ganti cairan yang keluar dengan minum oralit,” tambahnya.

Penggunaan antibiotik yang berlebihan bukan tanpa risiko, tapi bisa menjadikan bakteri resisten, bakteri baik mati, dan daya tahan tubuh menurun. Matinya bakteri baik misalnya mampu membuat proses pengubahan makanan jadi zat gizi, pembuatan vitamin B dan K, Pencernaan makanan, pemicu pembentukan antibodi, dan penghambatan bakteri jahat akan terhambat.

“Bakteri baik dalam tubuh salah satu fungsinya memperkuat daya tahan tubuh. Tapi, penggunaan antibiotik tanpa diagnostik, seperti flu yang diberi antibiotik tidak cocok, malah membunuh bakteri baik. Sembuh dalam waktu sebentar memang, tapi itu hanya gejalanya saja, tidak lama kemudian pasti akan sakit lagi,” pungkasnya

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini