Kasus Keracunan Makanan Tertinggi Disebabkan oleh Masakan Rumah

Annisa Aprilia, Jurnalis · Rabu 26 September 2018 18:51 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 26 481 1956016 kasus-keracunan-makanan-tertinggi-disebabkan-oleh-masakan-rumah-73IhVbMuqB.jpg Ilustrasi makanan tidak higienis (Foto: Community Table)

MAKANAN yang selama ini kita makan bukan berarti terhindar atau tercegah dari bahaya penyakit bawaan makanan. Pasalnya, menurut WHO ada lebih dari 200 penyakit yang ditularkan melalui makanan, biasa disebut Penyakit Bawaan Pangan, yang dalam bahasa Inggrisnya Food Borne Diseases.

Penyakit yang dibawa makanan ini menular, membuat tubuh keracunan, karena disebabkan oleh mikroba atau agen yang masuk ke dalam badan melalui makanan yang dikonsumsi. Pada 2017, berdasarkan data Direktorat Kesehatan Lingkungan dan Public Health Emergency Operation Center (PHEOC) Kemenkes mencatat KLB Keracunan Pangan berjumlah 163 kejadian, 7.132 kasus dengan Case Fatality Rate (CFR) 0,1%. Kecenderungan kejadian KLB Keracunan Pangan sebagian besar masih bersumber dari pangan siap saji.

 Baca Juga: Viral, Video Wanita Muda di China Perintahkan sang Ibu Bersihkan Kaki yang Kotor

Berdasarkan jenis pangan, umumnya yang menjadi penyebab KLB Keracunan Pangan berasal dari masakan rumah tangga (36%). KLB Keracunan pangan masih banyak terjadi di Pulau Jawa, di antaranya ada lima provinsi dengan KLB Keracunan Pangan tertinggi pada 2017, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali dan NTB.

 

“Keamanan pangan perlu dimonitor. Keracunan akibat pangan proporsinya cukup besar. Selain difteri, DBD yang sering masuk media, leptospira, ternyata keracunan pangan angkanya 23 persen, yang artinya hampir seperempat bagian dari KLB. Kejadian di tingkat rumah tangga yang proporsinya lebih tinggi. Kita harus edukasi masyarakat agar lebih paham makanan yang aman untuk dikonsumsi,” jelas Dirjen Kesehatan Masyarakat, dr. Kirana Pritasari, MQIH, pada kesempatan Media Gathering peringatan Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia Tahun 2018, Food Safety And Sustainbility, dalam rangka Hari Kesehatan Lingkungan Sedunia, bertema Food Safety and Sustainability, Kementerian Kesehatan, Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Meskipun demikian, pengendalian terhadap kejadian keracunan atau penyakit menular dari makanan masih bisa dikendalikan. Pengendalian terhadap kontaminasi terhadap empat aspek, seperti pangan, penjamah, tempat atau bangunan, dan peralatan dapat mencegah risiko terjadinya keracunan pangan.

“Tenaga ahli kesehatan lingkungan tugasnya selain pemberdayaan masyarakat, juga membina terkait keamanan pangan. Kami mengharapkan tenaga ahli kesehatan itu melakukan edukasi dan pengawasan di rumah tangga. Tugas mereka bisa lebih berat karena wilayah dan kepadatan penduduk,” imbuhnya.

 Baca Juga: Legging Seharga Rp588 Ribu Ini Buat Ribuan Orang Tertipu, Minat?

Di sisi lain, masyarakat pun perlu sadar akan kesehatan dan kebersihan diri serta lingkungannya. Menurut dokter Kirana dalam penjelasannya, ada pengembangan program pilar tiga sanitasi total berbasis masyarakat (STBM), di antaranya stop buang air besar sembarangan, karena bisa menjadi sumber penyebaran penyakit lewat tanah, air, dan alat, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan rumah tangga, pengamanan sampah rumah tangga, dan pengamanan limbah cair rumah tangga.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini