nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Envirochallenge, Ajak Pelajar SMA Jadi Agen Perubahan untuk Perangi Sampah Plastik

Pradita Ananda, Jurnalis · Kamis 27 September 2018 22:30 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 09 27 406 1956597 envirochallenge-ajak-pelajar-sma-jadi-agen-perubahan-untuk-perangi-sampah-plastik-7MWgDLLvCu.jpg Ilustrasi (Foto: Imbalife)

TAHUKAH Anda, bahwa berdasarkan data di 2017 silam, Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik terbesar nomor dua setelah China? Ini artinya, kondisi betapa banyaknya sampah plastik yang diproduksi oleh Indonesia sudah di level darurat.

Jika tidak mulai dikurangi dari sekarang, selain perairan di Indonesia semakin tercemar akan sampah plastik, bukan tidak mungkin juga Indonesia bisa menyalip China jadi negara penyumbang nomor satu limbah plastik di dunia.

Untuk satu kota, sebut misalnya Jakarta, menurut penjelasan Tiza Mafira, dari Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik sampah plastik yang dihasilkan per tahunnya mencapai angka ratusan juta.

"Dari data yang kami himpun, konsumsi kantong plastik di Jakarta mencapai 240 hingga 300 juta lembar per tahun dan perlu diketahui bahwa kantong plastik adalah produk plastik yang paling bermasalah dalam pencemaran lingkungan," ungkap Tiza saat ditemui Okezone, Kamis (27/9/2018) dalam acara konferensi pers Envirochallenge di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Pusat.

 (Baca Juga:Hari Pariwisata Sedunia, Kemenpar Gencarkan Sustainable Tourism Development)

Maka dari itu, sudah sepatutnya gerakan untuk memerangi sampah plastik atau biasa juga disebut diet plastik sudah ditanamkan kepada para anak-anak muda. Kenapa? Karena peran anak muda untuk menggerakkan diet kantung plastik begitu besar, mengingat mereka adalah segmen penting untuk disasar sebagai agen perubahan atau "agent of change" di masa depan.

 

Salah satu gerakan untuk mendorong anak muda bisa bergerak aktif berdiet kantung plastik diwujudkan dengan gelaran Envirochallenge, yang tahun ini sudah memasuki gelaran ketiga. Envirochallenge ini sendiri adalah gerakan untuk mendorong siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajat untuk membuat inisiatif penyelamatan lingkungan hidup yang dimulai dari lingkup sekolah masing-masing.

Jika tahun 2016 dan 2017 kurang lebih hanya ada tujuh sekolah yang berpartisipasi, tahun ini mengajak 25 sekolah SMA dan sederajat di Jabodetabek, Bandung Metropolitan dan Bali. Ditambahkan Tiza, didukung oleh Gerakan Indonesia Diet Kantong Plastik (GIDKP) dan United in Diversity (UID), para pelajar ini ditantang untuk menjawab isu seputar penyelamatan lingkungan, terutama polusi plastik di lingkungan sekolahnya.

"Lewat Envirochallenge ini, GIDKP dan UID menggerakkan para pelajar SMA dan sederajat untuk lebih peka terhadap isu polusi plastik dan mendorong para pelajar untuk membuat implementasi program yang inovatif sebagai solusi,” tambahnya.

 (Baca Juga:5 Potret Cantik Claudia Kim, Pemeran Nagini dalam Film Fantastic Beasts)

 

Diketahui lebih lanjut, pada tahun 2016 hingga 2017, upaya sekolah para peserta Envirochallenge untuk mengelola sampah plastik telah menunjukkan hasil yang signifikan, sebab telah berhasil menurunkan penggunaan plastik sebanyak 70 persen di lingkungan sekolah yang ikut berpartisipasi. Beberapa kantin telah menyediakan piring, mangkuk dan gelas sifatnya tidak sekali pakai, alias dapat digunakan kembali.

Kemudian, ada juga sekolah peserta Envirochallenge yang telah mengganti busa polystyrene yang digunakan di laboratorium untuk membuat alat peraga dan mock up serta menyediakan dispenser air minum di setiap kelas agar para siswa tidak lagi perlu membeli AMDK (air minum dalam kemasan) karena cukup membawa botol tumblr dari rumah.

Teknisnya, Envirochallenge ini dijalankan dari serangkaian kegiatan. Pada tahap awal, diadakan sesi school workshop yang berlangsung selama tiga minggu, dari Agustus hingga September 2018. Peserta dari 25 sekolah yang ikut serta diberikan materi-materi penting dari para mentor seperti GIDKP, UID, Sea Soldier dan IAAS Local Committee Universitas Padjadjaran mengenai isu lingkungan, aktivasi media sosial dan bagaimana cara membuat proposal dengan konsep logical framework analysis, impact model canvas dan theory of change. Baru selanjutnya, para siswa diberikan tugas untuk merancang sebuah program lingkungan yang harus diimplementasikan di sekolah masing-masing.

Setelah school workshop, 10 sekolah dengan proposal terbaik berhak menghadiri sesi coaching yang dilaksanakan selama dua hari dan difasilitasi oleh GIDKP dan UID di Jakarta pada 26-27 September 2018. Hari pertama para peserta melakukan sensing journey ke Bank Sampah. Hari kedua siswa diminta untuk memaparkan program dan bagaimana proses implementasi tindakan untuk mengurangi polusi plastik di sekolah masing-masing. Setelah sesi coaching, barulah para siswa diberi waktu untuk mengimplementasikan ide program lingkungan rancangan tersebut.

Berbeda dengan kompetisi lainnya, kompetisi ini dijelaskan Tiza lebih bersifat sistemik karena tidak berhenti begitu saja saat pemenang diumumkan.

"Selain dapat pendampingan dari mentor, kegiatan ini ditujukan untuk melihat perkembangan implementasi program, membantu peserta jika ada tantangan dalam pelaksanaan dan membantu penyusunan laporan akhir program di sekolah masing-masing,” tutup Tiza.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini