nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pengobatan Gangguan Jiwa Skizofrenia di Indonesia Masih Terhalang Stigma

Agregasi Koran Sindo, Jurnalis · Kamis 27 September 2018 15:40 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 09 27 481 1956316 pengobatan-gangguan-jiwa-skizofrenia-di-indonesia-masih-terhalang-stigma-BecRA348fJ.jpg Ilustrasi (Foto: Loksatta)

SKIZOFRENIA merupakan gangguan jiwa yang parah. Sayangnya, pengobatannya terkendala stigma yang masih melekat di masyarakat.

Padahal, pengobatan yang tepat membuat penyakit jiwa ini dapat dikendalikan. Data Riset Kesehatan Dasar di Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi gangguan jiwa emosional yang ditunjukkan gejala depresi dan kecemasan pada usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari total penduduk Indonesia.

Sedangkan, untuk prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia, mencapai sekitar 400.000 orang atau 1,7 per 1.000 penduduk. Sementara itu, menurut data WHO tahun 2016, secara global terdapat sekitar 35 juta orang yang mengalami depresi, 60 juta orang dengan gangguan bipolar, 21 juta orang dengan skizofrenia, dan 47,5 juta orang dengan demensia.

Secara global, mayoritas dari mereka yang membutuhkan perawatan kesehatan jiwa di seluruh dunia tidak memiliki akses layanan kesehatan mental berkualitas tinggi.

Stigma, kurangnya sumber daya manusia, model pemberian layanan yang terfragmentasi, serta kurangnya kapasitas penelitian untuk implementasi dan perubahan kebijakan berkontribusi pada kesenjangan perawatan kesehatan jiwa saat ini. Fakta yang dikeluarkan WHO, Mental Health Gap Action Programme (mhGAP) pada 2008 memperkirakan bahwa lebih dari 75% orang dengan gangguan jiwa di negara-negara berkembang tidak memiliki akses layanan kesehatan.

Laporan yang sama menyatakan bahwa setidaknya sepertiga pasien dengan skizofrenia dan lebih dari setengahnya menderita depresi, mengonsumsi alkohol, dan menyalahgunakan narkoba, tidak memiliki akses ke layanan kesehatan dalam setahun. Laporan WHO tentang Investing in Mental Health pada 2013 mengungkapkan bahwa banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah mengalokasikan kurang dari 2% atau bahkan 1% dari anggaran kesehatan untuk perawatan dan pencegahan gangguan jiwa/mental.

Chiun-Fang Chiou, Senior Director of Market Access Johnson & Johnson mengatakan, program yang komprehensif diperlukan untuk membangun sistem layanan kesehatan yang terdiri atas pengembangan kebijakan dan kapasitas tambahan sumber daya manusia.

“Termasuk, mekanisme pembiayaan, perbaikan infrastruktur, serta sistem pemantauan dan evaluasi,” katanya dalam acara Southeast Asia (SEA) Mental Health Forum 2018.

Berdasarkan definisi standar WHO, skizofrenia merupakan gangguan jiwa parah yang ditandai banyaknya gangguan dalam berpikir, memengaruhi bahasa, persepsi, dan kesadaran diri. Sering kali termasuk di dalamnya pengalaman psikotik, seperti mendengar suara atau delusi.

pusing

Hal ini dapat merusak fungsi diri melalui hilangnya kemampuan yang diperoleh untuk mendapatkan mata pencaharian atau gangguan dalam belajar. Maka itu, pengendalian gangguan jiwa ini membutuhkan upaya komprehensif dan berkelanjutan.

“Pasien memiliki kemungkinan lebih besar pulih apabila pengobatan dilakukan lebih dini,” kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dr Eka Viora SpKJ. Sementara itu, pada pasien skizofrenia yang sudah berat, terapi yang dilakukan bersifat jangka panjang.

Minum obat bisa dilakukan seumur hidup guna mengendalikan gangguan yang dialami. Masalahnya, pengobatan skizofrenia di banyak negara saat ini masih terhalang banyak stigma negatif yang melekat pada orang-orang dengan skizofrenia dan keluarga mereka.

Akibatnya, sejumlah kasus skizofrenia tidak pernah dilaporkan dan tidak mendapat tindak lanjut secara medis. Menurut WHO, terdapat pengobatan yang efektif untuk skizofrenia dan orang yang terkena dampaknya dapat menjalani kehidupan produktif dan terintegrasi dalam masyarakat.

Penyakit jiwa tersebut sebenarnya dapat diobati dan dikendalikan. Dengan pengobatan yang tepat, sebagian besar orang dengan skizofrenia dapat memiliki pekerjaan yang layak dan menjadi produktif, bahkan memiliki aktivitas lain yang bermakna, menjadi bagian dari komunitas, serta menikmati hidup.

Lakish Hatalkar, Presiden Direktur PT Johnson & Johnson Indonesia, menyatakan, tidak ada negara yang kebal terhadap tantangan kesehatan jiwa (mental). Forum ini menjelaskan bahwa tidak hanya penting bagi negara-negara Asia Tenggara untuk menerapkan kebijakan dan layanan kesehatan jiwa yang lebih baik.

“Tetapi, peran dari semua para pemangku kepentingan terkait juga sangat diperlukan untuk mengubah perilaku orang dengan gangguan jiwa dan keluarga mereka,” ungkap Lakish.

(hel)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini