Cara Ini Dianggap Paling Baik Stabilkan Kondisi Emosional Korban Gempa Palu

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 29 September 2018 20:45 WIB
https: img.okezone.com content 2018 09 29 196 1957462 cara-ini-dianggap-paling-baik-stabilkan-kondisi-emosional-korban-gempa-palu-wgprIybzYk.jpg Korban gempa di Sulawesi Tengah (Foto: Ist.)

INDONESIA kembali dihadapkan pada masalah bencana alam. Belum selesai kesedihan gempa Lombok, kini masyarakat Donggala, Palu, dan sekitarnya harus menghadapi gempa dan tsunami yang cukup besar.

Kesedihan ini tentunya tidak bisa dianggap biasa saja. Terlebih bagi para korban, menghilangkan rasa trauma yang berlebih akibat bencana tersebut merupakan pekerjaan rumah yang panjang. Tidak hanya dokter yang dibutuhkan di sini, tapi juga peran psikolog.

Nah, Okezone coba mengulik lebih jauh mengenai upaya terbaik apa yang bisa dilakukan seorang psikolog untuk menstabilkan kondisi emosional para korban dan Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi., coba menjelaskan ini dengan detail.

Sebelum membahas upaya apa yang harusnya dilakukan, kita semua harus tahu dulu bahwa bencana alam termasuk bencana yang dapat menyebabkan guncangan psikologis pada diri manusia. Menurut Psikolog Mei, individu yang mengalami hal ini akan trauma mendalam, salah satunya karena masalah ketakutan, kehilangan, serta terbayang-batang akan bencana yang baru saja menimpa mereka.

 (Baca Juga:Pasca-Gempa Sulteng, Tim Crisis Center Kemenpar Lakukan Pendataan Terkait Pariwisata)

"Individu yang mengalami bencana biasanya akan mengalami trauma atau gangguan stres pasca-trauma," katanya pada Okezone melalui pesan singkat, Sabtu (29/8/3018).

 

Psikolog Mei melanjutkan, trauma bencana alam masuk dalam trauma tipe 1 atau peristiwa traumatik singkat. Pada kondisi itu, kata Psikolog Mei, para korban akan memiliki respon yang berbeda terhadap pengalaman yang dia alami. Lalu, trauma pada masalah ini pun memiliki tingkat kepulihan yang berbeda-beda. Hal ini pun berkaitan dengan cara tiap orang menghadapi distress tersebut.

"Ada yang berani menghadapi, tidak sedikit juga yang memilih menghindari masalah. Bahkan, beberapa dari korban lebih memilih tidak melakukan apa-apa dan menyerah," ungkap Psikolog Mei.

 (Baca Juga:Tanggulangi Bencana Alam di Palu dan Donggala, Kemenkes Berangkatkan Tim Tenaga Medis)

Dari jenis-jenis orang yang menggadapi trauma tersebut, yang paling rentan mengalami gangguan psikologis adalah anak-anak. Ini berkaitan dengan sifat polos dan reaksi kaget yang secara spontan cenderung mengakibatkan trauma setelah mereka terkena bencana.

"Bahkan, ada yang sampai mengalami trauma ekstrem," tegasnya.

Lebih lanjut, Psikolog Mei coba menjelaskan masalah ini berdasar penjelasan Sutanto (2005), di mana anak-anak umumnya belum memiliki kemampuan memadai untuk mengatasi penderitaan fisikal dan emosional yang menerpa mereka.

"Trauma yang dialami harus segera mendapatkan penanganan khusus, karena jika tidak maka trauma itu akan tersimpan lama dan dapat menjadi bumerang bagi si anak," tambahnya.

Apalagi terjadi pada anak-anak. Maka yang harus dilakukan adalah memberikan penanganan yang akhirnya membuat anak-anak merasa lebih tenang. Ini bisa dari perlindungan dari orangtua, kerabat, atau masyarakat yang menolongnya.

Nah, sambung Psikolog Mei, biasanya para psikolog akan melakukan pendekatan kepada korban yang mengalami trauma. Pendekatan secara psikologis diperlukan agar mereka merasa aman dan memberikan berbagai penanganan yang dapat membantu para korban untuk bisa mengatasi trauma yang dialami.

 (Baca Juga:Mengenang Masjid Terapung Palu yang Rusak Diterjang Tsunami)

"Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan konseling, di mana kami akan lebih banyak mendengarkan dan mencoba 'hadir' secara penuh saat mendengar apa yang dirasakan terkait trauma yang dialami," papar Psikolog Mei.

Dengan melakukan hal itu, nantinya diharapkan akan membantu para korban memahami dan menerima kenyataan yang dialami dan mampu memulai kembali kehidupannya. Selain konseling, beberapa psikolog juga melakukan teknik trauma healing.

"Tapi, menurut saya pribadi, saya akan menstabilkan kondisi emosional dengan Psikotraumatologi," katanya.

Bagaimana cara kerjanya?

Psikolog Mei menuturkan bahwa dirinya akan mengajak para korban untuk menghadapi peristiwa trauma yang baru saja dialami dengan menguatkan resource yang dimiliki bukan menghindari. Tentu hal ini dilakukan secara bertahap dan tergantung seberapa besar trauma yang dialami korban.

"Prinsip dasar Psikotraumatologi salah satunya justru sebisa mungkin psikolog berusaha tidak membuka ingatan atau kenangan yang menggganggu atau menyakitkan jika yang bersangkutan bersikap pasif. Jadi, teknik yang dilakukan sifatnya bukan mengorek," pungkasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini