nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pasca-Gempa Sulteng, Tim Crisis Center Kemenpar Lakukan Pendataan Terkait Pariwisata

Utami Evi Riyani, Jurnalis · Sabtu 29 September 2018 15:50 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 09 29 406 1957380 pasca-gempa-sulteng-tim-crisis-center-kemenpar-lakukan-pendataan-terkait-pariwisata-rqLcbQYNRO.jpg Gempa di Sulawesi Tengah (Foto: Ist)

GEMPA berskala 7,7 SR yang melanda sejumlah wilayah di Sulawesi Tengah pada Jumat petang (28/9/2018), melumpuhkan aktivitas masyarakat. Termasuk aktivitas pariwisata yang tengah dilakukan di Sulawesi Tengah.

Untuk memberikan informasi terkait pariwisata di wilayah terdampak, Tim Crisis Center (TCC) Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun melakukan monitoring dan pendataan terkait dampak gempa terhadap ekosistem pariwisata di Sulawesi Tengah.

Pemantauan awal dilakukan pada tiga hal utama dalam pariwisata, yakni Atraksi, Amenitas, dan Aksesibilitas (3A) di Kota Palu dan Kabupaten Donggala Sulawesi Tengah terkena dampak gempa. Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti, mengatakan, salah satu atraksi yang terdampak adalah Pantai Talise yang terkena terjangan gelombang tsunami.

"Daya tarik pantai Talise terdampak karena diterjang tsunami, namun untuk atraksi yang berbasis budaya belum terdata dan sedang dalam upaya koordinasi," ujar Guntur Sakti yang juga Ketua Tourism Crisis Center (TCC) Kemenpar dalam siaran pers yang diterima Okezone, Sabtu (29/9/2018).

 (Baca Juga:Mengenang Masjid Terapung Palu yang Rusak Diterjang Tsunami)


Saat gempa terjadi, Kemenpar tengah mendukung pelaksanaan Festival Palu Nomoni yang menjadi salah satu Calendar of Event (CoE) Nasional. Namun saat itu juga diputuskan pelaksanaan Festival Palu Nomoni dibatalkan, begitu juga dengan rangkaian peringatan Hari Habitat Dunia (HHD) yang berlangsung di Kota Palu sejak 29 September hingga 03 Oktober 2018 mendatang.

"Info panitia HHD dibatalkan, dan atraksi buatan lainnya dalam upaya koordinasi. TCC juga akan terus memperbaharui informasi secara berkala untuk melaporkan perkembangan ekosistem pariwisata," ujar Guntur Sakti.

Sementara terkait aksesibilitas, untuk transportasi udara Bandara Mutiara SIS Al Jufrie Kota Palu ditutup sampai dengan tanggal 29 September 2018 pukul 19.20 WITA berdasarkan pengumuman resmi AirNav Indonesia NOTAM No. H0737/18 tanggal 28 September 2018 yang menjelaskan terjadi kerusakan pada Tower ATC.

 (Baca Juga:Tanggulangi Bencana Alam di Palu dan Donggala, Kemenkes Berangkatkan Tim Tenaga Medis)

Berdasarkan pantauan, dari sepanjang 2.500 meter runway bandara Mutiara Sis Al Jufri Palu, 500 meter retak dan Tower ATC lantai 4 runtuh. "Tim Kemenhub akan membawa alat navigasi baru pukul 08.00 WITA berangkat dari Makassar," ujar Guntur, merujuk pada sumber dari UPT Kemenhub Palu.

Namun kondisi bandara lain di sekitar Kota Palu seperti Bandara Jalaludin - Gorontalo, Bandara Kasiguncu - Poso, Bandara Tj. Api Ampana Kab. Tojo Una-Una masih dalam kondisi aman.

"Untuk transportasi laut, Pelabuhan Pantoloan Palu dan Pelabuhan Donggala belum terdata karena jaringan komunikasi terputus, Pelabuhan Ampana dan Luwuk aman. Pelabuhan Ogoamas retak di talud dan terjadi pergeseran dermaga ke sisi kanan sepanjang 3 cm," ujarnya.

Sementara untuk akses darat, jembatan Vatulemo yang merupakan ikon kota Palu rusak karena tsunami. Lokasi ini berdekatan dengan pantai Talise. Sedangkan akses jalan darat menuju Palu cuma ada dua, lewat Mamuju atau lewat Poso. Sebenarnya ada bandara terdekat menuju Palu yaitu bandara Tanjung Api Ampana atau Bandara Kasiguncu Poso. Namun jalur yang melewati Poso, jalannya terputus di Parigi dan di Kebun Kopi. Jadi satu-satunya jalan darat adalah lewat Mamuju.

270 Kamar Hotel  di Sulawesi Tengah Rusak

Lebih lanjut Guntur menyampaikan, dari pendataan informasi awal TCC juga diketahui gempa memberikan dampak pada amenitas. Sedikitnya ada 270 kamar hotel yang rusak dan terdampak.

"Santika Palu Hotel ada 140 kamar terdampak, Mercure Palu Hotel 130 kamar terdampak. Akomodasi terdampak lainnya masih dalam penelusuran data tingkat kerusakan," ujar Guntur.

Guntur memastikan TCC Kemenpar akan terus bekerja sesuai dengan tugas dan fungsinya dalam penanganan dampak gempa di Sulawesi Tengah.

 

"TCC Kemenpar juga telah membuat Holding Statement dan menyebarluaskannya kepada berbagai pihak seperti Visit Indonesia Tourisme Officer (VITO) serta pihak kedutaan besar," ujar Guntur.

Sebelumnya Menteri Pariwisata Arief yahya mengatakan Kemenpar mengaktifkan Tourism Crisis Center (TCC) guna memantau akses, amenitas dan atraksi yang terkait langsung dengan wisatawan di Donggala dan sekitarnya.

"Pertama, saya turut prihatin dan berduka yang mendalam atas musibah bencana alam, gempa bumi di Donggala, Sulawesi Tengah," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya, dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/9/2018).

Menpar Arief Yahya mengatakan, TCC terus melakukan pemantauan dan pelaporan; memberikan layanan informasi termasuk holding statement ke beberapa negara melalui Visit Indonesia Tourism Officer (VITO); menghentikan seluruh aktivitas promosi di lokasi terdampak; sekaligus memantau kondisi wisatawan dan ekosistem pariwisata (3A) di lokasi terdampak.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini