nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sulit Dapat Air Bersih Pasca-Bencana? Ini Tipsnya!

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 01 Oktober 2018 20:53 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 01 481 1958247 sulit-dapat-air-bersih-pasca-bencana-ini-tipsnya-FUhOIu1Fby.jpg Air bersih (Smrtenglish)

BENCANA alam seperti gempa bumi dan tsunami terkadang mengakibatkan kerusakan yang sangat fatal. Selain akse jalan yang terputus, warga lokal dan para pengungsi pun kesulitan untuk mendapatkan pasokan makanan dan air yang bersih dan aman dikonsumsi.

Untuk mempersiapkan diri dari bencana yang mungkin saja terjadi di masa mendatang, sangat penting untuk memiliki kemampuan dan pengetahuan dalam memurnikan air. Dengan demikian kita bisa bertahan hidup hingga keadaan kembali normal.

Dilansir Okezone dari Primal Survivor, Senin (1/10/2018), berikut 4 cara memurnikan air yang wajib Anda ketahui.

 Baca juga: Di Negara Ini, Kamu Bisa Tahu Perempuan yang Masih Perawan Hanya dengan Lihat Gaya Rambutnya!

Ilustrasi Air

Merebus

Merebus cara terbaik untuk mengolah air di saat situasi bencana benar-benar tidak terkendali. Misalnya terjadi pemadaman jaringan ketika pusat perawatan air berhenti bekerja.

Sebagian besar sumber (termasuk FEMA dan Palang Merah) mengatakan bahwa kita perlu merebus air selama 1 menit untuk membunuh bakteri, virus, parasit, dll.

Meski terdengar mudah, cara ini memerlukan waktu yang cenderung lebih lama, dan membutuhkan bahan bakar untuk merebusnya. Kandungan kimia yang terdapat di dalam air juga tidak bisa dihilangkan.

air rebus (Tasty)

 Baca juga: Berkunjung ke Jawa Timur, Intip Lahapnya Tamara Bleszynski Makan di Pinggir Jalan

Pemurnian Dengan Kimia

Cara paling umum memurnikan air adalah menggunakan bahan kimia adalah menggunakan pemutih klorin. Kendati demikian, Anda harus memastikan bahwa pemutih yang digunakan tidak beraroma dan tanpa pembersih tambahan.

Perhatikan pula label klorin sebelum mencampurkannya ke dalam air. Klorin yang aman harus memiliki 8.25% sodium hypochlorite pada labelnya.

Teknik pengolahannya pun terbilang mudah. Cukup tambahkan 6 tetes klorin per galon air, lalu diamkan selama kurang lebih 30 menit. Sayangnya, cara ini akan memengaruhi rasa air dan tidak menghilangkan ancaman kimia.

 Baca juga: Potret Kesibukan Hot Mom Nabila Syakieb kala Momong Baby Raqeema

Distilasi

Sebagian besar alat penyulingan air rumahan bekerja dengan cara merebus air, lalu kemudian uapnya dikumpulkan. Uap akan dialirkan pada wadah terpisah, sehingga saat kondisinya sudah mendingin akan kembali menjadi air. Ide dibalik distilasi adalah bahwa mikroorganisme dan polutan akan tertinggal.

Namun terkadang, beberapa bahan kinia organik seperti pestisida dan VOC akan diubah menjadi uap. Dengan kata lain, diperlukan ketelitian ketika menggunakan teknik penyulingan ini. Tapi Anda tidak perlu khawatir, sekarang sudah banyak sistem distilasi rumah yang memiliki filter khusus untuk menghilangkan ancaman tersebut.

 Baca juga: Tak Mau Digigit Nyamuk? Usir dengan 5 Bahan Aktif Ini

Meski terbilang ampuh, teknik penyulingan ini cenderung sulit dilakukan di lokasi bencana karena membutuhkan aliran listrik. Biayanya pun terbilang mahal.

Mengumpulkan air hujan

Cara terakhir yang bisa dilakukan adalah mengumpulkan air hujan. Tindakan ini sebetulnya masuk dalam bebtuk distilasi karena harus melalui proses penguapan, agar aman dikonsumsi.

Namun, air hujan tidak memiliki filter, sehingga kemungkinan besar mengandung banyak bahan kimia organik, bakteri, dan jamur. Terlepas dari kekurangannya, mengumpulkan air hujan adalah cara paling praktis, bersih, dan efektif dalam keadaan darurat.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini