nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sukses Tapi Tak Percaya Diri? Inilah yang Harus Anda Lakukan

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 02 Oktober 2018 10:21 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 02 196 1958417 sukses-tapi-tak-percaya-diri-inilah-yang-harus-anda-lakukan-mE3mu1A6NX.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

SELAMA berpuluh-puluh tahun, penelitian pada perusahaan-perusahaan elite mengidentifikasi satu tipe pekerja tertentu: sangat kompeten dan sangat ambisius, tetapi didorong oleh perasaan secara mendalam bahwa kemampuan mereka tidak meyakinkan.

"Rasanya seperti kebutuhan untuk terus-menerus membuktikan bahwa Anda pantas berada di posisi Anda; dan kekhawatiran yang konstan, sebelum setiap rapat yang saya hadiri... apakah saya akan mempermalukan diri saya sendiri di sini, lalu orang-orang akan melihat apa yang ada di balik kedok saya dan tidak menemukan substansi yang nyata di sini?"

Ini Jeremy Newman, mantan CEO global BDO, salah satu kantor akuntan terbesar di dunia. Ia saat ini mengepalai badan-badan pemerintahan yang penting dan berbagai lembaga lain. Dalam ukuran apa pun ia sangat sukses dalam kehidupan profesionalnya. Namun beginilah: iaberkata kepada saya bahwa ia sebenarnya selalu khawatir bahwa ia tidak cukup baik.

Jetemy tidak sendiri. Selama 25 tahun meneliti tentang kepemimpinan dan perusahaan jasa profesional (seperti firma hukum dan akuntansi, konsultan dan bank investasi) saya mendengar banyak orang yang cemerlang, sukses, dan tampaknya percaya diri menyebut diri mereka sendiri minder.

Baca Juga: Pamer Bokong Berlatar Destinasi Wisata Lagi Marak di Instagram

Mereka adalah orang-orang berprestasi yang minder, istilahnya "insecure overachiever": sangat mampu dan sangat ambisius, tetapi didorong oleh keyakinan yang mendalam pada ketidakmampuan mereka sendiri.

Ketika saya menulis tentang "insecure overachiever" dalam buku terbaru saya, Leading Professionals: Power, Politics, and Prima Donnas, saya mendapat tanggapan luar biasa dari orang-orang di seluruh dunia, di berbagai bidang pekerjaan, yang mengatakan bahwa mereka merasa cocok dengan istilah tersebut.

Para "insecure overachiever" tidak dilahirkan, tapi dibentuk, biasanya di masa kanak-kanak, melalui pengalaman merasa tidak aman secara fisik, psikologis, atau finansial.

Misalnya, anak-anak yang mengalami kemiskinan secara mendadak dan tidak terduga mungkin mendapati bahwa, sebagai orang dewasa, mereka tidak pernah mampu menghasilkan cukup nafkah untuk mengatasi rasa takut bahwa mereka bisa tiba-tiba jatuh miskin lagi.

Beberapa anak tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka hanya diperhatikan dan dihargai oleh orang tua ketika mereka berprestasi. Sikap ini bisa bertahan lama setelah mereka meninggalkan rumah karena mereka telah menginternalisasi rasa minder atau ketidakamanan itu sebagai bagian dari identitas mereka.

Jadi tidak mengherankan kalau orang-orang seperti ini cenderung melamar pekerjaan di perusahaan-perusahaan elite -- jenis perusahaan yang menawarkan lowongan pekerjaan yang paling banyak diincar lulusan MBA di seluruh dunia.

Baca Juga: Karena Pakaian Ini, Miss V Lady Gaga Nongol


Perusahaan-perusahaan ini, pada dasarnya, berkata kepada karyawan baru, "kami yang terbaik dalam bisnis ini, dan karena Anda bekerja untuk kami, Anda juga adalah yang terbaik".

Bagi orang-orang yang meragukan nilai mereka sendiri, itu rasanya luar biasa — sampai mereka mulai khawatir bahwa mereka akan dipecat ketika gagal memenuhi harapan.

Sistem evaluasi dan penghargaan dalam perusahaan-perusahaan ini membuat ketakutan tersebut menjadi sangat nyata. Kompetisi untuk mendapatkan promosi sangatlah sengit dan - lebih buruk lagi - buram.

Dr Alexandra Michel di Universitas Pennsylvania meneliti kehidupan dan karier para bankir investasi.

Ia menjelaskan: "Bonus pada akhir tahun tergantung pada evaluasi Anda dibandingkan dengan orang lain. Dan Anda tidak tahu pekerjaan seperti apa yang mereka hasilkan. Anda hanya tahu bahwa mereka sangat pintar dan mereka bekerja sangat keras."

Orang-orang tahu bahwa mereka dibandingkan dengan rekan-rekan mereka. Tetapi karena mereka tidak benar-benar tahu bagaimana prestasi kolega mereka, mereka menetapkan standar yang sangat tinggi, hanya untuk jaga-jaga. Dan karena semua orang dalam sistem melakukan ini, standar terus-menerus naik, menuntut semua orang untuk bekerja lebih keras dan lebih keras lagi.

Bagi orang-orang yang minder, pola ini kerap berulang. Selama penelitian saya, seorang eksekutif senior di sebuah perusahaan konsultan menggambarkan dua orang rekan, yang "merasa bahwa saya akan berkata kepada mereka," Maaf. Kinerja Anda tidak cukup baik. Anda harus keluar dari perusahaan ini'...

"Jadi saya pun berkata,'Apakah Anda gila? Mengapa Anda tidak pulang lebih awal dan memikirkan keluarga Anda? 'Dan mereka berkata,' Tidak, tidak, tidak, tidak, saya harus bekerja. '"

Banyak karyawan junior menyaksikan pemimpin mereka berperilaku seperti ini dan berasumsi bahwa itulah yang akan membuat mereka maju. Dengan demikian, polanya terus-menerus diulangi dan diperkuat.

Namun perilaku ini bisa juga berdampak positif. David Morley, mitra senior di firma hukum internasional terkemuka, Allen dan Overy, mengibaratkan para pengacara senior dalam transaksi sebagai pemimpin sirkus.

"Jika Anda piawai dalam pekerjaan Anda dan Anda menikmatinya, itu sangat menggairahkan," ujarnya. "Anda dapat menghasilkan tagihan besar di akhir yang dibayar oleh klien sehingga Anda mendapatkan angka-angka yang secara nyata menggambarkan nilai Anda.

"Lalu telepon berdering dan Anda melanjutkan ke tugas berikutnya ... Ini hampir seperti narkoba ... aliran kegembiraan ini ... dan jika Anda piawai, ada banyak hadiah positif yang Anda dapatkan darinya,"

Namun, jika terlalu ekstrem, jam kerja yang panjang dan dorongan terus-menerus untuk berprestasi dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental yang serius — mulai dari kelelahan hingga sakit kronis, kecanduan, gangguan makan, depresi, dan lebih buruk lagi.

Jadi jika Anda adalah seorang "insecure overachiever", apa yang bisa Anda lakukan? Sebagaimana telah saya jelaskan, faktor-faktor yang menciptakan rasa minder itu berasal dari masa kanak-kanak sehingga hanya sedikit yang bisa Anda lakukan untuk memengaruhinya. Namun Anda dapat memengaruhi cara Anda meresponnya.

Pertama-tama, kenali pemicu Anda. Perhatikan cara-cara organisasi Anda memanipulasi perilaku Anda dan bagaimana Anda merespons. Perhatikan siapa rekan Anda yang cenderung membuat Anda merasa lebih cemas dengan komentar dan tindakan mereka, bersiaplah untuk menaikkan pertahanan psikologis Anda jika diperlukan.

Kedua, definisikan kesuksesan menurut diri Anda sendiri, bukan orang lain. Jika Anda akan mengabdikan diri, tubuh dan jiwa, untuk pekerjaan Anda, pilihlah pekerjaan di mana Anda punya kesempatan terbaik untuk berhasil dan menikmati apa yang Anda lakukan.

Jangan bertahan dalam pekerjaan yang tidak cocok dengan And, berhenti dari pekerjaan yang "tidak dapat Anda atasi" bukanlah tanda kegagalan, melainkan pertanda kesehatan akal dan kematangan emosional.

Dan, ketiga, akui dan rayakan kesuksesan Anda. Setelah seorang "insecure overachiever" mencapai suatu tujuan, mereka cenderung langsung mengabaikannya dan menetapkan standar yang lebih tinggi.

Jadi ketika Anda mencapai sesuatu, ingatlah betapa khawatirnya Anda tentang tidak berhasil, seberapa sering Anda berhasil terlepas dari masalah ini, dan tantang diri Anda untuk mempercayai bukti dari pola kesuksesan Anda yang terus-menerus.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini