Cegah Penyakit dari Pembusukan Jenazah Korban Gempa Donggala-Palu, Menkes Arahkan Cara Ini

Annisa Aprilia, Jurnalis · Selasa 02 Oktober 2018 10:35 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 02 481 1958423 cegah-penyakit-dari-pembusukan-jenazah-korban-gempa-donggala-palu-menkes-arahkan-cara-ini-YPd5U1fKND.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PASCA bencana alam gempa bumi dan tsunami di Kabupaten Donggala dan Kota Palu, menyisakan duka mendalam bagi korban dan masyarakat Indonesia. Korban selamat perlu tindakan kesehatan, mulai dari perawatan luka fisik hingga trauma.

Tidak cukup sampai di situ saja, tiga hari pasca terjadinya gempa disertai tsunami yang melanda Donggala, Mamuju dan Palu, sudah lebih dari delapan ratus korban jiwa yang jenazahnya telah diketemukan. Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek menyatakan sebaiknya jenazah para korban yang berhasil diketemukan segera dikumpulkan atau dipusatkan di rumah sakit, untuk nantinya dikuburkan secara massal.

 (Baca Juga: Di Negara Ini, Kamu Bisa Tahu Perempuan yang Masih Perawan Hanya dengan Lihat Gaya Rambutnya!)

Pemusatan jenazah korban gempa dan tsunami ini bertujuan untuk mengurangi risiko pencemaran akibat timbulnya penyakit infeksi yang bisa ditimbulkan dari pembusukan jenazah para korban.

“Jenazah-jenazah itu dikumpulkan di RS. Dalam hal ini kami minta agar cepat dikuburkan massal dengan maksud agar (pasien/masyarakat) tidak tercemar penyakit yang bisa menyebabkan infeksi (akibat pembusukan jenazah),”, tutur Menteri Kesehatan, Nila Moeloek, kepada sejumlah media saat ditemui usai pelaksanaan Apel Siaga Persiapan Asian Para Games 2018 di halaman kantor Kemenkes, Jakarta, kemarin 1 Oktober 2018.

 

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, dr. Achmad Yurianto, kepada Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI menjelaskan, jenazah mengalami pembusukan sejak satu jam pertama kematiannya. Pembusukan tercepat ada di bagian otak dan saluran pencernaan, karena seperti kita ketahui di dalam usus manusia tidak steril sehingga banyak mikroorganisme yang membentuk gas, akibatnya jenazah akan menggembung.

Dari proses pembusukan jenazah tersebut tidak menutup kemungkinan ada penyakit yang bisa disebabkan infeksi. Adapun risiko kesehatan yang bisa ditimbulkan dari pembusukan jenazah adalah keberadaan kuman yang dicemarkan melalui cairan maupun gas, sehingga dapat menimbulkan penyakit.

“Pembusukan yang cepat ini yang kita khawatirkan. Selain itu, cairan pembusukan jenazah ini bisa mengalir ke mana-mana, sangat berbahaya bagi pasien lain, oleh karena itu seharusnya dimakamkan. Pembusukan jenazah bisa menjadi lebih berbahaya pada korban yang mengalami luka terbuka,” ungkap dr. Yuri.

Saat ini, proses pemakaman massal sudah dimulai dengan menetapkan lokasi penggalian dan mulai penguburan secara bertahap, karena jenazah masih terus berdatangan. Namun, sebelum dikuburkan, jenazah yang datang di rumah sakit terlebih dulu diidentifikasi oleh pihak kepolisian untuk mengentahui identitas korban.

 BACA JUGA:

5 Busana Batik yang Cocok untuk Dikenakan di Kantor

Jika pada korban tidak terdapat kartu tanda pengenal, maka jenazah akan difoto kemudian dilabeli. Lewat foto korban tersebut nantinya bisa diketahui identitas bila di kemudian hari ada keluarga atau kerabat yang mengenali. Sementara pelabelan digunakan untuk data pada lokasi pemakaman massal.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini