nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gengsi Jadi Penyebab Tingginya Angka Penderita Gangguan Jiwa di Indonesia

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 03 Oktober 2018 07:44 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 02 481 1958748 gengsi-jadi-penyebab-tingginya-angka-penderita-gangguan-jiwa-di-indonesia-93qgyTVyfp.jpg Ilustrasi konsultasi (Foto: Shutterstock)

KERASNYA kehidupan di Indonesia ditambah dengan serangkaian masalah sosial membuat masyarakat rentan mengalami masalah kejiwaan. Hal ini tentu harus menjadi perhatian utama pemerintah untuk menjamin seluruh rakyatnya sehat secara mental dan fisik.

Ya, saat ini stigma mengenai pemeriksaan kesehatan kejiwaan manusia memang dipandang sebelah mata. Orang-orang biasanya enggan atau gengsi berkonsultasi dengan para psikiater karena kerap dianggap sebagai gila atau tidak waras. Hal inilah yang menjadi penyebab utama banyaknya masyarakat yang mengalami masalah kejiwaan di Indonesia.

BACA JUGA:

 5 Harajuku Style Ini Pasti Bikin Anda Geleng-Geleng, Unik Banget

Menanggapi masalah ini Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), dr Anung Sugihantono. M.Kes mengatakan bahwa Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes) sudah memasukan pemeriksaan masalah gangguan jiwa khususnya di dalam lingkup rumah tangga sebagai program pemerintah.

 

Hasilnya cukup memprihatinkan. Terbukti 15 persen dalam rumah tangga terdapat orang yang menderita gangguan jiwa. Jika ada satu orang yang mengalami gangguan jiwa dalam keluarga maka ada sekira 5-10 orang yang mengalami masalah kejiwaan. Masalah gangguan jiwa ini bukan hanya masalah individu tapi masalah komunitas yang harus dipecahkan.

Namun, masih banyak masyarakat yang tabu dan enggan memeriksakan dirinya. Asumsi hanya orang gila yang datang berkonsultasi dengan psikiater merupakan sebuah kesalahan yang wajib dihilangkan. Oleh sebab itu Kemenkes berupaya untuk memfasilitasi pelayanan kesehatan jiwa dengan baik agar bisa menangani pasien dengan cara yang lebih ramah.

“Stigma gangguan jiwa diawali dari diri sendiri. Hal ini akan menimbulkan olok-olok yang berakhir dengan bullying. Oleh sebab itu kami sudah memfasilitasi pelayanan kejiwaan di puskesmas dengan cara yang ramah,” tutur dr Anung, saat ditemuik Okezone di Gedung Adhyatma, Kuningan, Rasuna Said, Jakarta Selatan, belum lama ini.

BACA JUGA:

 Di Negara Ini, Kamu Bisa Tahu Perempuan yang Masih Perawan Hanya dengan Lihat Gaya Rambutnya!

dr Anung juga mengatakan pihaknya telah mengupayakan Unit Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai wadah identifikasi dini masalah kejiwaan. Namun belum semua sekolah menerimanya dengan baik. Justru masalah ini ditakutkan malah menjadi bumerang kepada sang anak bila lingkungan sekolah mengetahui masalah sang anak.

"Beberapa sekolahan belum menerima fasilitas ini. Jika dimunculkan dengan kurangnya persiapan maka hal ini berpotensi menjadi bumerang. Tidak semua fasilitas kesehatan melayani program ini dan tidak semua guru atau lingkungan sekolah menerimanya, malah mengakibatkan sang anak diberikan cap negatif atau nakal. Ini malah menimbulkan masalah ke anak tersebut," lanjutnya.

(dno)

Berita Terkait

Gangguan Jiwa

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini