nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Psikiater Tak Heran Jika Ada Aksi Jarah Usai Gempa dan Tsunami Palu

Leonardus Selwyn, Jurnalis · Rabu 03 Oktober 2018 09:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 10 03 481 1958930 psikiater-tak-heran-jika-ada-aksi-jarah-usai-gempa-dan-tsunami-palu-pzhsmJF0ke.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BENCANA gempa yang menimpa Palu dan sekitarnya memang menyisakan rasa pilu dan sedih yang mendalam di hati seluruh masyarakat Indonesia. Ribuan manusia menjadi korban keganasan alam yang seakan murka meluluh lantahkan sebagian wilayah di tanah air.

Banyak nyawa melayang dan mengalami cidera berat serta trauma psikis akibat musibah besar ini. Mereka yang kehilangan rumah pun tidak bisa mendapatkan kebutuhan dasar mereka, seperti makanan dan pakaian.

Akibatnya, banyak aksi anarkis berupa penjarahan minimarket maupun SPBU yang dilakukan oleh para korban gempa. Hal inilah yang memicu terjadinya tanda tanya besar tentang motif dibalik prilaku yang mereka lakukan.

Baca Juga: 5 Harajuku Style Ini Pasti Bikin Anda Geleng-Geleng, Unik Banget

Meski demikian, Ketua PDSKJI pusat, dr. Eka Viora, Sp.KJ, menegaskan prilaku para korban yang mulai bersifat merusak dan menjarah sangatlah normal. Ini semua adalah dampak dari trauma psikis yang mereka terima usai gempa.

Menurutnya, dengan tekanan yang besar membuat masyarakat Palu marah dan mengalami emosi tinggi, akibat bencana besar yang telah mengambil tempat tinggal mereka.

“Semuanya akan berubah tergantung bagaimana seseorang bisa memberikan psycology first aid. Situasi masyarakat sedang marah karena dilanda bencana,” tegas dr. Eka Viora, saat ditemui Okezone.

Baca Juga: Ketika Gal Gadot hingga Nicki Minaj Berhijab, Adam Levine Berpeci dan Snoopdogg Pakai Baju Koko

Menurut dr. Eka, salah satu hal yang wajib dilakukan saat ini untuk mengatasi para korban gempa Palu adalah dukungan secara sosial maupun psikologi. Berkaca pada musibah sebelumnya yakni di Lombok dan sekitarnya, maka akan banyak korban yang mengalami masalah kejiwaan.

“Sama seperti gempa Lombok, para korban membutuhkan dukungan sosial maupun psikologi. Jika fasenya sudah mulai mereda, atau telah melewati masa kritis akan trauma psikis, maka bisa dilihat apakah seseorang mengalami masalah kejiwaan atau tidak,” tuntasnya.

(mrt)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini