Share

Kebohongan Ratna Sarumpaet dari Kacamata Psikolog: Dia Membohongi Banyak Orang!

Muhammad Sukardi, Okezone · Kamis 04 Oktober 2018 08:43 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 04 196 1959460 kebohongan-ratna-sarumpaet-dari-kacamata-psikolog-dia-membohongi-banyak-orang-y1cYvcSTDM.jpg Ratna Sarumpaet (Foto: Okezone)

KASUS kebohongan Ratna Sarumpaet menjadi buah bibir di masyarakat Indonesia. Apa yang dia lakukan telah mencoreng namanya sendiri, bahkan mempermalukan pihak lain yang sempat membelanya.

Mengaku sebagai 'Pencipta Hoax Terbaik', tentu ini berkaitan dengan kemampuan khayalan dan imajinasinya. Kebohongan yang tercipta pun akhirnya menjadi pembahasan yang menarik, salah satunya terkait motif apa yang mendasari dia melakukan hal tersebut.

Sekali pun Ratna mengaku bahwa apa yang dia lakukan atas dasar bisikan setan yang dia pun tidak tahu dari mana datangnya, tapi, bagaimana kemudian psikolog melihat kasus kebohongan ini?

Okezone coba menanyakan kasus kebohongan Ratna Sarumpaet ini pada Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi. Menurutnya, apa yang dilakukan Ratna Sarumpaet (RS) adalah tindakan kebohongan yang merugikan banyak orang, tidak hanya anaknya. Namun, sebelum itu, Psikolog Mei coba menjelaskan kebohongan tersebut secara lebih luas dulu.

Psikolog Mei coba menjelaskan perilaku berbohong berdasar pendapat Mahon, J.E (2008) di mana dijelaskan di sana bahwa perilaku berbohong itu adalah satu bentuk ketidakjujuran atau kecurangan dalam bentuk pernyataan atau perbuatan yang tidak dapat dipercaya.

"Biasanya diiringi dengan niat untuk menjaga suatu rahasia atau reputasi, melindungi perasaan individu tertentu, menghindari hukuman, atau konsekuensi dari suatu tindakan," katanya pada Okezone, Kamis (4/10/2018).

Bisa dianggap sebagai sebuah perilaku berbohong, sambung Psikolog Mei, apabila tindakannya dilakukan secara diniatkan. Contoh mudahnya seperti ini, "kalau seorang anak berusaha membuat suatu cerita yang 'dibuat-buat' dalam rangka mendapat pujian dan diterima oleh kelompoknya, biasnya anak akan berbohong terutama saadia sedang mengalami suatu masalah dan ingin keluar dari masalahnya atau saat sedang menginginkan suatu hal," ungkap Mei.

Jika tidak diberikan edukasi atas perilakunya ini, maka perilaku ini akan berkembang dan akhirnya menetap menjadi bagian dari karakter si anak di masa dewasa dan dapat berkembang menjadi gangguan perilaku mal-adaptif yang lebih berat (gangguan klinis).

Psikolog Mei melanjutkan, seseorang berbohong bisa dengan berbagai alasan. Jika mengacu pada teori Vrij (2001), ada 5 alasan mendasar kenapa seseorang bisa berbohong.

Pertama, berbohong dalam rangka membuat kesan positif terhadap orang lain atau untuk melindungi dirinya dari rasa malu atau penolakan dari individu lain. Kedua, individu berbohong dalam rangka mendapatkan keuntungan.

Ketiga, berbohong dilakukan untuk menghindari hukuman. (Ketiga jenis bohong ini dapat dikategorikan sebagai self-oriented yakni bertujuan agar pelakunya tampak tampil lebih baik di hadapan orang lain dan untuk memperoleh keuntungan pribadi).

Keempat, ada jenis lain di mana orang berbohong untuk keuntungan orang lain. Jadi, dia berbohong untuk membuat orang lain jadi tampak lebih baik atau melindungi orang lain. Hal ini juga biasa disebut sebagai other-oriented lie.

Individu yang melakukan tipe bohong seperti ini biasanya adalah individu yang sudah merasa dekat dan memiliki keterlibatan emosional dengan orang yang dilindunginya tersebut.

Kelima, yakni jenis ‘social lies’, di mana perilaku berbohong yang tampil adalah untuk tujuan memelihara hubungan sosial.

Tipe berbohong ini didasari pemikiran bahwa dalam setiap relasisosial, percakapan akan terkesan kaku dan cenderung membuat pelaku interaksi menjadi tidak nyaman dan merasa terganggu manakala saling mengutarakan kejujuran satu sama lain.

Di lain sisi, Psikolog Mei juga memaparkan bahwa ada jenis kebohongan dengan gangguan psikologis yang biasa dikenal dengan istilah mythomania.

"Istilah mythomania pertama kali diperkenalkan pada tahun 1905 oleh seorang psikiater bernama Ferdinand Dupre. Mythomania merupakan kebohongan yang dilakukan seseorang bukan dengan tujuan menipu orang lain," papar Psikolog Mei.

Mereka para penderita gangguan mythomania akan membuat dirinya sendiri percaya bahwa kebohongan yang dia buat adalah nyata.

Ada hal yang membedakan mythomania dengan kebohongan biasa, yaitu penderita sering tidak sadar bahwa dia sebenarnya sedang berbohong dan menceritakan khayalan yang ada di dalam kepalanya.

Jika Anda masih ingat, terang Psikolog Mei, salah satu kasus gangguan mythomania ini adalah skandal Enric Marco. "Pria Spanyol yang menghabiskan 30 tahun hidupnya dengan mengatakan bahwa dirinya telah dipenjara oleh Nazi di kamp konsentrasi Flossenburg, Jerman," ungkapnya.

Penyebab mythomania ini adalah kegagalan-kegagalan dalam kehidupan si pasien. Misalnya kegagalan dalam hal studi, masa kecil, masalah keluarga, kisah-kisah sentimentil, bahkan kegagalan dalam pekerjaan.

Ada pula individu yang berbohong disebabkan oleh kerusakan sistem syaraf, dinamakan sebagai 'bohong patologis' (Dike CC, 2008).

Nah, untuk berbagai kasus misal yg terjadi pada RS, menurut Psikolog Mei, harus dibuktikan apakah kebohongannya benar kepada anaknya atau ada motif lain.

"Ini harus dibuktikan dengan penyelidikan. Namun kalau benar ia berbohong dengan anaknya ini bisa masuk di alasan yang pertama (alasan berbohong menurut Vrij, 2001). Namun kalau ternyata dia memiliki motif lain, mungkin masuk di poin ke-2 yaitu untuk mendapatkan keuntungan," terang Psikolog Mei.

Sehingga perlu disadari, tambah Psikolog Mei, jika berbohong menjadi hal yang tanpa sadar sering dilakukan, maka dibohongi pun adalah suatu kejadian yang kadang sulit untuk disadari. Namun pada kenyatannya cukup menyakitkan saat kita sadar sedang/telah dibohongi, bukan begitu?

Baca Juga: Aksi Nyata 50 Tahun Hidupkan Inspirasi, Indomie Fasilitasi Perbaikan Sekolah untuk Negeri

Follow Berita Okezone di Google News

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini