Komentar Warganet atas Kebohongan Oplas Ratna Sarumpaet, Psikolog: Cuma Ungkap Kekesalannya

Dewi Kania, Jurnalis · Kamis 04 Oktober 2018 15:04 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 04 196 1959637 komentar-warganet-atas-kebohongan-oplas-ratna-sarumpaet-psikolog-cuma-ungkap-kekesalannya-aLVnNphDvu.jpg Ratna Sarumpaet (Foto: Okezone)

WARGANET telah dibuat kesal atas drama kebohongan operasi plastik Ratna Sarumpaet. Mereka mengungkapkan kekesalan di media sosial dengan beragam cara, mulai dari membuat tanda pagar WajahmuPlastik, SaveRioDewanto, hingga membuat meme-meme kocak.

Sejak kemarin publik dihebohkan dengan kebohongan nenek Baby Salma itu. Sehari sebelum mengaku bahwa mukanya lebam akibat efek dari sedot lemak, muncul berita bahwa aktivis politik itu dianiaya di Bandung, Jawa Barat.

Sebenarnya banyak kejanggalan yang bisa ditelusuri dari aksinya itu. Sampai akhirnya, dia mengaku bahwa telah membuat kabar bohong soal operasi plastik.

 (Baca Juga:Wanita-Wanita Tangguh yang Melahirkan Setelah Usia 60 Tahun, Ada yang Punya Bayi Kembar 3!)

Warganet pun kesal dan kecewa berat dengan mertua Rio Dewanto itu. Menanggapi hal itu, Psikolog Sani Budiantini pun ikut bicara.

"Sebenarnya ungkapan netizen di media sosial itu sekadar menunjukkan reaksi marah, kesal dan kecewa. Namun bentuknya bukan bullying," ujarnya saat dihubungi Okezone, Kamis (4/10/2018).

 

Sani menjelaskan, ada perbedaan antara ungkapan rasa kecewa dengan bullying. Seperti apa itu?

Saat seseorang melakukan bullying artinya ketika dia ingin menghakimi orang melalui ledekan. Sementara saat warganet menunjukkan reaksi marah harusnya bisa disalurkan melalui berbagai cara.

 (Baca Juga:Ratna Sarumpaet Ngaku Bohong Oplas di Hadapan Keluarga, Apakah Hubungannya Tidak Akur?)

"Kalau liat reaksi komentar di media sosial, intinya ini sih netizen marah dan kesal, bukan bullying" jelasnya.

Sani menegaskan, mestinya warganet bisa mengungkapkan rasa amarahnya dengan berbagai cara, terlebih harus tidak bertele-tele atau harus gamblang. Bukannya ikut menjatuhkan pelaku kebohongan tersebut.

"Bentuk marah beda-beda, ada yang ngomong dengan ekspresif dan disalurkan dengan cara sehat. Intinya orang itu harus eksplisit, jangan implisit menyampaikannya," tutupnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini