nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bagaimana Menyikapi Anak Laki-Laki yang Suka Make-Up? Ini Jawaban Psikolog!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 08 Oktober 2018 17:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 10 08 194 1961097 bagaimana-menyikapi-anak-laki-laki-yang-suka-make-up-ini-jawaban-psikolog-SszJSG8DEb.jpg Anak laki-laki (Foto: Ist)

APAKAH Anda sadar bahwa sekarang ini semakin banyak anak dan remaja yang mengekspresikan diri secara terbuka, tak terkecuali mengenai gender dan seksualitasnya.

Hal ini tentu ada kaitannya dengan keterbukaan informasi dan semakin banyak orang tua yang demokratis mengenai hal tersebut. Tapi, bagaimaan psikolog menilai hal tersebut?

Dijelaskan Psikolog Analisa Widyaningrum, M.Psi., menilai bahwa fenomena ini menjadi penting karena berkaitan dengan gender dan seksualitas anak. Maka dari itu, pendidikan mengenai gender dan seksualitas perlu dipahami dengan baik.

BACA JUGA:

 6 Gaya Tampilan Petinju Muslim Khabib Nurmagomedov yang Bikin Perempuan Luluh Dibuatnya

"Kita semua tahu bahwa pendidikan gender dan seksualitas itu sudah harus dilakukan sejak dini. Ibu dan ayah harus menjelaskan perannya masing-masing, bukan sekadar kamu pakai baju biru dan kamu pakai baju merah muda," terangnya pada Okezone beberapa waktu lalu.

Psikolog Ana juga melanjutkan, jika memang akhirnya anak laki-laki memiliki ketertarikan lebih pada make-up yang mana ini diartikan sebagai sesuatu yang bersifat feminin, maka ayah harus berperan di sini.

 

"Kalau boleh jujur, anak saya yang laki-laki pun pernah penasaran dengan make-up tapi, memang tidak ada ketertarikan lebih pada alat rias tersebut. Nah, kalau sudah begitu, ayah harus memainkan perannya, misalnya mengajak si anak bermain tennis atau bermain dengan ayahnya dibandingkan mengetahui lebih jauh tentang make-up," papar Psikolog Ana menjelaskan kondisi keluarganya sendiri.

 Baca Juga: Deretan Wanita Tercantik Dunia Sepanjang Masa, Siapa Sajakah?

Nah, peran ayah yang dirasakan si anak yang kemudian membuat dia sadar bahwa apa yang dia lakukan tidak sesuai dengan yang seharusnya. Bukan kemudian membatasi eksplorasi anak, tapi adanya ibu dan ayah ini yang kemudian menjelaskan bagaimana peran laki-laki dan perempuan di lingkungan.

 

Tidak menutup mata juga bahwa sekarang ini pekerjaan tidak mengenal gender. Sebut saja juru masak, make-up artist, atau designer, yang malah banyak diisi oleh kaum Adam. "Poinnya di sini adalah anak setidaknya tahu gender dan seksualitasnya dan hal ini penting agar tidak menimbulkan masalah lebih lanjut atau membawa dampak yang kurang baik di kehidupan si anak," tambahnya.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini