Pengrajin Batik Lasem di Rembang Kini Manfaatkan Pewarna Alami

Antara, Jurnalis · Senin 08 Oktober 2018 20:30 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 08 194 1961215 pengrajin-batik-lasem-di-rembang-kini-manfaatkan-pewarna-alami-RMaOSfMOnL.jpg Pengrajin batik lasem (Foto: Infobatik)

PENGRAJIN batik Lasem dari Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, mulai mengembangkan produk batik tulis dengan pewarna alami yang lebih ramah lingkungan. Seorang perajin batik Lasem, Sugiarto mengatakan, produk batik tulis Lasem sejak setahun terakhir mulai menggunakan pewarna alami.

"Sebelumnya kami menggunakan pewarna kimia. Pewarna alami yang kami gunakan berasal dari akar-akaran seperti akar mengkudu dan batang mahoni," katanya. Batik yang diproduksi perajin di desa Lasem adalah batik tulis. Proses pengerjaannya memakan waktu cukup lama sekitar satu bulan, mulai dari pembuatan pola hingga menjadi kain batik siap pakai.

BACA JUGA:

 Tren Mistik, Pria-Pria di Thailand Mengecat Kuku untuk Hindari Serangan Hantu Janda

Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp200 ribu hingga Rp6 juta. "Tergantung motif. Semakin rumit motifnya, semakin mahal," katanya. Motif sekar jagad merupakan motif khas batik Lasem. Namun untuk memenuhi permintaan pelanggan, perajin juga membuat modifikasi motif batik.

 

(Ilustrasi batik lasem/Myimage)

Sejak 2011 perajin batik di Lasem sudah menjadi binaan Bank BNI yang membantu perajin di bidang pemasaran serta memberikan pelatihan. BNI juga mendirikan Kampung BNI di Kampung Babagan, Desa Lasem untuk membantu perajin memasarkan produknya.

"Di desa kami ada sekitar 20 sampai 30 perajin batik yg masuk dalam satu kelompok perajin," katanya, seraya menambahkan, umumnya mereka memperoleh ilmu membatik secara turun temurun.

Sugiarto berharap dengan mengikuti pameran di Paviliun Indonesia, mulai ada permintaan ekspor untuk batik Lasem produksi kelompok perajin. "Tentunya kalau untuk memenuhi permintaan ekspor kami harus ada gabungan kelompok perajin," ujar dia.

Selama ini, batik Lasem produksi Kampung BNI di Babagan baru dipasarkan di pasar lokal seperti Yogyakarta dan sekitarnya. Saat ini di Kabupaten Rembang ada sekitar 200 perajin batik, kata Sugiarto.

BACA JUGA:

 6 Gaya Tampilan Petinju Muslim Khabib Nurmagomedov yang Bikin Perempuan Luluh Dibuatnya

Paviliun Indonesia digelar dalam rangkaian Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional dan bank Dunia selama 8-14 Oktober di Nusa Dua, Bali.

Selain memamerkan capaian pembangunan Indonesia, sekitar 150 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dari 64 pemerintah kabupaten/kota di Indonesia juga dilibatkan untuk memamerkan hasil karyanya.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini