nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ringau, Ikan Pembawa Berkah Warga Kubu Raya yang Sedang Hits

Ade Putra, Jurnalis · Selasa 09 Oktober 2018 14:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 09 406 1961583 ringau-ikan-pembawa-berkah-warga-kubu-raya-yang-sedang-hits-XlWFqaMOTN.jpg Ikan ringau (Foto: anas_sarully/Instagram)

SEPEKAN lalu, hampir di setiap sungai di kawasan Kecamatan Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat mendadak ramai. Semua kalangan, anak-anak, dewasa, laki-laki bahkan perempuan, turun ke sungai.

Mereka bukan dalam rangka membersihkan sungai, tapi mengais rezeki dengan serokan ikan. Kadang, ada yang pakai tudung saji. Ya, warga-warga itu menangguk ikan. Ikan yang sedang jadi primadona ini bernama Tiger Fish. Ikan yang bertubuh belang-belang itu lebih dikenal sebagai Ringau.

"Di sini, sudah sepekan lalu heboh ikan ini harganya mahal. Tapi saya turun ikut menangguk sejak dua hari lalu," kata Junaidi, salah seorang warga Desa Rasau Jaya Umum, Kecamatan Rasau Jaya kepada Okezone, Senin, 8 Oktober 2018.

Pemuda 23 tahun ini menjelaskan, saat ini pasaran harga ikan tersebut sebesar Rp20 ribu. Dulunya, saat baru-baru heboh, pengepul berani membayar ikan ini seharga Rp11 ribu sampai Rp13 ribu.

 (Baca Juga:Pangandaran Bakal Disulap Layaknya Pantai di Hawaii)


"Itu harga beli ikan dari pengepul. Belum tahu kalau harga pasaran di kota. Ikan ini, ukurannya tak lebih besar dari biji kacang," paparnya.

Selama dua hari ini, kata Junai, ia berhasil menangguk hampir 30 ekor ikan. "Saya lihat orang-orang ramai di sungai belakang rumah, jadi saya ingin turun juga. Saya pakai serokan ikan, buat sendiri pakai jaring," tuturnya.

Melihat potensi ini, Junai bahkan izin kerja demi turun berburu ikan Ringau bersama warga-warga lainnya. Tak hanya dia, ada pula yang absen kerja demi ikan mungil ini.

"Kebetulan bos izinkan. Karena di sini memang heboh, jadi semuanya pada menangguk ikan Ringau. Bos memaklumi," ujar karyawan mebel ini.

Ia juga tak mengetahui kegunaan dari ikan ini sampai-sampai ada yang berani membayar mahal untuk ukuran sekecil itu. Yang dia tahu, ikan ini kadang mudah ditemui di batang kayu berlumut dan rumput-rumput sungai.

 (Baca Juga:Bersiap Menjelajahi Surga Bahari di Festival Pesona Raja Ampat 2018)

"Katanya akan diekspor. Enggak tahu juga untuk apa. Saya manfaatkan peluang saja. Anak-anak SD juga banyak yang nangguk ikan ini," ucapnya.

Dedek Hermansyah juga tak mau ketinggalan. Saat melihat orang-orang ramai di sungai dekat rumahnya, warga Desa Rasau Jaya Umum ini pun turun ikut menangguk. "Saya pas pulang kerja, saya lihat ramai orang. Saya langsung ganti celana dan ikut menangguk," kata pria 28 tahun ini.

Pria yang keseharian sebagai Manager Pemasaran Cabang salah satu dealer sepeda motor ini mengaku juga gemas melihat warga turun ke sungai. "Makanya saya jadi pengen nangguk. Dua hari ini saya dapat 28 ekor ikan. Lumayan kan," paparnya.

Saat ini, setiap kali kondisi air sungai surut, warga pasti ramai menangguk ikan. Bahkan, saking ramainya, kondisi air jadi keruh. Hal itu juga menjadi kendala untuk mendapat ikan dalam jumlah yang banyak.

"Kalau yang nangguk ramai, agak susah dapatnya. Bahkan, ada warga yang cerita, di salah satu daerah tidak boleh ada warga luar atau bukan warga setempat yang menangguk di sana," timpal Rizky, warga lainnya yang juga ikut menangguk.

Ahmadi Ramsyah, salah seorang pengepul menerangkan, ia membeli ikan Ringau seharga Rp20 ribu dari setiap warga yang menangguk. Pria 26 tahun ini kemudian menjual ikan yang dikumpulkan itu ke agen. Ia mendapat untung untuk seekor ikan berkisar Rp3 ribu sampai Rp5 ribu.

 (Baca Juga:Peristiwa Langka! Jakarta Bakal Alami Hari Tanpa Bayangan)

Di samping keuntungan itu, Ahmad juga harus siap menerima risiko bila ikan yang dibelinya kemudian mati. "Saya beli dalam keadaan hidup. Kalau mati pas di tangan saya, ya saya yang rugi. Makanya harus siapkan oksigen," terangnya.

 

Ia mengaku, niat menjadi pengepul ketika melihat potensi yang menggiurkan. "Karena kalau sudah ramai yang menangguk, ikannya susah dapat. Makanya, baiknya saya jadi pengepul saja. Untungnya juga lumayan. Walaupun ada risiko," jelas Ahmad.

Selama ini, dia sudah berhasil membeli dan menjual kembali ratusan ekor ikan dari warga. Ia pun merasakan keuntungannya.

Selain di Kabupaten Kubu Raya, sejak dua tahun lalu ikan ini juga sudah diburu masyarakat dan nelayan di Kabupaten Kapuas Hulu, ujung Kalimantan Barat. Salah satunya di Kecamatan Selimbau.

Di sana, kala itu harga untuk satu ekor ikan Ringau dihargai sekitar Rp700 ribu sampai Rp1 juta. Harga itu tergantung ukuran, garis dan warna. Pada dasarnya, ikan ini bewarna hitam, bergaris kuning.

Bahkan jika ikan Ringau dengan warna dan garis yang lebih menarik, bisa dihargai lebih dari Rp1 juta per ekor. Informasinya, ikan ini digunakan sebagai ikan hias dan diikutkan kontes. Baik dalam maupun di luar negeri.

"Kemungkinan warnanya yang menarik, dan makin sulit ditemukan, makanya punya nilai jual tinggi," kata Andi Fachrizal, Pemerhati Lingkungan Kalbar.

Ia menerangkan, ikan jenis hias dan konsumsi ini habitatnya ada di kawasan Danau Sentarum dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kapuas Hulu. Tapi, sekarang susah ditemui.

Hal itu, menurutnya ada kemungkinan terjadi eksploitasi besar-besaran. Lantaran ikan ini punya nilai ekonomi tinggi. "Sehingga risiko kepunahan sangat tinggi juga," ujarnya.

Pria yang akrab disapa Daeng ini berpandangan, setiap satwa yang nyaris punah, sudah seharusnya dilindungi.

"Saya belum lihat regulasi baru soal jenis satwa dilindungi. Tapi sejatinya, jika memang sudah terancam punah, ikan ini harus dilindungi. Artinya, yang berwenang adalah pemerintah pusat. Dalam hal ini KLHK," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini