nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tidak Hanya DBD, Gigitan Nyamuk Juga Bisa Sebabkan Radang Otak dan Ini Mengancam Nyawa!

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Selasa 09 Oktober 2018 08:18 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 09 481 1961407 tidak-hanya-dbd-gigitan-nyamuk-juga-bisa-sebabkan-radang-otak-dan-ini-mengancam-nyawa-gImTPxx8yS.jpg Gigitan Nyamuk (Foto: NyPost)

BUKAN hal aneh jika kita bicara mengenai masalah kesehatan yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Salah satu penyakit yang paling dikhawatirkan dari gigitan nyamuk adalah Demam Berdarah Dengue (DBD).

Namun, bukan hanya DBD yang menjadi persoalan di kasus ini. Sebab, seorang anak di Ohio mengalami kondisi memprihatikan setelah dia digigit nyamuk di ruang terbuka.

Dilansir Okezone dari New York Post, Selasa (9/10/2018) Joshua Gay yang berusia 7 tahun kala itu bermain bola di ruang terbuka pada 27 Agustus 2018. Namun, belakangan ini dia merasa sakit kepala menahun dan setelah diperiksa, nyawanya terancam!

Baca Juga:

"Saya memeriksa Joshua karena gejala flu dan langsung mengambil dia dari sekolahnya. Kabar ini saya dapatkan dari pihak sekolah dan meminta Joshua untuk segera ditangani dokter karena badannya sangat panas," terang perawat ruang gawat darurat di Rumah Sakit Aultman Carissa Gambs yang juga ibu dari Joshua.

Gambs menjelaskan bahwa penanganan yang dia berikan sudah sesuai dengan prosedur. Dia memberikan Tylenol dan Motrin untuk anak-anak sebelum akhirnya Joshua dibawa pulang. Keesokan paginya, entah bagaimana, suhu tubuh Joshua dia angka 40,1 derajat selsius.

"Saya pikir itu hanya flu atau karena paparan kuman di sekolah," tambah Gambs.

Gambs melanjutkan, tidak ada tanda-tanda lain dari tubuh si anak selain demam yang sangat tinggi. Tapi, bagaimana pun juga kondisi suhu tubuh yang sudah sangat tinggi seperti itu, sudah harus istirahat di rumah dan mendapatkan penanganan medis yang benar.

"Saat saya memeriksa Joshua di kamarnya, dia tidak memberikan respon sama sekali," terang Gambs. Dia langsung mendiagnosis bahwa Joshua mengalami "Focal Seizure" atau kejang fokal.

Saat itu juga Joshua dilarikan ke Rumah Sakit Aultman sebelum akhirnya dia dipindahkan ke Rumah Sakit Anak Akron. Di rumah sakit itu Joshua didiagnosa mengalami masalah kesehatan "La Crosse enchephalitis" atau masalah radang otak.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), virus yang ditularkan ke tubuh Joshua berasal dari gigitan nyamuk yang terinfeksi. Gejala dari masalah ini antara lain demam yang sangat tinggi, sakit kepala, mual, muntah, dan kelelahan yang teramat sangat.

Lebih lanjut, dijelaskan di sana bahwa kondisi yang parah itu jika terjadi pada anak di bawah 17 tahun. Biasanya, pasien akan mengalami kejang, koma, kelumpuhan, cacat dalam jangka waktu yang panjang, atau bahkan kematian.

Meski pun tidak ada pengobatan khusus untuk virus tersebut, gejala biasanya dikelola berdasar kasus per kasus. Menurut CDC, cara terbaik untuk mencegah virus ini adalah dengan menggunakan obat nyamuk atau memakai pakaian yang panjang, termasuk baju dan celana, serta mengenakan kaos kaki.

Kembali ke kasus Joshua, dia dipulangkan dari rumah sakit pada akhir September. Tapi, yang perlu Anda ketahui adalah saat proses penyembuhan, Joshua sampai diinkubasi dan ditempatkan di ventilator selama 6 hari sementara itu dokter terus berupaya mengendalikan kejang dan demam yang terus tinggi derajatnya.

Hal yang mesti diketahui juga, sekali pun Joshua sudah kembali bersekolah, sesaat sebelum akhirnya diperbolehkan pulang, Joshua harus melakukan terapi fisik selama 4 minggu untuk membantu masalah keseimbangan dan kelemahan kakinya, serta tindak lanjut dengan beberapa spesialis neurologis dan ahli terapi okupasi.

Dokter menjelaskan bahwa kekambuhan kejang pada Joshua masih sangat mungkin terjadi.

"Anak saya sekarang memiliki sedikit rasa trauma yang mendalam karena harus menjalani tindakan medis yang sangat panjang di usianya yang masih kecil. Walau begitu, saya tetap menguatkan dia untuk terus berjuang melawan penyakitnya sekali pun saya sempat merasa bersalah, merasa marah dengan keadaan, dan menangis menjadi hal yang wajah selama proses penyembuhan Joshua," kata Gambs.

Dia juga berterima kasih kepada semua orang yang selalu ada di sampingnya saat Joshua menjalani rangkaian perawatan medis. "Saya sadar bahwa ada sekitar 30% kekambuhan kejang dalam Joshua tapi saya berusaha untuk meminimalisir risiko kambuh tersebut," tambahnya.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini