nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Angka Fertilitas di Indonesia Menurun, Masyarakat Kian Sadar Efektivitas Kontrasepsi

Antara, Jurnalis · Selasa 09 Oktober 2018 21:45 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 09 481 1961784 angka-fertilitas-di-indonesia-menurun-masyarakat-kian-sadar-efektivitas-kontrasepsi-tapHhik7Xi.jpg Kontrasepsi (Foto: Bettyme)

BADAN Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengatakakan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017 menunjukkan angka fertilitas total turun dari 2,6 anak tahun 2012 menjadi 2,4 anak per perempuan pada tahun 2017.

"Hari ini kita melakukan 'launching' (peluncuran) Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia yang dilaksanakan tahun 2017, yang lalu kita lakukan tahun 2012," kata Pelaksana Tugas Kepala BKKBN Sigit Priohutomo dalam acara peluncuran Hasil Laporan Akhir Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 di Jakarta, Selasa.

Angka fertilitas total adalah jumlah anak rata-rata yang akan dilahirkan seorang perempuan pada akhir masa reproduksinya.

"Hasilnya umumnya terjadi peningkatan yang baik artinya kalau TFR akan hampir mencapai target yang ditentukan, kemudian penggunaan kontrasepsinya juga meningkat," ujarnya.

 Baca Juga: Pamer Perut Buncit Dibalut Gaun Nude, Raisa Bikin Netizen Jatuh Hati

Angka TFR 2,4 anak per perempuan pada 2017 masih berada dalam jalurnya untuk mencapai sasaran rencana strategi 2015-2019 yakni 2,3. Setidaknya untuk saat ini ada tren kecenderungan penurunan untuk mendekati target itu.

 

Sementara target pemerintah adalah menurunkan angka TFR menjadi 2,1 pada 2020. Angka kelahiran menurut kelompok umur 15-19 tahun mengalami penurunan dari 48 pada hasil SDKI 2012 menjadi 36 pada 2017. SDKI 2017 juga menunjukkan peningkatan pemakaian kontrasepsi pada kelompok perempuan umur 15-49 tahun menjadi 64 persen dibandingkan pada SDKI 2012 sebesar 62 persen.

Sementara jika dibandingkan dari 1991, persentase perempuan yang memakai alat/cara kontrasepsi atau KB meningkat dari 50 persen pada SDKI 1991 menjadi 64 persen pada SDKI 2017.

Persentase kebutuhan ber-KB yang tidak terpenuhi mengalami penurunan dari 11,4 pada SDKI 2012 menjadi 10,6 persen pada SDKI 2017. SDKI 2017 juga menjelaskan pendapat remaja terhadap umur ideal menikah pertama adalah 23,7 tahun untuk perempuan sedangkan untuk pria adalah 22,8 tahun.

"89 persen remaja perempuan mengetahui metode kontrasepsi suntik dan pil, sedangkan remaja pria lebih mengenal kondom," tuturnya.

SDKI adalah suatu survei berskala nasional yang dirancang khusus untuk mendapatkan informasi mengenai kelahiran, keluarga berencana, kesehatan ibu dan anak, kematian ibu dan anak serta pengetahuan tentang HIV/AIDS dan penyakit infeksi menular seksual.

SDKI dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik bekerja sama dengan BKKBN dan Kementerian Kesehatan.

 

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Nila Moeloek menegaskan salah satu upaya untuk menurunkan angka TFR menjadi 2,1 pada 2020 ialah dengan mengupayakan penurunan angka perkawinan dini. Salah satu penyumbang kasus kematian ibu saat melahirkan ialah dari perkawinan dini yang membuat kehamilan di usia muda.

Pelaksana Tugas Kepala BKKBN Sigit Priohutomo menerangkan BKKBN telah memiliki program Generasi Berencana (GenRe) yang mengedukasi pemuda di seluruh Indonesia untuk menghindari terjadinya pernikahan dini.

 Baca Juga: Beredar Foto yang Diambil pada Tahun 1940, Ada Sosok yang Bikin Geger Jagad Maya!

"Dari anak muda sudah merencanakan. Tidak hanya kelahiran, tapi mulai dari merencanakan pendidikan, kesempatan bekerja, baru merencanakan keluarga," kata Sigit.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini