nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Film Pendek Salah Satu Cara Efektif Edukasi Masyarakat Soal Perdagangan Manusia

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 11 Oktober 2018 04:45 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 10 10 196 1962413 film-pendek-salah-satu-cara-efektif-edukasi-masyarakat-soal-perdagangan-manusia-ko9KWZbr5X.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

TIDAK bisa dipungkiri kasus perdagangan manusia masih terus ada. Dengan berbagai masalah yang ada di masyarakat, berbagai pihak pun mulai peduli akan kasus ini.

Salah satu caranya ditempuh Maizidah Salas bersama teman-teman dan didukung Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) membuat film pendek yang menceritakan kisah nyata kronologi perekrutan perdagang manusia. Lewat film pendek berjudul Impian Negeri Berkabut, pemerintah, Salas, dan teman-teman berupaya mengedukasi masyarakat dengan cara yang cukup mudah dipahami.

"Film Impian Negeri Berkabut dibuat berdasarkan fakta di lapangan, pengalaman, kemudian informasi dikumpulkan. Proses shooting enam hari dengan mengambil set di Wonosobo, Jawa Tengah," ujar Maizidah Salas, salah seorang pemain, produser, dan pernah jadi korban perdagangan manusia beberapa tahun lalu, dalam acara malam ramah tamah Rapat Koordinasi Nasional Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (GT PP-TPPO) Tahun 2018, Working Together in Harmony, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Rabu, 10 Oktober 2018.

(Foto: Annisa Aprilia/Okezone)

(Baca Juga: Sukses Mendirikan 9 Cabang, Pemilik Kedai Roti Bakar Eddy Meninggal Dunia di Usia 66 Tahun)

Pada malam yang cukup khidmat tersebut, para undangan turut larut terbawa emosi oleh alur cerita yang dibawakan Maizidah Salas sebagai Juminah kakak dari Wulan, tokoh yang hampir jadi korban perdagangan manusia. Wulan digambarkan sebagai perwakilan remaja yang terbuai akan rayuan mafia, karena menginginkan gaya hidup mewah, salah satunya memiliki motor.

Sayangnya, jalan yang dipilih Wulan kurang tepat, sehingga ia hampir terjerumus ke praktik perdagangan manusia. Beruntung, kakaknya yaitu Juminah berhasil menemukan tempat penampungannya, dan berhasil membawa kabur Wulan meski diakhir Juminah harus tertembak peluru panas dari senapan salah seorang mafia sebelum akhirnya diselamatkan oleh pihak berwajib dan kembali hidup bahagia bersama adiknya setelah lolos dari jerat perdagangan manusia.

 (Baca Juga: Demam Seberapa Greget Challenge, Reza Artamevia Nyanyi Mars Perindo di Luar Negeri?)

"Saya ingin film ini untuk edukasi masyarakat terutama anak-anak sekolah, sebab sasarannya anak sekolah yang lulus SMP dan SMA yang mulai direkrut. Salah satu contohnya Wulan, yang lainnya 68 orang dipenjara di Malaysia, Alhamdulillah Wulan mau mendengarkan dan tidak jadi korban," imbuhnya.

Lebih lengkap Salas menjelaskan, perdagangan manusia memiliki sasaran utamanya adalah orang-orang pedesaan yang dianggap miskin dan bodoh. Kemudian, kasus serupa kembali mencuat dengan modus baru, yaitu perkawinan anak yang orangtuanya diberikan uang sekira Rp10 juta, sedangkan anaknya dikenalkan dengan orang luar negeri, lalu diiming-imingi kalau nanti menikah akan jadi orang kaya, tapi pada kenyataannya justru akan dieksploitasi secara seksual, kembali lagi barang mewah dan gaya hidup lah yang tetap jadi daya tarik utama korban perdagangan manusia.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini