Perjalanan Berliku Eddy Supardi Membangun Usaha Roti Bakar Eddy, Sering Banget Diusir

Pradita Ananda, Jurnalis · Rabu 10 Oktober 2018 20:57 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 10 298 1962348 perjalanan-berliku-eddy-supardi-membangun-usaha-roti-bakar-eddy-sering-banget-diusir-BU8eWwZEdv.jpg Roti bakar Eddy (Foto: Daftarhargamenu)

MEMBANGUN sebuah usaha memang tidak pernah mudah. Setiap orang yang merintis bisnis, punya berbagai cerita masing-masing. Ada yang mulus langsung sukses, tapi banyak juga yang berliku.

Bicara soal perjalanan bisnis berliku, ini jugalah yang dirasakan oleh Eddy Supardi. Asing dengan namanya? Beliau adalah pendiri sekaligus pemilik Kedai Roti Bakar Eddy yang terkenal se- Jakarta, khususnya Jakarta Selatan.

Awal kisah perjalanan membangun bisnis Eddy, disebutkan di tahun 1966. Ia kala itu masih berusia 15 tahun, berpikir ingin mencari nafkah yang lebih baik di Jakarta daripada hanya tinggal di Solo, Jawa Tengah.

 (Baca Juga:Heboh Video Bocah Diinjak Pakai Sepatu Boot, Netizen: Inginku Berkata Kasar)

Awalnya, tiba di Jakarta Eddy juga menjadi pegawai terlebih dahulu dengan menjadi karyawan di warung roti bakar kaki lima. Tugasnya kala itu melayani dan membereskan barang dagangan, selain itu ia disebutkan juga pernah menjadi penjual koran. Walau hidup susah, Eddy bertahan untuk tidak pulang ke kampung halamannya.

 

(Foto: roti Bakar Eddy/Doyanjajan.blogspot)

Namun dengan kesabaran dan sifat hematnya, akhirnya Eddy berhasil menjadi pedagan sendiri. Sebelum roti bakar, ia terlebih dahulu berjualan lontong sayur dan bubur ayam di kawasan Blok-M, Jakarta Selatan, tepatnya sekarang kawasan kampus Al-Azhar Indonesia.

Awal berjualan, Eddy hanya menggunakan gerobak sederhana di pinggir jalan. Sebagai pedagang kaki lima, Eddy kenyang harus berurusan dengan petugas keamanan dan ketertiban kota. Menurut salah satu anak laki-laki Eddy, Ariyadi, dulu sang Ayah saat berdagang langganan diusir oleh petugas kamtib setempat.

Sebagai pedagang kaki lima, Eddy dikisahkan bergonta-ganti dagangan. Sampai pada akhirnya di tahun 1971 ia mencoba berjualan roti bakar di lokasi yang sama. Dengan pertimbangan, kala itu di lokasi tersebut belum ada yang menjual roti bakar ditambah Eddy memiliki pengalaman dulu sebagai karyawan di kedai roti bakar.

Awalnya, pendapatan Eddy hanya cukup untuk makan sehari-hari. Tapi perlahan tapi pasti, karena lokasi jualan yang strategis dan berkembang pelan-pelan tapi pasti pembeli roti bakar gerobakannya terus bertambah. Sampai akhirnya Eddy bisa mengembangkan usaha jadi lebih besar lagi. Menariknya, nama roti bakar Eddy awalnya hanyalah sebutan dari para pembeli loh!

 

Walau sempat jatuh bangun, bahkan pernah bangkrut tahun 1980-an, karena ada peraturan masyarakat dilarang keluar malam setelah pukul 21.00 pasca terjadinya peristiwa kerusuhan yang terjadi di wilayah Blok M dan sekitarnya. Namun yang namanya rezeki memang tak kemana. Sebab sekarang branding dari usaha roti bakar Eddy telah sukses besar.

Berawal hanya gerobak sederhana di jalan kawasan Al-Azhar Blok M, kini mendiang Eddy telah sukses mengembangkan usaha roti bakarnya yang punya khas roti besar, lembut, dan garing serta memiliki banyak isian ini dengan membuka cabang kedai di mana-mana.

(Baca Juga:Setelah Dibeli Sultan, Warung Pecel Lele Mbah Hohok Laris Manis)

Diketahui, sekarang kurang lebih ada sembilan cabang warung roti bakar Eddy dengan mempekerjakan puluhan karyawan sudah menyebar ke wilayah Blok-M, Ciputat, Senayan, dan Mampang, di bawah kepengurusan management Ariyadi putra ke-4 Pak Eddy. Sedangkan cabang warung roti bakar yang ada di Depok, Cibubur, dan Pondok Gede dikelola oleh salah satu putri mendiang Eddy, Risdiyanti dengan manajemen dan konsep yang berbeda. Demikian seperti dihimpun Okezone, Rabu (10/10/2018) dari berbagai sumber.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini