nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sebelum Dirikan Kampung Buruh, Ini Cerita Maizidah Salas soal Kelamnya Buruh Migran

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 11 Oktober 2018 17:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 11 196 1962662 sebelum-dirikan-kampung-buruh-ini-cerita-maizidah-salas-soal-kelamnya-buruh-imigran-p5aBFsStMd.jpg Kekerasan Wanita (Shutterstock)

SEMALAM para tamu undangan dan peserta Rapat Koordinasi Nasional Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (GT PP-TPPO) tahun 2018 kompak tertegun. Kisah kelam kehidupan buruh migran yang semula hanya terdengar lewat pemberitaan kini dituturkan di depan mata oleh orang yang mengalami.

Hadirnya Maizidah Salas, seorang mantan buruh migran yang sekarang menginspirasi dan bertekad menekan angka perdagangan manusia, semalam seolah menampak sekaligus membukakan mata para tamu dan peserta GT PP TPPO 2018. dia menceritakan dari awal alasan dan kisahnya selama menjadi buruh migran.

"Waktu itu dijadikan pekerja rumah tangga tugasnya jagain nenek buta. Setelah di penampungan tidurnya di lantai, enggak boleh keluar, makan diambilkan, tidur berdesakan, ada sekira 188 dalam satu ruangan, jadi berjejalan. Selama tiga bulan belajar bahasa, memasak, saat mau berangkat tas digeledah, enggak boleh bawa HP atau nomor telepon, pakaian seksi, mukena, Alquran," ujar Maizidah Salas, saat malam ramah tamah GT PP TPPO 2018, palangka Raya, Kalimantan Tengah.

 Baca juga: Tidur Siang di Kantor, Membuat Pegawai Lebih Cerdas Ambil Keputusan

Lanjut Salas, saat sudah berada di Taiwan, dia dipekerjakan di agensi selama tiga bulan namun tidak dibayar. Hingga bertemu dengan majikannya, ternyata rumah yang harus dia urus empat lantai dan tidak ada nenek buta seperti cerita awal agensi, penghuni rumah pun dewasa semua, pekerjaan Salas dimulai sejak pukul 4 pagi hingga 1 malam non-stop, tidak ada istirahat, tidak boleh ngomong pada orang selain anggota keluarga, tidak boleh salat, sarapan hanya makan mi instan dan telur.

"Tugas saya mencuci dan memasak babi karena majikan punya resto. Pekerjaan rumah dikerjakan semua. Setelah makan malam ke pasar sampai jam 11 malam, lalu nyuci nyetrika baru tidur. Tiap bulan saya tanda tangan tapi enggak dibayar. Peristiwa itu terjadi sekira tahun 1996, di majikan pertama saya bekerja tiga bulan," imbuhnya.

Tidak cukup sampai di situ, sebab kelamnya hidup Salas pun terus berlanjut hingga ia berbuat kesalahan saat membuat acar kol yang difermentasi, karena kesalahan resep yang diterimanya dari agensi Indonesia. Salas harus menerima cacian dari anak perempuan majikannya yang ia tidak mengerti bahasanya, juga dijejali acar kol yang sebelumnya ditumpahkan ke lantai.

 Baca juga: Ditilang Malah Ajak Polisi Seks Threesome, Selebgram Seksi Ini Tanggung Akibatnya

"Dulu gaji masih 14.800 dalam mata uang Taiwan, sekira Rp4.7 juta tapi nggak saya terima. Lalu, berlanjut ke majikan ke dua yang cukup baik, saya bangun jam 7-8, tidak masak karena mereka cuma berdua, tugas saya hanya jaga anjing 4 ekor, tapi nggak mandiin, hanya beri makan, buang kotoran, dan bersih bersih rumah," ungkapnya.

 Maizidah Salas (VoA)

Tiba-tiba majikan Salas meluk dan mengatakan tidak ingin Salas pulang, ternyata agensi menyuruh Salas kembali ke Indonesia. Lalu, nasib tragis lagi-lagi didapatkan Sala, perjalanan dari majikan kedua ke agensi, ia nyaris diperkosa. Salas yang punya hp diberikan oleh majikannya, tiba-tiba bunyi lantas ia dipukuli karena peraturannya buruh imigran tidak boleh memiliki hp.

"Besok paginya ke bandara, tapi saya telepon temen saya tidak mau dipulangkan, karena tidak membawa uang dan punya utang untuk berangkat, jadi tidak berani bilang ke orangtua. Namun, agensi tetao menuntut memulangkan, dibawalah saya ke kantor agensi, semuanya marah-marah, saya bertahan mikirnya ada anak kecil yang harus dibesarkan, saya ngotot masih ingin kerja, akhirnya jadi TKI ilegal di sana," ujar Salas.

 Baca juga: Deretan Wanita Tercantik Dunia Sepanjang Masa, Siapa Sajakah?

Kelamnya hidup di luar negeri tidak serta merta terhenti, sebab justru kian luar biasa pengalaman pahit yang dialami Salas. Ia bekerja satu bulan tapi tidak dibayar si agensi gelap, beberapa kali diancam agensi. Sampai tiba pada satu titik, ketika ia tidak bekerja sehingga ia tidak punya tempat tinggal, dan harus menumpang di tempat tinggal (mes) laki laki, yang mengharuskannya menyerahkan diri pada laki-laki yang ia tumpangi.

"Pernah pula tidur di sawah, untuk menyambung hidup makan makanan tester. Setelah sekira 4 tahun 7 bulan baru kembali ke Indonesia. Saat itu, ada temen dari Hongkong. Saya belajar berorgansisasi, kampanye di pabrik-pabrik, tentang hak hak pekerja," ujarnya.

Sekarang, Salas sudah berdikari, dia mantan buruh imigran yang sempat mengalami kelamnya hidup di negeri orang itu gencar menyebarkan dan mengedukasi masyarakat tentang peraturan, hak, dan dampak bekerja sebagai buruh imigran di luar negeri. Dia pun menemukan beragam cara untuk mewujudkan misi dan visinya itu, hingga membangun kampung buruh imigran dan mendapatkan banyak penghargaan.

"Bagi saya menjadi pekerja imigran bukan pilihan, tapi karena keterpaksaan. Motivasi saya ingin usia saya bermanfaat bagi banyak orag dan tidak ingin orang lain mengalami hal yang sama. Semua ini dilakukan untuk edukasi dan kampanye agar remaja tidak mudah diiming-imingi," pungkasnya

 Baca juga: Di Negara Ini, Kamu Bisa Tahu Perempuan yang Masih Perawan Hanya dengan Lihat Gaya Rambutnya!

Salas telah melewati masa kelamnya, tapi masih ada banyak Salas-salas lain yang belum terungkap kasusnya. Bahkan, kini modus perdagangan manusia malah memiliki ragam cara dengan iming-iming yang semakian membuai telinga para korban.

"Modus sekarang adalah menjadi duta-duta dan beasiswa di luar negeri, sedangkan modus yang ada di dalam negeri contohnya anak jalanan, jadi itu anak termasuk TPPO. Sekarang lagi bencana di medsos disebarkan anak tanpa orangtua hubungi nomor telpon yang dituliskan, ini termasuk TPPO juga," ungkap Ir. Destri Handayani, ME, Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dari Tindak Pidana Perdagangan Orang, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.

Destri mengungkapkan pula sekarang sedang marak remaja yang menjual temannya sendiri. Mereka menawarkan temannya pada laki-laki hidung belang, mirisnya semua itu dilakukan demi memenuhi gaya hidup.

"Kita pun harus berhati-hati modus yang ada di dalam negeri, kalau pada TKI sudah mulai banyak upaya untuk mencegah. Nah, kalau kasus yang dalam negeri ini bahkan ada orangtua yang menjual anaknya sendiri pun banyak," pungkasnya.

(ful)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini