nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Modus Perdagangan Orang Terselubung, Sistem Gugus Tugas Tindak Pidana Perdagangan Orang Belum Maksimal

Annisa Aprilia, Jurnalis · Kamis 11 Oktober 2018 18:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 10 11 196 1962726 modus-perdagangan-orang-terselubung-sistem-gugus-tugas-tindak-pidana-perdagangan-orang-belum-maksimal-r2nEbguqgb.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

INDONESIA menjadi salah satu negara tujuan para mafia perdagangan orang mencari mangsanya. Sayangnya, kasus yang merendahkan hak asasi manusia ini sangat sulit untuk diberantas sampai ke akarnya.

Bahkan, untuk menekan angka kasus kejadiannya pun, pemerintah kewalahan menanganinya. Padahal, sudah ada sistem gugus tugas untuk menangani masalah yang sangat serius dan fatal dampaknya tersebut.

"Tindak pidana perdagangan orang adalah masalah trans nasional dan international crime, yang betul-betul melanggar dan menginjak HAM. Sampai sekarang belum terjawab, malah semakin meningkat di mana-mana walau sudah ada sistem gugus tugas tindak pidana perdagangan orang, dengan Bu Puan sebagai ketua nasional, saya ketua harian, namun masih banyak masalah," ungkap Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, dalam acara Rapat Koordinasi Nasional Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Tindak Pidana Perdagangan Orang (GT PP-TPPO) Tahun 2018, Working in Harmony, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Kamis (11/10/2018).

Yohana membeberkan seringnya media menanyakan padanya saya soal tindak pidana perdagangan orang yang terjadi di Indonesia. Namun, dirinya sendiri yang bagian dari gugus tugas sebenarnya tidak paham, karena tindak perdagangan manusia adalah konspirasi yang dilakukan oleh para mafia yang terselubung dan pintar bermain di lapangan.

 (Baca Juga:Pasangan yang Ngobrol Pakai Kata 'Kami' & 'Kita' Cenderung Lebih Bahagia)

"Calo yang masuk ke dalam keluarga menyampaikan tawaran menarik akan bekerja di perusahaan besar, namun hasilnya setelah saya mengunjungi beberapa negara kantung TKI yang di dalamnya ada tindak pidana perdagangan orang banyak yang berakhir di shelter dan siap dikembalikan ke Indonesia. Itu membebani pemerintah juga kedubes mengeluh, itu lah yang terjadi di lapangan," imbuhny.

Berdasarkan pemaparan Yohana, Indonesia sendiri memiliki lima provinsi besar yang menjadi pusat perdagangan orang, yaitu Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, NTT, dan NTB, yang harus jadi perhatian. Selain di kelima provinsi tersebut, Yohana menuturkan masih ada praktik perdagangan orang di tempat lain, seperti daerah lokalisasi, tempat pijit plus yang merupakan jenis perdagangan manusia yang ditemui sekarang di Indonesia.

 (Baca Juga:Nenek Paling Seksi di Dunia Ini Dilarang Tampil di Media Sosial, Kenapa Ya?)

"Sinergitas dari provinsi, kota, dan kabupaten, serta daerah-daerah masih belum berjalan maksimal, beberapa daerah dilaporkan bila terjadi perdagangan orang dan korban anak dan perempuan dikembalikan masih sepihak saja belum ada kerjasama untuk menangani kasus termasuk mengembalikan korban ke daerah masing masing. Jadi saya pada saat ini mengharapkan melalui rakornas coba lihat kembali program yang sudah dibuat dan evaluasi, apa yang sudah dilakukan, dampak seperti apa, outcome seperti apa, saya lihat kasus yang kita tangani yang belum muncul dipermukaan adalah tindak pidana perdagangan orang," ujarnya.

Lebih lanjut, Yohana mengatakan pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) reupblik Indonesia dan kementerian terkait belum berani menangkap konspirasi para mafia perdagangan orang. Alasannya karena untuk mengungkap dan menangkap itu butuh banyak strategi dan tidak boleh asal. Menteri yang lebih akrab disapa Mama Yo ini juga mengajak masyarakat untuk membangun kembali komitmen dan melihat apa yang harus sama-sama dilakukan.

"Tindak pidana perdagangan orang sangat kurang padahal sistem gugus tugas sudah ada bagian penanganan tindak pidana perdagangan orang. Saya mau mengajak kita semua serius untuk melakukan program yang sudah dibuat dan melakukan upaya sekeras mungkin agar pelaku ditangkap," pungkasnya.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini