nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gizi Masyarakat Indonesia Menurun, Ini Penyebabnya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Kamis 11 Oktober 2018 15:45 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 10 11 481 1962659 gizi-masyarakat-indonesia-menurun-ini-penyebabnya-JLkLRLp19r.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

INDONESIA terkenal akan kekayaan laut dan menjadi negara penghasil ikan di dunia. Meski demikian, masyarakat Indonesia sendiri masih tidak menaruh perhatian lebih untuk rajin mengonsumsi ikan. Mereka cenderung cuek dan mengabaikan potensi kekayaan alam yang dimiliki Indonesia.

Alhasil, penyakit stunting pun banyak menimpa sebagian masyarakat yang ada di Indonesia. Stunting yang kerap disebut kekerdilan, terjadi karena kurangnya gizi yang diserap oleh tubuh. Padahal, cukup dengan rajin mengonsumsi ikan, maka risiko stunting di Tanah Air bisa diminimalisir.

Meski demikian, kesalahan tidak sepenuhnya terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat. Faktor lain, seperti pendidikan dan faktor distribusi yang kurang baik juga memainkan peran dalam kasus ini. Distribusi yang kurang baik dan juga cara menyimpan ikan yang tidak benar, akan membuat kualitas ikan menurun dan membuat masyarakat malas membelinya.

 (Baca Juga:Cegah Anak Stunting dengan Rajin Makan Ikan)

Sebagaimana diketahui, setiap tahunnya, tingkat kerugian pasca-panen ikan segar yang diderita Indonesia bisa mencapai 25 persen. Hilangnya makanan ini berarti membuat masyarakat Indonesia kehilangan sumber nutrisi yang diperlukan oleh tubuh.

 

Setiap tahunnya masyarakat Indonesia kehilangan hingga 16.500-27.500 metrik ton protein ikan. Hal inilah yang membuat pemerintah miris dengan situasi yang dialami Indonesia saat ini.

Untuk mencari solusi dari masalah ini Indonesia-Postharvest Loss Alliance for Nutrition (I-PLAN) berusaha mencari solusi dan inovasi untuk mengurangi hilangnya nutrisi di sepanjang rantai pasokan pangan. I-PLAN bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kementerian Kelautan dan Perikanan Indonesia untuk memerangi masalah ini.

 (Baca Juga:Kenali Jenis-Jenis Kanker pada Pria, Apakah Kamu Termasuk?)

Direktur Pemasaran Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Machmud, menegaskan faktor pengetahuan masyarakat akan distribusi yang kurang baik menimbulkan tingginya tingkat kerugian pasca-panen.

“Pada dasarnya tingkat kerusakan atau susut nilai disebabkan karena distribusi yang salah. Kerugian pasca-panen dibagi menjadi dua, volume loss dan quality loss. Volume loss bisa terjadi akibat kurang hati-hatinya pengiriman sehingga membuatnya berjatuhan sehingga mengurangi volume barang tersebut. Sementara quality loss terjadi karena kesalahan dalam menjaga kualitas bahan pangan yang membuatnya rusak dan tidak dapat dikonsumsi,” tutur Machmud, saat diwawancarai Okezone, Kamis (11/10/2018).

Menurut Machmud, masyarakat Indonesia banyak yang tidak memahami cara yang benar dalam mendistribusikan bahan pangan dengan baik. Alhasil banyak sekali bahan pangan yang harus terbuang sia-sia.

“Masyarakat Indonesia banyak yang salah saat mendistribusikan bahan pangan (ikan). Beberapa dari mereka justru tidak menggunakan es sebagai bahan pengawet alami. Padahal distribusi ikan tersebut sangat membutuhkan es. Beberapa nelayan bahkan mengatakan dagangannya malah menjadi tidak laku karena menggunakan es. Alhasil banyak ikan yang membusuk dan sudah tidak segar selama proses pengiriman,” lanjutnya.

Tak hanya itu, Machmud juga menjelaskan faktor lain yang membuat penjualan ikan di Indonesia menjadi kurang populer. Semuanya adalah karena stigma masyarakat yang negatif tentang ikan yang dimiliki Indonesia.

“Masyatakat Indonesia terlalu gengsi dan telah memiliki sebuah stigma yang salah. Nyatanya bukan hanya ikan salmon saja yang memiliki nutrisi tinggi. Beberapa ikan di Indonesia pun memiliki nutrisi yang tak kalah baiknya dengan salmon. Ikan di Indonesia sangat bervariasi, sehingga akan ada banyak pilihan untuk Anda,” tutup Machmud.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini