nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kekerasan Fisik dan Seksual Masih Ancam Perempuan

Annisa Aprilia, Jurnalis · Jum'at 12 Oktober 2018 17:00 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 10 12 196 1963138 kekerasan-fisik-dan-seksual-masih-ancam-perempuan-YUAPkMbuRj.jpg Ilustrasi (Foto: Shutterstock)

PEREMPUAN telah sejak lama dianggap sebagai kaum yang lemah dan minoritas. Keberadaannya di masyarakat kerap dinilai hanya sebagai orang yang mengurus rumah, tanpa perlu mengecap pendidikan tinggi.

Pola pikir seperti inilah yang kemudian memberikan dampak buruk bagi kehidupan kaum perempuan. Mereka jadi dipandang sebelah mata karena tidak bisa dan mengerti banyak hal, sehingga terjadilah kasus kekerasan, yang sampai kini angka kejadiannya cukup tinggi, dan membuat pilu hati.

“Kasus kekerasan berbasis gender masih relatif tinggi, baik yang terjadi di area domestik maupun publik. Begitu juga dengan lokus, baik di dalam rumahnya sendiri, tempat bekerja, situasi darurat dan kondisi khusus seperti daerah bencana dan kalangan disabilitas, yaitu penyandang cacat dan lansia,” ujar Sekretaris Deputi Perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Prijadi Santoso saat menjadi narasumber pada Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Bidang Perlindungan Hak Perempuan Regional Wilayah Tengah Indonesia di Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

 (Baca Juga:Usai Royal Wedding, di Mana Tempat Tinggal Putri Eugenie dan Jack Brooksbank?)

Tidak tanggung-tanggung, kasus kekerasan fisik dan seksual telah dialami oleh sebagian perempuan saat usianya masih sangat muda. Menurut Survei Pengalaman Hidup Perempuan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bersama dengan Kemen PPPA, diungkapkan ada sekira 18,3 persen perempuan usia 15-64 tahun telah mengalami kekerasan fisik dan seksual. Uniknya, kekerasan ini dilakukan tidak hanya oleh pasangan tapi juga orang yang bukan pasangan, dalam periode 12 bulan terakhir maupun semasa hidupnya.

Angka lainnya mengungkapkan, kasus kekerasan fisik yang terjadi sekira 12,3 persen dalam rumah tangga alias KDRT dan 10,6 persen merupakan kekerasan seksual. Sementara itu, sekira 20,5 persen perempuan masih mengalami kekerasan emosional atau psikologis yang berupa tindakan mengancam, memanggil dengan sebutan yang tidak pantas dan mempermalukan pasangan, menjelek-jelekkan dan lainnya.

Ada pula sekira 24,5 persen perempuan terperangkap dalam kekerasan ekonomi dengan meminta pasangan untuk mencukupi segala keperluan hidupnya dan memanfaatkan atau menguras harta pasangan. Sekira 42,3 persen perempuan pun tercatat mengalami pembatasan aktivitas oleh pasangannya.

 (Baca Juga:Hal Ini Menjadi Sakral di Pernikahan Anggota Kerajaan Inggris, Khususnya bagi Ratu Elizabeth!)

Dalam pemaparannya Prijadi mengungkapkan, kekerasan kerap terjadi di daerah rawan bencana dan konflik. Perempuan lagi-lagi menjadi kaum yang lebih rentan dan sering mengalami kekerasan akibat masih rendahnya pemahaman dan perspektif tentang perempuan oleh para pihak yang terlibat, sehingga diperlakukan sama, bahkan lebih buruk dengan laki-laki.

“Begitu juga di ranah ketenagakerjaan, sering terjadi berbagai kasus pelanggaran hak dan masih adanya perlakuan diskriminasi terhadap pekerja perempuan dalam berbagai aspek baik bagi mereka yang bekerja di dalam negeri maupun di luar negeri,” papar Prijadi.

Tidak tinggal diam, pemerintah pun melakukan upaya untuk menekan angka kasus kekerasan pada perempuan. Kementerian PPPA melalui Deputi Perlindungan Hak Perempuan menyelenggarakan Rakortek dengan tema mewujudkan Perlindungan Hak Perempuan yang Komperehensif.

“Saya berharap Rakortek ini dapat menciptakan komitmen dari para pemangku kepentingan, baik di pusat maupun daerah terhadap implementasi kebijakan perlindungan hak perempuan dengan memperkuat koordinasi, sinkronisasi kebijakan, standarisasi, kualitas pelayanan, serta menjadi masukan bagi Kabinet Pemerintahan mendatang,” tukas Prijadi.

(tam)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini