nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hal Ini yang Membuat Pemenuhan Gizi di Masyarakat Indonesia Masih Kurang

Tiara Putri, Jurnalis · Jum'at 12 Oktober 2018 21:13 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 12 481 1963412 hal-ini-yang-membuat-pemenuhan-gizi-di-masyarakat-indonesia-masih-kurang-yZa2udbpf8.jpg Makanan sehat dan tidak sehat (Foto: Lifescapepremier)

TINGKAT literasi masyarakat Indonesia masih tergolong cukup rendah apabila dibandingkan dengan negara lain. Padahal literasi diperlukan agar masyarakat bisa mengambil keputusan dengan tepat. Termasuk soal memenuhi kebutuhan gizi dari makanan.

"Berbagai studi menunjukkan pengetahuan gizi sangat memengaruhi persepsi, pemilihan, dan pola makan masyarakat. Literasi gizi di Indonesia masih rendah sehingga masyarakat mudah termakan hoaks," ungkap Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD saat ditemui Okezone dalam acara 'MilkVersation : Pentingnya Memahami Literasi Gizi dan Konsumsi Pangan Berkualitas untuk Pemenuhan Gizi Seimbang' yang diselenggarakan oleh Frisian Flag Indonesia, Jumat (12/10/2018) di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

Menurut Prof. Sulaeman, semakin meningkat literasi gizi seseorang maka gizinya semakin berkualitas. Sayangnya pengetahuan masyarakat yang kurang tentang gizi membuat mereka sering salah memahami tentang makanan yang dikonsumsi. Sebut saja terkait hal-hal tabu dan larangan, prioritas makanan yang keliru, membiarkan anak ke sekolah tanpa sarapan, takut menggunakan penyedap, mengalami kelaparan padahal makanan melimpah, hingga ungkapan belum makan kalau belum ada nasi.

BACA JUGA:

Beredar Foto yang Diambil pada Tahun 1940, Ada Sosok yang Bikin Geger Jagad Maya!

Indonesia sebenarnya adalah negara terkaya kedua di dunia untuk keanekaragaman hayati. Setidaknya ada 77 jenis pangan sumber karbohidrat, 75 jenis pangan sumber protein, 26 jenis kacang-kacangan, 228 jenis sayuran, dan 389 jenis buah-buahan. Jumlah yang cukup banyak itu sebenarnya dapat memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari bila dikombinasikan dengan tepat.

 

Namun pola konsumsi masyarakat belum selaras dengan keanekaragaman. Kebanyakan hanya mengonsumsi makanan yang itu-itu saja dan tidak berdasarkan pada angka kecukupan gizi. Sebagai contoh, masyarakat memahami bila nasi adalah sumber karbohidrat. Saat tidak ada nasi, mungkin ada yang merasa bingung cara untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat. Padahal masih ada kentang, ubi, singkong, dan jagung yang merupakan sumber karbohidrat juga.

Kondisi inilah yang kemudian memengaruhi angka kecukupan gizi masyarakat. Kekurangan atau kelebihan gizi dapat berdampak pada kesehatan jangka panjang.

"Apa yang dimakan memberi dampak fisik dan psikis pada tubuh. Untuk meraih pemenuhan gizi seimbang dibutuhkan literasi gizi yang baik agar seseorang paham dengan kandungan nilai gizi dari makanan dan minuman yang dikonsumsi," jelas profesor yang juga seorang Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi di Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.

Oleh karenanya, sangat penting bagi masyarakat untuk memahami tentang kandungan nilai gizi dasar serta takaran dan proporsi yang tepat dari makanan dan minuman sedini mungkin. Literasi gizi ini pun bisa didapatkan melalui media atau guru. "Media dapat membantu menginformasikan tentang nilai gizi makanan. Selain itu di sekolah guru juga bisa memberi tahu melalui pendidikan gizi di sekolah. Semua siswa harus mendapatkannya baik di pedesaan maupun perkotaan," pungkas Prof. Sulaeman.

(dno)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini