nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tren Make-up pada Anak-Anak Menghantui Orangtua, Benar Bahayakah?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 15 Oktober 2018 15:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 10 15 194 1964190 tren-make-up-pada-anak-anak-menghantui-orangtua-benar-bahayakah-4a4cqRoLh2.jpg Anak Sedang Make-Up (Foto: Nypost)

APAKAH Anda menikmat Youtube atau media sosial lainnya? Jika iya, jangan heran kalau sekarang ini makin banyak anak-anak yang "masuk terlalu dalam" pada dunia ini.

Salah satu efeknya adalah meningkatnya tren make-up pada anak-anak yang mana ini diperkirakan bersumber dari apa yang mereka lihat di media sosial, di mana perempuan itu cantik dengan make-up.

Salah satu kasus yang paling menggemparkan datang dari keluarga Kim Kardashian. North yang masih berusia 5 tahun sudah dikenali make-up dan ini yang kemudian membuat banyak orangtua mengecam Kim Kardashian atas perbuatannya.

Lalu, jika melihat kasus ini lebih luas, Anda akan melihat di beberapa Youtube channel ada sekelompok anak-anak di bawah 10 tahun yang sudah memiliki channel sendiri di mana di sana mereka mencoba berbagai jenis make-up yang mereka beli sendiri.

Baca Juga:

Sebut saja Molly yang berusia 7 tahun yang sudah cukup baik memoles wajahnya dengan make-up. Aksi Molly bisa Anda lihat di channel Youtube; Courtney McCutcheon atau di Instagram @lipglos_and_crayons. Dari Youtube itu juga, Molly kini mengantongi uang $ 12,000 atau sekitar Rp 183 juta per tahunnya!

"Produk favorit saya adalah lipstik dan eye shadow berkilauan," kata Molly kepada New York Post yang dikutip Okezone, Senin (15/10/2018). "Dan aku benar-benar suka memerahkan pipi karena itu membuat pipiku menonjol," sambungnya.

Kasus lainnya datang dari bocah 5 tahun bernama Zara dengan nama akun media sosial Yoshidoll. Akun Youtubenya sudah diikuti 132.000 pengikut dan ini bukan angka yang sedikit.

"Putriku memiliki Caboodle sendiri penuh dengan barang-barang yang akan dia kenakan di rumah," kata ibunya, Ellarie Noel, seorang influencer kecantikan. Dia mengatakan dia membatasi penggunaan kosmetik putrinya di rumah dan tidak membiarkan dia memegang tongkat maskara sendiri.

Berbeda dengan Molly, Zara per tahunnya bisa menghasilkan uang sebesar $ 20,000 atau sekitar Rp 304,1 juta! “Aku terlihat seperti Beyoncé!” kata Zara.

Nah, bagaimana kemudian psikolog melihat fenomena ini?

Okezone coba menanyakannya pada Psikolog Analisa Widyaningrum dan menurutnya hal ini memang menjadi kekhawatiran tersendiri untuk semua orangtua. Tapi, yang mesti diketahui adalah orangtua mesti sadar bahwa apa alasan si anak melakukan hal tersebut.

"Tidak bisa dipungkiri, di usia anak-anak mereka sangat suka eksplorasi diri atau juga meniru perilaku orangtuanya. Nah, kalau memang si anak ini suka meniru orangtua dalam hal make-up, jangan dihentikan, tapi coba dikelola dengan baik," kata Psikolog Analisa saat diwawancarai Okezone beberapa hari yang lalu di Gandaria City Jakarta.

Psikolog Analisa menjelaskan lebih lanjut, pengembangan kreativitas anak bisa saja muncul dari apa yang dia pelajari. Dengan eksplorasi yang tentunya didampingi pembimbing, tentu ini bisa menjadi cara mengasah kemampuan si anak.

"Anak aku yang kedua suka ngeliat aku make-up, wajar kemudian dia tanya-tanya apa yang aku lakukan. Kalau pun dia pengin menjajalnya, saya membelikan make-up khusus anak-anak yang tentunya bahan dasarnya disesuaikan dengan kulit mereka yang sangat sensitif," ungkapnya.

Lebih lanjut lagi, menurut Psikolog Analisa, sebagai orangtua, Anda jangan langsung memberikan respon negatif ke anak ketika dia penasaran dengan make-up. "Ketika dia penasaran terhadap make-up, sebagai ibu harus bisa menahan respon negatif seperti; 'Oh no! Kamu kan masih kecil' tapi sebisa mungkin memberikan alasan atau pemahaman dengan bahasa semudah mungkin yang bisa dia pahami," papar Psikolog Analisa.

Dia coba memberikan contoh bagaimana respon yang sebaiknya diberikan orangtua; "Sini-sini boleh lihat," katanya. Jadi, bayar dulu rasa penasaran dia. Kemudian, jelasin kalau ini untuk mama. "Adikkan masih anak-anak, besok mama beliin yang khusus buat kamu, ya," tambahnya.

Ada alasan kenapa Psikolog Analisa memilih memfasilitasi anak dengan make-up khusus mereka bukan malah memarahinya.

"Jadi tuh akhirnya kita fasilitasi, karena kita nggak ada yang tau bakatnya di sini mungkin bisa jadi skill dia. Jangan kita bunuh kepingin tahuan dia untuk belajar sesuatu. Dukung saja terus, wajar anak kecil punya kepingintahuan yang tinggi," katanya lalu tersenyum.

(ren)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini