Diklaim Miss Grand International Malaysia? Ini Asal Usul dan Makna Motif Batik Parang

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 15 Oktober 2018 18:01 WIB
https: img.okezone.com content 2018 10 15 194 1964315 diklaim-miss-grand-international-malaysia-ini-asal-usul-dan-makna-motif-batik-parang-svZ89tjjKf.jpg Batik Parang (KRJogja)

AJANG Miss Grand International 2018 tengah menyita perhatian netizen Indonesia, lantaran kontestan asal Malaysia, Debra Jeanne Poh, terlihat mengenakan salah satu warisan budaya Indonesia.

Dalam salah satu foto yang Debra di akun Instagram pribadinya, ia terlihat berpose mengenakan busana batik bermotif parang dengan potongan yang terbilang berani yakni, crop top modern beraksen bell pada bagian lengan.

Meski tidak ada pernyataan atau klaim sepihak yang dilayangkan Debra, netizen Indonesia mengkritisi wanita asal Malaysia itu bahwa setidak harusnya ia mengenakan produk budaya suatu bangsa dalam ajang bertaraf internasional.

 Baca juga: Sederet Kesalahan saat Sarapan, Sering Kita Lakukan Tanpa Sadar

Apalagi motif batik yang ia kenakan memiliki sejarah panjang dan memiliki nilai-nilai yang sakral. Nah, untuk mengetahui lebih lanjut asal usul dan makna filosofis di balik motif Batik Parang, berikut Okezone rangkukam penjelasan lengkapnya, sebagaimana dilansir dari berbagai sumber, Senin (15/10/2018).

 Batik Parang (Google)

Batik Parang merupakan salah satu motif batik paling tua di Indonesia. Secara harfiah, Parang berasal dari kata Pereng yang berarti lereng. Kata ini secara tidak langsung menggambarkan motif batik Parang yang menyerupai sebuah garis menurun dari tinggi ke rendah secara diagonal.

Jika dilihat secara seksama, susunan motif S saling menjalin tidak terputus yang melambangkan kesinambungan. Bentuk dasar huruf S sendiri terinspirasi dari ombak samudera, menggambarkan semangat yang tidak pernah padam.

 Baca juga: Dikira Hanya Flu, Pria Ini Harus Kehilangan Kaki, Tangan dan Bibirnya

Menurut sejarahnya, batik Parang merupakan salah satu batik asli Indonesia yang sudah da sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo).

Batik ini memiliki nilai dan makna filosofis yang sangat tinggi, seperti yang sempat di jelaskan sebelumnya. Batik parang memiliki makna petuah untuk tidak pernah menyerah, seperti ombak laut yang tak pernah berhenti bergerak.

Garis diagonal lurus melambangkan penghormatan dan cita-cita, serta kesetiaan kepada nilai yang sebenarnya. Dinamika dalam pola parang ini juga disebut ketangkasan, kewaspadaan, dan kontituinitas antara pekerja dengan pekerja lain.

 Baca juga: Hari Cuci Tangan Sedunia, Cara Praktis Lepas dari Diare hingga Stunting

Pada awalnya, Batik Parang digunakan untuk acara pembukaaan, misalnya : Senapati yang ingin berperang agar pulang membawa kememangan. Selain itu, batik ini juga memiliki beberapa motif yang hanya dapat digunakan oleh kalangan tertentu. Misalnya motif Parang Rusak Barong yang diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Motif tersebut merupakan motif parang yang paling besar dan agung. Karena nilai-nilai kesakralannya, motif ini hanya boleh digunakan untuk para raja ketika sedang menjalani ritual keagamaan dan meditasi. Maknanya agar setiap raja selalu berhati-hati dalam setiap tindakan dan ucapannya (mengendalikan diri).

Secara keseluruhan, motif Parang Rusak Barong adalah induk dari semua motif parang yang berkembang saat ini, seperti Parang Klitik, Parang Slobog, dan Parang Kusuma.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini